Camat Pujut Ajak Pemprov NTB Duduk Bersama Selesaikan Sengketa Nama Bandara

Lombok Tengah, Talikanews.com – Camat Pujut, Lombok Tengah, L Sungkul mengajak Pemerintah Provinsi NTB duduk bersama menyelesaikan sengketa penamaan Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Dirinya menilai, sebenarnya Pemrov NTB sedikit gegabah saat akan melakukan perubahan nama bandara itu. Seharusnya, terlebih dahulu, Pemprov NTB mengajak tokoh-tokoh yang ada di lingkar bandara untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan itu, bukan menunjuk satu atau dua orang sebagai wakil.

“Kami termasuk Kecamatan yang berada dalam lingkar bandara sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan perubahan nama bandara. Jadi wajar jika ada masyarakat lingkar bandara yang protes atas perubahan itu,” ungkapnya, Kamis 7 Januari 2021

Sebenarnya lanjut Sungkul, nama Tuan Guru Maulana Syaikh itu sangat di agungkan di Kecamatan Pujut. Hal itu terbukti santri jebolan dari pondok pesantren NW banyak di percaya oleh masyarakat sebagai tokoh agama dibeberapa dusun yang ada di Kecamata Pujut.

“Sekitar 80 persen jebolan NW menjadi petugas di Masjid yang ada di Pujut. Sehingga, tidak ada yang menolak terkait rencana penamaan Bandara. Hanya saja, perlu ada koordinasi yang baik dilakukan pihak Pemprov NTB,” kata Sungkul.

Sungkul menyinggung mengenai nama bandara harus menggunakan nama pahlawan. Hal itu tidaklah benar, karena, banyak bandara – bandara di Indonesia ini yang menggunakan nama daerah setempat.

“Nama bandara itu tidak mesti menggunakan nama pahlawan. Tapi, jika itu mau dilakukan, ajak kami duduk bersama, jangan buat polemik,” pintanya.

Menyinggung pahlawan, menurutnya, pahlawan itu adalah orang yang pernah berjasa untuk orang banyak dan negara. Mengacu terhadap hal itu, dilihat berdasarkan sejarah pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL), orang yang paling berjasa adalah H Lalu Wiratmaja (Mamiq Ngoh). Tetapi, sejauh ini tidak ada masyarakat Loteng yang mengatakan kenapa tidak harus nama Mamiq Ngoh yang di sematkan di Bandara itu.

“Kalau kita mau pegang ego, menurut saya sih, Mamig Ngoh yang pantas disematkan nama Bandara itu. Tapi apa pun namanya, solusi terbaik yakni duduk bersama, kita panggil semua tokoh yang ada di desa lingkar bandara, untuk rembug agar tidak jadi polemik berkepanjangan,” tutup Sungkul. (TN-03)

Related Articles

Back to top button