Denda dan Masker Rp 500 Ribu, Ini Pendapat Guru Besar Hukum Unram

Mataram, Talikanews.com – Sanksi denda bagi masyarakat yang tidak menggunakan masker pasca ditetapkan Perda penanggulangan penyakit menular, menjadi pembicaraan ditengah masyarakat. Seperti halnya Guru Besar Hukum Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, Profesor Zainal Asikin.

Menurut sapaan Prof Asikin, tidak ada masalah soal Perda Masker. Karena, yang diatur adalah wajib masker di tempat umum. Terlebih asas berhukum adalah melindungi kepentingan umum.

“Jangan sampai keangkuhan pribadi akan merugikan kepentingan umum (rakyat banyak). Sebab siapa tahu gara-gara seorang yang ngeyel tidak menggunakan masker, dari mulutnyalah tersembur ribuan virus yang akan menulari rakyat banyak,” ungkap Asikin di akun Facebook, zainal asikin kang ikin, Rabu 5 Agustus 2020.

Dia mengumpamakan, kepentingan umum inilah yang digunakan negara agar jalan bypass yang dilewati bisa dibuat dengan mengambil tanah pribadi seorang yang sebenarnya tidak mau dijual. Tapi demi kepentingan umum pula lah, hak pribadi dikorbankan. “Kalau tidak mau maka anda akan di “konsinyasi”,” kata dia.

Asikin menjelaskan arti konsinyasi yakni tindakan memberikan suatu barang kepada pihak lain, agar pihak tersebut dapat melakukan pengendalian, penyimpanan, maupun perawatan terhadap barang, hingga barang tersebut dapat terjual. Konsinyasi dilakukan setelah ada perjanjian antara dua pihak, yakni pengamanat dan komisioner.

“Nah ndak perlu ngeyel…soal TIDAK PAKAI MASKER. SILAHKAN TIDAK USAH PAKAI MASKER KALAU SEDANG DIKAMAR TIDUR . DIRUMAH, DIKAMAR MANDI KALAU LAGI BUANG AIR…ndak akan didenda. Silahkan anda tidak pakai masker naik sepeda motor keliling halaman rumah atau lagi ngulek sambel pelecing di dapur. Insya Allah Pol PP tidak ngrunguk yang gitu-gitu,” cetusnya.

Tapi, jangan coba coba petantang petenteng di Epicentrum saat tidak menggunakan masker, maka logika hukum akan bermain. “Beli barang mewah ke Mall kok mampu. Beli masker kok ndak mampu..gitu browww,” ujar dia.

Jadi, butuh kesadaran untuk saling menjaga,
butuh saling merawat, butuh saling menyayangi, bukankah hal yang demikian itu bagian dari ibadah?.

“Nah mohon Para Tuan Guru yang ribuan banyaknya di NTB itu menyuarakan filosofi hukum, bukan soal surga dan neraka saja….hmmmmm meno kek juluk (begitu dulu,red),” katanya..

“Ketimbang berdebat, mari minum serbat,
sambil klitik lubang telinga..sambil melek.
Sehingga deru suara azan semakin jernih …Hayya Alal Falaah (Mari menuju kemenangan, meraih kemenangan, red). Amiiinnn,” tutupnya. (TN-red)

Related Articles

Back to top button