Apa Bedanya Kasus Perusakan Lahan dengan Kasus Empat IRT ?, Pelapor Keluhkan Kinerja Polres Loteng

Lombok Tengah, Talikanews.com – Dua orang pelapor dugaan pengerusakan dan perampasan lahan yakni, Dedi Afriadi Zulkarnaen dan Hasanudin warga Dusun Mengkudu Lauk, Desa Landah Kecamatan Praya Timur, Loteng mengeluhkan kinerja Polisi dalam menanggapi laporan pengerusakan tanaman dan lahan yang merugikan kurang lebih Rp 100 juta.

Salah satu pelapor yakni Hasanuddin menyebut Polisi kurang merespon laporan masyarakat. Hal itu dikatakannya karena, 24 Desember 2020 Jombang telah melapor ke Polres nomor : STTLP/598.a/ XII/2020/NTB/Res.Loteng.

Namun, hingga saat ini belum ada upaya Polisi menindaklanjuti laporan tersebut, sehingga kinerjanya patut di pertanyakan.

Selaku ahli waris dari Kimbang, yakni Hasanudin menegaskan, sudah hampir 2 bulan perkara yang di laporkannya belum menuai hasil. Padahal pelakunya sudah jelas dan didepan mata, bahkan sering membuat onar di Kampung. Dasar itu membuatnya menilai Polres Lombok Tengah lamban dalam menangi perkara.

“Kami merasa kasus ini digantung oleh pihak Polres Lombok Tengah, buktinya tidak ada tindak tegas terhadap pelaku yang masih berkeliaran, membuat kami jadi tidak tenang,” ujarnya, Sabtu 27 Februari 2021.

Dia mengaku, kalau tidak salah, laporan yang diadukan ke Polres, terdaftar tanggal 24 Desember 2020, bersamaan dengan aduan yang dilaporkan pemilik Pabrik Tembakau UD Mawar Putra itu dengan dituduhkan dugaan pengerusakan oleh Ibu Rumah Tangga sehingga dikenakan pasal 170 ayat 1 KUHP.

Anehnya, kasus Ibu Rumah Tangga yang bisa dibilang tingkat kerusakan kecil, lebih diprioritaskan dibandingkan laporan yang dilayangkan justru merusak banyak tanaman.

Oleh sebab itu, dirinya mempertanyakan apa yang menjadi pertimbangan Polres Loteng begitu cepat menetapkan tersangka pada kasus 4 IRT dibandingkan laporannya, kalau dihitung tingkat kerugian malah jauh lebih besar kerugiannya.

“Kasus 4 IRT itu cepat ditetapkan tersangkanya. Padahal dilihat dari nilai kerugian sekitar Rp 4,5 juta. Sementara laporan yang diadukan ayah saya ini kerugiannya sekitar Rp 100 juta, tapi masih belum ditetapkan tersangkanya,” cetus Hasanuddin.

Senada disampaikan korban kedua Dedi Afriadi Zulkarnaen. Dirinya berharap Polres Loteng segera menyelesaikan Laporan yang diadukan agar kelurganya supaya merasa aman di bawah.

“Kami bukan hanya rugi materil, tapi ada ancaman kenyamanan dengan senjata tajam, tapi pelakunya masih dibiarkan berkeliaran,” ujar Dedi.

Dedi menambahkan, Polisi kerap kali berjanji , dan beralasan mediasi, namun hasilnya tidak ada. “Kalau tidak segera disikapi, kami di Kampung bisa terjadi pertumpahan darah,” kata dia.

Menanggapi hal itu, Kepolres Lombok Tengah AKBP Esty Setyo Nugroho mengatakan terkait aduan itu, pihaknya telah melalukan pemanggilan terhadap Tujuh orang untuk diminta keterangan.

Dari hasil pemeriksaan, kedua belah pihak merasa memiliki alas hak yang dianggap sama sama kuat. Itulah yang perlu dibuktikan dari keterangan saksi ahli termasuk dari BPN.

“Semua laporan yang sudah masuk kita sudah proses, terlebih pada kasus ini kita sudah memangil sejumlah pihak dan kita akan lakukan upaya mediasi terlebih dahulu,” ujar Esty

Esty juga mengatakan terkait dengan cepat dan lambatnya dalam menetapkan tersangka dalam laporan yang diadukan Dedi dan Hasanuddin, tergantung dari kelengkapan alat bukti dan keterangan saksi.

“Tergantung dari kelengkapan alat bukti dan keterangan saksi karena itu biasanya yang menjadi kendala,”kilah Esty. (TN-03)

Related Articles

Back to top button