Puluhan Advokat akan Berikan Bantuan Hukum terhadap IRT dan Balita yang di Tahan Kejari Loteng

Mataram, Talikanews.com – Puluhan Advokad di Nusa Tenggara Barat akan memberikan bantuan Hukum terhadap Empat Ibu Rumah Tangga (IRT) dan Dua Balita yang di tahan Kejaksaan Negeri Lombok Tengah, dalam kasus dugaan pengerusakan atap gudang perusahaan tembakau di Kopang.

Sebanyak 50 orang tim hukum yang tergabung dalam “Nyalakan keadilan untuk IRT” ini tergerak membela keadilan karena rasa kemanusiaan.

Selain advokad, para pegiat perempuan, NGO, akademisi dan elemen lainnya menyatakan diri sepakat membela IRT dan Dua Balita tersebut.

“Sekitar 50 orang advocat yang sudah menyatakan kesiapan untuk ikut dalam gerakan ini, belum termasuk NGO, pegiat perempuan, akademisi,” ungkap koordinator tim keadilan untuk IRT, Ali Usman Ahim, Sabtu 20 Februari 2021.

Ali menyampaikan, sebagai langkah awal, pihaknya sudah mulai turun melakukan investigasi, mengumpulkan keterangan yang dibutuhkan dari para pihak untuk mendalami kronologis kejadian serta duduk persoalan sesungguhnya yang terjadi.

Tim keadilan untuk IRT ini sudah menjenguk empat IRT di Rutan Praya, pihaknya juga sudah menemui pihak keluarga serta melakukan olah TKP dilokasi kejadian terkait kasus dugaan pengerusakan yang menjadi dasar kasus hukum tersebut.

Ali mengaku, ada rencana mengajukan permohonan Pra Peradilan (PP) terkait kasus tersebut setelah menerima persetujuan kuasa hukum dari pihak keluarga para IRT dan itu sedang di urus.

“Karena ini berkaitan dengan kasus hukum, tentu langkah-langkah yang akan ditempuh sesuai dengan ketentuan hukum yang ada,” kata dia.

Mantan Direktur Eksekutive Walhi NTB ini mengatakan, pihaknya tergerak untuk ikut membantu para IRT bukan karena apa-apa. Tapi lebih sebagai bentuk gerakan moral dan kemanusiaan.

Menurutnya kasus yang melilit para IRT ini sangat aneh, sampai harus diproses hukum. Karena ada langkah-langkah restoratif justice yang bisa ditempuh untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Tanpa harus melalui proses hukum. Apalagi penyebabnya hanya persoalan sepele.

Anggota Tim Hukum yg lain, Apriadi Abdi Negara yang juga Ketua LBH PENCARI KEADILAN menegaskan bahwa Hukum dibuat untuk menghadirkan rasa keadilan bagi masyarakat.

Bukan malah untuk melanggengkan penindasan. Kalau penegakan hukum model seperti ini, jelas tidak berkesesuaian dengan tujuan penciptaan hukum itu sendiri.

“Ini ada ibu yang anaknya sedang sekarat harus ditahan. Ada juga yang terpaksa harus membawa serta anaknya yang masih Balita ikut merasakan kepedihan di balik jeruji besi. Dimana rasa keadilan dan kemanusiaan itu?, ujarnya dengan nada prihatin.

Dasar itulah yang menggerakkan hati berbagai elemen masyarakat didaerah ini. Untuk membantu upaya penyelesaian terhadap kasus yang menimpa empat IRT beserta keluarganya tersebut.

Anggota Tim Hukum lainnya, Ikhsan Ramdhani, juga Ketua FORMAPI NTB menambahkan, menurut hasil investigasi Tim, Empat orang IRT itu ditahan lantaran dituduh melakukan pengerusakan dengan melemparkan batu ke gudang Pabrik tembakau, UD Mawar Putra.

Dua di antara IRT itu memiliki anak balita yang usianya sekitar 1 tahun dan 1.5 tahun “ikut ditahan” bersama ibunya lantaran dituduh melakukan pengerusakan gudang rokok dengan cara melempar batu.

“Setelah kami olah TKP, sama sekali tidak kami temukan ada kerusakan, pelapor terlalu mengada-ada dan membual mengenai kerusakan yang ditimbulkan akibat perbuatan tersebut. Saya tidak habis fikir apa yang menjadi dasar pertimbangan obyektif pihak jaksa sehingga menahan mereka, dan kenapa penyidik seperti memaksakan perkara diproses,” tegasnya.

Adapun nama-nama Ibu Rumah Tangga yang ditahan itu yakni, Nurul Hidayah (38), Martini (22), Fatimah (38) dan Hultiah (40). Mereka merupakan warga Dusun Eat Nyiur Desa Wajageseng Kecamatan Kopang Loteng dan mereka ini diancam pasal 170 KUHP ayat 1, ancaman pidana 5 sampai 7 tahun kurungan penjara. (TN-red)

Related Articles

Back to top button