BPOM Mataram Temukan Terasi dan Makanan Mengandung Boraks dan Rhodamine Beredar di Pasaran

Mataram, Talikanews.com – Balai Besar POM (BPOM) Mataram melakukan kegiatan intensifikasi pengawasan bahan berbahaya dalam pangan sejak Januari – Februari 2021. Alhasil, menemukan banyak Terasi mengandung zat Rhodamine B dan Makanan mengandung boraks beredar di pasaran.

Kepala BPOM Mataram, Drs. Zulkifli, Apt, mengatakan, langkah yang dilakukan itu sebagai salah satu upaya melindungi masyarakat Nusa Tenggara Barat dari praktek penyalahgunaan bahan berbahaya dalam pangan (Boraks, rhodamine, formalin), sehingga melaksanakan kegiatan intensifikasi pengawasan bahan berbahaya dalam pangan dengan target/ sasaran pedagang trasi, mie basah, krupuk dan bumbu/bahan lainnya serta penelusuran ke sumber pengadaan/pembelian, distributor dan produsen

“Kegiatan ini kita gelar lintas sektor, ada dari Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Dinas Perdagangan Kab/Kota, Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Satpol PP Kota Mataram, sejak 26 – 27 Januari dan 9 – 11 Januari 2021,” ungkapnya, Senin 15 Februari 2021.

Dia menjelaskan, target atau sasaran kegiatan ini yakni produk trasi, mie basah, krupuk dan bumbu/bahan lainnya, yang dijual pedagang di pasar di Kabupaten/Kota di Pulau Lombok seperti di pasar KLU (Ps. Tanjung, Pamenang), Lobar (Ps.Gunung Sari, Keru), Loteng (Ps. Renteng, Jelojok), Lotim (Ps. Paok Motong, Masbagik), Mataram (Pasar Selaq/Pade Angen, Pasar Induk Mandalika Bertais).

Bahkan lanjutnya, tim melakukan penelusuran hingga sumber pengadaan/pembelian, distributor dan produsen/pembuat mie basah/mie kuning, krupuk, trasi. Hasilnya mulai dari Terasi, pemeriksaan ke beberapa pedagang di Pasar Paok Motong Lombok Timur diperoleh informasi terasi dibeli dari Pak Ma’in – Dasan Lekong Lombok Timur.

Petugas pun langsung telusuri ke gudang pak Ma’in ditemukan sebanyak 83 karung berkode @ 55 kg, hasil uji cepat sebanyak 50 karung positif mengandung Rhodamine B, 33 karung berkode AL tidak mengandung Rhodamin B. Sumber pengadaan diakui berasal dari Pak Safrudin Labuhan Lombok – Lombok Timur. “Temuan trasi senilai Rp. 55.000.000 diserahkan pemilik kepada petugas,” kata dia.

Pemeriksaan berikut ke beberapa pedagang terasi di Pasar Mandalika Bertais, hasil uji cepat trasi produksi pak Azhar-Sigerongan Lombok Barat dan terasi pengadaan dari H. Safrudin Labuhan Lombok -Lombok Timur (terasi Berau) positif mengandung Rhodamine B. Temuan trasi Berau sebanyak 7 plastik @ 100 gram dan trasi produksi Pak Azhar sebanyak 4,5 karung @ 70 kg dan 2 plastik kresek @ 10 kg terasi senilai Rp. 8.375.000,- diserahkan pemilik kepada petugas.

“Total penelusuran dari pasar-pasar di Kab/Kota lainnya, dari 118 sampel terasi, ditemukan 35 sampel (29,66%) positif mengandung Rhodamin B, baik produk lokal maupun luar NTB (Berau Kalimantan Timur), sumber pengadaan selain dari pemasok di Lombok Timur, juga pedagang di Pasar Bertais,” tuturnya.

Tidak hanya terhadap Trasi, petugas pun menelusuri Mie Basah, ampling dan uji terhadap 14 sampel mie basah/mie kuning, ditemukan 11 sampel (78,57%) positif boraks, seluruhnya produksi pembuat mie lokal. Sumber pengadaan Produsen Mie di Selagalas,. Produsen Mie di Ampenan dan Produsen Mie Basah di Praya

Sedangkan makanan jenis Krupuk, sampling dan uji terhadap 201 sampel krupuk, ditemukan 111 sampel positif Boraks, (produk lokal dan luar NTB /Jawa Timur) dan 1 sampel krupuk produk lokal positif mengandung Rhodamin B. Sumber pengadaan krupuk produksi lokal di Rumeneng, Danger dan Kp.Paratoh Lotim, Praya Loteng, Gelogor-Gerung Lobar, Gangga KLU dan Babakan Mataram. Ada juga krupuk produksi Luar NTB (Jawa Timur), distributor UD Mamben – Ps. Mandalika Bertais

“Pemeriksaan ke UD Mamben Pasar Mandalika Bertais, ditemukan stok produk sebanyak 972 bal kemasan 2,5 kg dan 5 kg senilai total Rp. 51.844.000,-. Diperoleh informasi sumber pengadaan dari pemasok di Surabaya dan Jember Jawa Timur. Total nilai ekonomi krupuk yang diamankan di Pasar Mandalika Bertais : Rp. 60,794,000,” paparnya.

Zulkifli menegaskan jenis- jenis krupuk produksi lokal yang ditemukan positif mengandung BB Boraks terdiri dari krupuk tempe, krupuk terigu, krupuk tahu, krupuk beras, krupuk ikan dan 1 sampel positif mengandung Rhodamin B yaitu krupuk pipa

Jenis Krupuk luar NTB adalah krupuk terkemas, berlabel krupuk tempe cap Kepiting/kemasan plastik 5 kg/PIRT No.206350903040/ produksi UD Ari Mulya. Kemudian krupuk tempe cap Rajawali/kemasan plastic 5 kg/ PIRT No. 2063509068088-25,/produksi Putra Tunggal. Ada juga krupuk tempe cap Matahari/ kemasan plastik 5 kg/ PIRT No. 2063509070088-25/ produksi Putra Tunggal.

Tidak hanya itu saja, Krupuk rambak cap Lele /kemasan plastik 5 kg/PIRT No. 2063515010474-20/produksi UD. Mitra Jaya Sidoarjo dan Krupuk rasa bawang cap Mahkota/kemasan plastic 2.5 kg/ PIRT No.-/produksi Lumajang

“Total pedagang yang kami periksa selama 2 minggu ini sebanyak 206 pedagang, 120(58,25%) pedagang ditemukan menjual pangan/produk mengandung BB,” cetusnya.

Mengenai sampling dan uji, sebanyak 353 sampel, ada 191 sampel (54,11%) memenuhi syarat dan 162 sampel (45,89%) tidak memenuhi syarat/positif mengandung bahan berbahaya. Termasuk temuan bahan berbahaya terbanyak adalah Boraks sebanyak 126 sampel (77,78 %), berikutnya Rhodamin B sebanyak 36 sampel (22,22%).

Ditambahkan Zulkifli, penggunaan boraks terbanyak pada krupuk, mie basah/ mie kuning dan bakso, sedangkan Rhodamin B paling banyak ditemukan pada produk trasi dan sebagian kecil krupuk. Tidak ditemukan penggunaan bahan berbahaya formalin pada produk-produk tersebut.

“Terhadap penjual, kami lakukan pembinaan dan pemanggilan pihak-pihak terkait untuk di BAP,” tutupnya (TN-red)

Related Articles

Back to top button