Penyerangan Berdarah di Landah Diduga Lantaran Polres Loteng Lamban Menindaklanjuti Laporan Warga

Lombok Tengah, Talikanews.com – Malam kedua bulan suci ramadhan di nodai bentrokan berdarah dua keluarga di Desa Landah Kecamatan Praya Timur yakni keluarga Dedy Cs melawan keluarga Kimban CS, Selasa Malam, 13 April 2021.

Bentrokan berdarah itu terjadi lantaran sengketa lahan keluarga Dedy Cs dengan keluarga KM Cs yang tak kunjung selesai meski persoalan itu telah dilaporkan ke Polres Loteng hampir empat bulan yang lalu.

“Ini akibat aparat kepolisian lamban tangani laporan kami. Padahal, kami sudah menjelaskan, jika tidak segera ditindaklanjuti maka akan terjadi pertumpahan daerah. Sayangnya, keluhan kami tidak di indahkan,” ungkap Dedy AZ, Rabu 14 April 2021.

Dedy adalah salah satu dari keluarga korban menuturkan, bentrokan yang terjadi Selasa malam sekitar pukul 20.30 wita, lantaran KM mondar mandir di depan rumah korban mengunakan sepeda motor sambil menantang dan membawa senjata tajam serta melakukan pengerusakan pagar rumah.

“Sebelum bentrok terjadi, KM menantang sambil membawa senjata tajam dan merusak pagar rumah keluarga kami, setelah pemilik rumah keluar, KM bersama keluarganya langsung menyerang dan akhirnya terjadi bentrokan berdarah,” ujar Dedy.

Akibat dari bentrokan berdarah itu, beberapa orang luka sobek terkena senjata tajam di kepala, leher, kaki dan tangan, saat ini korban dari kedua belah pihak masih di berikan perawatan di Puskesmas terdekat.

“Karena bentrokan, tentu korban pasti ada dan saat ini sudah di berikan perawatan,” kata Dedy

Dedy menilai bentrokan ini terjadi lantaran aduan yang disampaikan ke Polres Loteng sekitar empat bulan yang lalu tak kunjung selesai dan bertele-tele tanpa ada tindakan tegas. Padahal, kejadian pengerusakan dan pengancaman ini berulang ulang terjadi dengan pelaku yang sama juga.

“Persoalan pengerusakan ini sudah sering dilakukan oleh pelaku yang melakukan penyerangan, dan sudah kita adukan persolan ini ke Polres Loteng tapi belum ada tindakan tegas,” keluhnya

Ia juga mengakui sebelum bentrok ini terjadi pihaknya sudah dua kali mengingatkan Polres Loteng tentang potensi bentrok. Bahkan secara pribadi pihaknya dua kali menemui Kasat Reskrim Lombok Tengah untuk menceritakan segala intimidasi dan provokasi yang terus menerus dilakukan oleh para pelaku ini.

“Intinya sudah lama kami ingatkan Polres melalui Kasat Reskrim tentang potensi bentrok warga ini, tapi tidak terlalu ditanggapi dengan serius. Kami juga heran kenapa tidak ada langkah konkret yang bersifat preventif dilakukan oleh Polres Loteng terhadap kasus yg kami laporkan ini,” ujarnya Dedy

Terkait hal itu, Kapolres Lombok Tengah, AKBP Estys Setyo Nugroho melalui Humas menyampaikan peristiwa bentrok atau perkelahian antara dua kelompok keluarga dilatar belakangi permasalahan lama yaitu sengketa lahan.

“Kejadian tadi malam itu bukan penyerangan atau perang kampung, ini murni masalah sengketa lahan karena kedua belah pihak masih ada hubungan keluarga,” kata Kapolres di Praya.

Ia menjelaskan, salah satu pelaku inisial AW Als. KH yang berada dari pihak selatan sebelum kejadian melakukan kebut-kebutan menggunakan sepeda motor sambil teriak-teriak, sehingga memancing pihak utara untuk keluar.

Setelah pihak utara keluar ke jalan, pihak keluarga AW atau KH yang dari selatan merespon balik dan keluar sambil membawa senjata tajam dan melakukan pelemparan ke arah rumah pihak keluarga.

“Akibat kejadian itu, sekitar 10 orang dari pihak selatan maupun utara yang menjadi korban dan mengalami luka-luka ringan,” ujarnya.

Mengetahui peristiwa itu, personel dari Polres dan Polsek melakukan pengamanan di sekitar lokasi serta melakukan upaya penggalangan bersama tokoh masyarakat terhadap kedua belah pihak.

“Kita lakukan pendekatan bersama tokoh-tokoh terhadap kedua belah pihak, untuk mengantisipasi konflik yang berkelanjutan,” jelasnya.

Terkait perkara sengketa lahan itu yakni laporan pengerusakan atau penggeregahan yang dilaporkan oleh salah satu pihak, Polres Lombok Tengah sendiri sudah melakukan proses terhadap laporan tersebut bahkan saat ini dalam proses penetapan tersangka.

“Karena masih ada hubungan keluarga, kita pernah beberapa kali melakukan upaya perdamaian antara keduanya, namun sampai saat ini belum ada titik temu,” tutup Esty. (TN-03)

Related Articles

Back to top button