Komisi II DPRD NTB sebut Tidak ada Alasan harga Beras Naik di daerah Swasembada Pangan
Mataram, Talikanews.com – Komisi II DPRD NTB angkat bicara terkait harga beras yang naik di daerah swasembada pangan yang ditetapkan surplus beras.
“Saya percaya dan yakin harga beras akan bisa stabil dengan keberadaan stok, karena kondisi NTB sebagai kontributor,” kata salah seorang anggota Komisi IIAkhdiansyah, Akhdiansyah, Jumat 12 Oktober 2023.
Politisi PKB ini menjelaskan, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat, kenaikan harga beras di Nusa Tenggara Barat bulan September 2023 mencapai 46 persen. Hal ini sebagai dampak dari musim kemarau panjang atau El Nino. Kenaikan harga beras yang cukup tinggi ini menyebabkan inflasi di daerah.
Gabungan inflasi Kota Mataram dan Kota Bima pada September 2023 (YoY) sebesar 2,29 persen lebih tinggi dari angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,28 persen. Kenaikan harga beras ini diperkirakan masih terjadi beberapa bulan kedepannya mengingat musim tanam belum tiba. Namun di sisi lain, pada bulan Agustus 2023, hampir 3000 ton beras NTB dikirim ke luar daerah.
Menurut Akhdiansyah, pengiriman beras NTB ke luar daerah merupakan salah satu kontribusi daerah sebagai daerah swasembada pangan patut dibanggakan.
“Kita sebagai daerah swasembada pangan memang menjadi salah satu kontributor pangan nasional, salah satunya di NTB ini. Itu sebabnya kenapa banyak beras dikirim ke luar,” ungkapnya.
Kenaikan beras ini lanjutnya, merupakan indikator nasional, sementara di daerah belum diketahui apa yang menjadi tolok ukurnya.
“Contohnya kebutuhan beras di NTB 1000 ton, tapi kita punya produksi 6000 ton, tapi sudah ada regulasinya 5000 ton harus didistribusikan ke daerah lain dengan asumsi cadangan beras kita itu satu kali setengah dari kebutuhan produksi,” tegasnya.
Artinya kata Akhdiansyah, 1000 ton kebutuhan tahun ini, namun ada cadangan sekitar 2000 ton untuk kebutuhan lokal.
Anggota DPRD Provinsi NTB Dapil VI Dompu, Bima dan Kota Bima ini menyebut, pengiriman beras tersebut tidak mempengaruhi harga pasar, namun sebagai lumbung produksi justru mengimbangi pasar nasional. “Tidak ada alasan harga beras itu naik kalau di daerah kita,” pungkasnya (TN06)





