Dewan Pengawas ASITA NTB Pilih Pemimpin, Tahrir Nahkodai periode 2020-2025

Mataram, Talikanews.com – Pasca musyawarah daerah (musda) Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) awal November lalu, dilanjutkan dengan pemilihan ketua Dewan Pengawas Tatakrama (Depeta). Dimana, H Muhammad Tahrir terpilih menahkodai untuk periode 2020-2025.

Proses pemilihan itu berlangsung secara online yang di ikuti Lima kontestan merupakan pengurus organisasi kepariwisataan yakni H Misbach Muliadi, perolehan (5 suara), kemudian, Baiq Dewi Hariyati perolehan (6 suara), dilanjutkan H Muhammad Tahrir perolehan (32 suara), Agus Muliadi dengan perolehan (6 suara), sedangkan L Hadi Faesal memperoleh (2 suara). Ada satu suara Abstain.

Ketua terpilih, H M Tahrir mengatakan, setelah dirinya terpilih sebagai pemenang berdasarkan hasil polling online, namun penghitungan secara offline, dirinya akan langsung bergerak urus kepengurusannya.

Adapun komposisi kepengurusan yakni ketua, ada wakil, kemudian sekretaris dan bidang lainnya. “Hasil rapat yang dipimpin caretaker dalam hal ini dirinya sendiri, akan langsung di sampaikan ke DPP Depeta,” ungkapnya, Kamis 12 November 2020, di kantor Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Mataram.

Nantinya, kepengurusan Depeta ini jika sudah rampung akan dikirim bersamaan dengan hasil musda ASITA. Ini diambil dengan harapan SK kepengurusan ASITA NTB dan Depeta bisa keluar bersamaan.

Tahrir menambahkan, pasca pemilihan dirinya dipastikan langsung merampungkan struktur kepengurusan.

Pihaknya tidak mau berlama-lama menyusun nama-nama personil yang menjadi rekan kerjanya.

Secara organisasi, jelasnya, Depeta berfungsi mengawasi laju perjalanan organisasi ASITA. Peran utama yang diemban adalah harmonisasi serta dinamisasi di internal organisasi perusahaan perjalanan wisata tersebut.

“Kedepan, kita tidak ingin ada yang keluar dari ASITA. Dulu ASPI dan Astindo itu awalnya satu tubuh dengan ASITA,” ucapnya.

Dengan adanya Depeta, paling tidak bisa mereduksi sekaligus memediasi kepentingan-kepentingan yang ada di dalam tubuh organisasi tersebut.

Sapaan Tahrir ini memaparkan peran pokok dari Depeta ini adalah mengawasi kepengurusan ASITA. Jangan sampai ada keributan di internal ASITA. Misal, munculnya ASITA 71 yang baginya versi belum jelas.

“Saya belum setuju ada istilah dualisme, karena dalam akte pendirian, tidak ada ASITA 71. Karena, yang ada itu ASITA,” tutupnya (TN-red)

Related Articles

Back to top button