Kapolsek Praya Tengah Lempar “Handuk”, Empat IRT itu Titipan Kejari Loteng

Lombok Tengah, Talikanews.com – Saling lempar mengenai status tahanan empat orang Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Dusun Eyat Nyiur, Desa Wajageseng, Kecamatan Kopang kini mulai terkuak.

Pasalnya sejumlah pihak yang di konfirmasi seakan lempar “handuk”. Padahal, pengakuan dari salah satu suami IRT itu menjenguk istrinya saat di tahan di Polsek Praya Tengah.

Terkait hal itu, Kapolsek Praya Tengah, IPDA Geger Maspanji Suringgana mengaku posisi Polsek saat ini hanya diminta oleh Kejari Loteng untuk menbantu mengamankan titipan tersangka Empat orang IRT yang diduga melakukan pelemparan terhadap gudang tembakau milik H M Suwardi.

“Kami hanya menerima titipan dari Kejari Loteng untuk mengamankan Empa orang IRT selama dua malam sebelum di pindahkan ke Kejari,” ungkap Geger, Minggu 21 Februari 2021.

Kapolres Lombok Tengah AKBP Esty Setyo Nugroho pun ikut meluruskan pertanyaan publik.

Esty menjelaskan bahwa, H M Suwardi pemilik pabrik tembakau itu dari awal sudah membuka ruang berdamai secara kekeluargaan terkait kasus empat IRT yang penting tidak mengulangi lagi.

“Sudah ada etikad baik dari pelapor untuk berdamai secara kekeluargaan dengan syarat, pelaku tidak mengulangi perbuatannya,” kata dia.

Lain halnya dengan Kepala Desa Wajageseng, Dedi Ismayadi. Selaku pemerintahan desa tidak mengetahui permasalahan apa yang membuat Empat warganya berujung jeruji besi.

“Selama proses hukum berjalan, Pemdes tidak pernah di libatkan, baik yang berperkara maupun pihak kepolisian. Kalau dilibatkan insyaallah pasti ada jalan keluar seperti kasus pertama, tuduhan pencemaran nama baik,” ujarnya.

Dia mengaku, mengetahui kasus penahanan Empat warganya itu setelah viral di media massa yang ditahan di Rutan Kelas IIB Praya ikut didalamnya ada dua balita.

Apakah Pemdes pernah memediasi kedua belah pihak dalam perkara pengerusakan ini? Kades menegaskan, kalau menyangkut kasus pengerusakan, tidak pernah ada mediasi, baik di tingkat Polsek maupun Polres.

“Kami pun heran, kasus ini cepat sekali sampai ke tahap penahanan,” imbuh Kades

Begitu pun yang disampaikan, Ketua Komisi IV DPRD Loteng H Supli. Dia menegaskan, mediasi yang dimaksud adalah mediasi antara masyarakat yang keberatan atas beroperasinya pabrik rokok dengan pemilik. Dimana, masyarakat meminta agar pabrik itu ditutup sementara pemiliknya tetap mengoperasikan pabrik itu, hal ini yang tidak ada titik temunya.

“Tidak pernah ada mediasi dalam perkara itu karena perkara insiden pelemparan itu langsung dilakukan penyidikan, bahkan waktu akan ditahan, Polisi yang jemput dan menyampaikan ke ibu-ibu diajak ke Kejaksaan dalam rangka tes kesehatan,” tutup politisi PKS ini. (TN-red)

Related Articles

Back to top button