Nusra Institute: Gubernur NTB Jangan Suka Klaim Data

Mataram, Talikanews.com – Direktur Nusra Institute L Pahrurrozi, pathakan data kunjungan wisatawan asing ke NTB mencapai 425 persen sejak Januari-September 2019 seperti disampaikan Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah.
Bagi Pahrurrozi, Dr Zul itu suka mengklaim bahwa banyak kemajuan termasuk peningkatan kunjungan wisatawan asing.
“Klaim sukses tuan Gubernur, padahal jumlah wisatawan asing berkurang, kok diklaim bertambah,” ungkapnya.
Dia mengaku, ada seorang “mantan” tim sukses Zul-Rohmi, kirim status tuan gubernur yang kurang lebih isinya terkait peningkatan kunjungan wisatawan Australia yang melonjak 425 persen, juga wisatawan Jerman tumbuh persen. Bahkan beredar beberapa infografis yang “dibanggakan” itu.
Kemudian membenarkan inisiatifnya (Dr-Zul) soal akses transportasi yang lebih penting dari mendandani Pantai atau Gunung. Dilanjutkan langkahnya dalam membangun ulang Pariwisata NTB sudah on the right track.
Bagi dia, ketika di telaah infografis yang disampaikan Gubernur itu, secara keseluruhan data kunjungan wisatawan asing berkurang 10,4 persen atau 22.970 wisatawan. Atau turun dari 220.003 menjadi 197.033.
Dari 7 negara yang ditampilkan infografisnya, kunjungan Lima negara berkurang, dan dua negara meningkat.
“Kan sudah jelas Kementrian Pariwisata memberikan “subsidi” bagi pariwisata NTB melalui AirAsia dan jumlahnya lumayan,” kata dia.
Menurut dia, pada berita resmi statistik yang diterbitkan 1 Oktober 2019 yaitu nomor 60 yang menyebut jumlah penumpang yang datang ke NTB, baik domestik maupun internasional. Pada periode Januari – Agustus 2019 dengan Januari – Agustus 2018, malah berkurang minus – 27,82 persen atau berkurang dari 1,4 juta penumpang menjadi 1 juta penumpang.
“Positifnya, jumlah penumpang Juli menuju Agustus meningkat sebanyak 5,26 persen. Kalau ini dijadikan alasan memang lumayan peningkatan,” ujarnya.
Oleh sebab itu, dirinya menyarankan supaya Gubernur kurangilah kebiasaan memframe informasi. Karena itu dapat mengelabuhi diri sendiri.
“Orang pun maklum, NTB habis gempa, jadi ada tekanan pada industri pariwisata,” sarannya.
Yang mestinya diajukan pertanyaan lanjutnya, mengapa Australia-Jerman bisa meningkat sementara yang lainnya tidak? Mengapa kunjungan dua negara itu meningkat pasca gempa? Jawaban pertanyaan ini bisa menjadi terobosan kebijakan. Tapi jangan simplifikasi menjadi direct flight sebagai dalil utama.
“Emangnya Jerman-Lombok ada direct flight, tapi kok bisa tumbuh positif?. Emangnya semua negara mau dibikinkan direct flight juga? Apa ke Korea juga mau dibuat direct flight, biar beasiswanya lancar?,” sentilnya.
Bagi dia, jangan lupa bahwa korban gempa masih banyak yang belum memiliki kepastian. Bahkan berdasarkan surat BNPB, apabila sampai 25 Desember 2019, masih ada kekurangan dana stimulan maka itu akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
“Mari menatap lebih optimis, tanpa framing yang overdosis dan simplifikasi persoalan,” tutupnya (TN-04)





