Kalaupun Tak Pernah ada Upaya Mediasi Empat IRT dari Polisi, Pemilik UD Mawar Siap Berdamai

Lombok Tengah, Talikanews.com – Pihak keluarga dari Empat Ibu Rumah Tangga (IRT) yang sedang di tahan Kejaksaan Negeri Loteng maupun pemilik UD Mawar Putra selaku pelapor, mengaku selama proses hukum berjalan, tidak pernah ada upaya mediasi yang dilakukan selama masa penyelidikan maupun penyidikan oleh Polisi.

Salah seorang suami tersangka yakni, Asmayadi (41) warga Eyat Nyiur, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah mengaku, sampai istrinya (Fatimah) masuk penjara di Rutan Kelas IIB Praya, tidak pernah ada upaya di mediasi oleh pihak Polisi

“Kalau tidak salah, tanggal 13 Januari istri saya dipanggil untuk klarifikasi dugaan perusakan gudang tembakau milik H M Suwardi, ke Polres Loteng. Tidak pernah kami dipertemukan untuk berdamai dengan pemilik,” ungkapnya, Sabtu 21 Februari 2021.

Padahal, harapannya bahwa tidak ingin istrinya terbelit kasus, apalagi dipenjara lantaran masalah kecil yang dirasa masih bisa dicarikan solusi.

Dia mengaku, kalau mediasi sebelum Istirnya dilaporkan, memang pernah terjadi tahun 2020, saat ribut soal penolakan dan permintaan penutupan gudang tembakau. Bukan setelah ada laporan polisi.

“Seandainya ada yang memfasilitasi mediasi dengan pemilik UD Mawar Putra. Pasti kami mau karena, kami tidak mau melihat istri diproses hukum,” kata dia.

Senada disampaikan oleh Pelapor yakni, H M Suwardi. Dirinya malah tidak ingin ada persoalan dengan warga karena dapat mengganggu keberlangsungan usahanya.

“Pada dasarnya, kami tidak ingin bermasalah. Saya ambil langkah melaporkan satu orang sebagai sokterapi, tapi tidak ada itekat baik untuk meminta, malah saya tunggu di rumah. Tapi, tidak ada yang datang,” kata dia.

Disinggung apakah pernah difasilitasi untuk berdamai oleh pihak polisi setelah proses hukum berjalan? H M Suwardi mengatakan tidak pernah, malah sangat menunggu momen tersebut.

“Saya siap berdamai dan akan mencabut laporan itu Senin 22 Februari 2021. Karena ini yang terbaik, tidak ingin ada perselisihan dengan warga,” ujarnya.

H M Suwardi juga ingin ada beberapa persyaratan dalam perdamaian yakni, bersangkutan tidak lagi membuat masalah. Perjanjian itu harus disaksikan oleh beberapa tokoh dan komponen lainnya.

“Sama sekali tidak ada upaya mediasi sejak proses hukum berjalan. Kalau sebelum saya melapor, pernah di mediasi tahun 2020,” tuturnya.

Dia menambahkan, jika keberadaan gudang tembakau ini tetap dipersoalkan. Maka dirinya akan memikirkan beberapa bulan kedepan untuk alih fungsikan.

“Mungkin nanti akan jadi gundang barang siap kirim saja. Mengenai gudang proses racikan tembakau, akan menggunakan gudang sebelah timur,” tutupnya.(TN-red)

Related Articles

Back to top button