Dewan NTB Kepincut Konsep Wisata Sawah Svargabumi, Kenapa Tidak Manfaatkan Dana Pokir

Magelang, Talikanews.com – Spot desa wisata Svargabumi yang mengubah sawah dan kebun menjadi destinasi, di Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah membuat para Anggota DPRD NTB kepincut mengadopsinya.

“Kenapa tidak bisa seperti itu, iya kita mengajak kepala desa, ayo lahan pertanian dibangun seperti ini,” ungkap salah seorang Anggota Komisi III DPRD NTB Lalu Satriawandi, saat mengikuti kegiatan pres trip Forum Wartawan DPRD NTB, Diskominfotik, dan Sekretariat Dewan, Kamis 15 Oktober 2020.

Menurutnya, konsep ini sangat menarik sehingga, para petani tidak harus kehilangan sawahnya karena disewa pemodal. “Petani bisa tetap menggarap sawahnya seperti biasa, bahkan mendapat pemasukan tambahan dari biaya sewa lahan,” kata dia

Untuk diketahui, Svargabumi adalah konsep wisata instagramable yang eksostis. Berawal dari meningkatnya tren masyarakat berwisata ke persawahan, pemodal akhirnya tertarik untuk membangun fasilitas spot foto. Jumlah titiknya cukup banyak yaitu 22 spot. Berbagai spot foto di sana antara lain bed terbang, ayunan, sofa, dan sebagainya dengan latar persawahan dan bukit Manoreh.

Wisata Svargabumi mempertahankan tiga hal fundamental. Pertama, ketahanan pangan karena sawah tetap produktif, kedua pemberdayaan masyarakat karena yang menjadi karyawan di sana penduduk lokal, dan yang ketiga ekonomi kreatif.

Hal ini yang membuat Politisi Golkar itu kepincut dan mengaku dengan mudah bisa mengadopsi wisata ini. “Kita bisa mengajak masyarakat membangun ini, untuk kemudian kita pasarkan melalui media sosial,” ujarnya.

Terlebih lanjutnya, di situasi Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir. Jika mampu memberikan pemahaman kepada petani, maka dengan mudah bisa menerima. “Pemerintah harus mendorong seperti ini untuk pemanfaatan secara maksimal lahan-lahan persawahan kita yang luas di NTB,” ujarnya.

Menurutnya, Alam di Lombok maupun di Sumbawa sangat mendukung untuk ini. Ditambah panorama alam yang menjadi satu kesatuan di persawahan NTB. “Kalau di Loteng itu ada di Mantang, Batu Kliang, Karang Sidemen,” tutur Satriawandi mencontohkan.

Satriawandi yakin pemerintah daerah akan sangat terbuka dengan rencana ini. “Ya seharusnya seperti itu karena apapun itu kalau meningkatkan taraf hidup masyarakat harus didukung,” tegasnya.

Senada disampaikan Anggota Komisi IV Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, DPRD NTB, Ruslan Turmuzi. Dirinya menantang para anggota dewan lainnya menggunakan dana aspirasi atau pokok pikiran (pokir) untuk mulai penataan persawahan dengan model seperti itu.

svargabumi | scr IG svargabumi
svargabumi | scr IG svargabumi

“Artinya jangan hanya melihat pokir dari keuntungan politik semata, tapi bagaimana kita manfaatkan secara ekonomi berkelanjutan, disana masyarakat dapat pekerjaan dan mengurangi pengangguran,” paparnya.

Menurutnya, Dewan yang lain juga bisa mulai mendorong itu, tanpa harus menunggu waktu atau pemodal untuk memulai di persawahan NTB. “Alam di Lombok itu lebih indah dari Bali,” tegasnya.

Politisi PDIP lima periode di DPRD NTB itu melihat bagian promosi Dinas Pariwisata NTB terlalu asyik untuk menggarap pariwisata level internasional, namun melupakan level lokal yang mampu mendorong perekonomian masyarakat setempat. “Kami lihat, terkesan mengabaikan potensi wisata lokal, padahal butuh perhatian juga,” tegasnya.

Ruslan mengatakan, biarlah wisata di Kuta Mandalika misalnya menjadi pekerjaan pemerintah pusat. “Potensi wisata lokal ini kita harus jaring,” tegasnya.

Ruslan juga mengkritik konsep desa wisata di NTB tidak berhasil secara maksimal membangun potensi wisata di setiap desa. “Beberapa desa wisata bahkan terkesan terlalu dipaksakan sehingga wisata yang kelola dan dikembangkan, banyak yang tidak mencerminkan kekuatan desa itu sendiri. Jadi, ini yang disebut dengan paternalistik,” sentilnya.

Selain itu politisi PDIP itu menyarankan agar istilah “Desa Wisata” diganti. Hal ini menurutnya berdampak pada image yang muncul di benak masyarakat. “Ini kesannya terlalu ekskulsif (garapan orang-orang tertentu saja),” ulasnya.

Ruslan menyarankan istilahnya diganti menjadi yang lebih nyaman di dengar. Serta mampu menggerakkan masyarakat secara utuh ikut terlibat mengerjakannya. “Misalnya Desa Alam, atau Alam Desa, kita hilangkan istilah wisatanya,” pungkasnya.

Salah satu pengelola destinasi Svargabumi, Andi menuturkan bahwa, keberadaan Destinasi ini memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. “Ini dikelola pihak swasta dengan sewa lahan sawah dan kebun,” tuturnya. (TN-red)

Related Articles

Back to top button