Anis Matta Bercerita Urgensi Lahirnya Indonesia dan Partai Gelora untuk Menjawab Krisis Global 

Mataram, Talikanews.com – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta kembali mengingatkan urgensi Indonesia lahir menjadi negara super power baru dalam dinamika dan pergulatan global.

Dunia secara global saat ini tengah berada dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian imbas krisis sitemik dan konflik geopolitik yang berkepanjangan.

Pentingnya Indonesia muncul sebagai negara super power baru dinilainya sebagai keniscayaan lantaran adanya darurat sejarah. Hal.itu dikarenakan dunia sedang menghadapi satu transisi panjang dalam sejarah global yang tidak satupun orang bisa meramalkan ke mana arahnya.

Munculnya perang Rusia-Ukraina menjadi salah satu petanda terkini. Namun, imbasnya bukan pada kedua negara tersebut, tetapi yang dilaporkan kolaps adalah bank-bank yang ada di Amerika, bukan Rusia. Jadi, sejarah sekarang ini sedang memasuki satu putaran seperti sebuah bencana besar. Tidak satupun entitas yang tahu ujung dari situasi ini.

Dalam sejarahnya, Indonesia selalu mengalami situasi demikian. Dahulu, Portugis masuk ke Indonesia sekira tahun 1511. Kalau ditarik, kira-kira beberapa tahun sebelumnya yakni 1498 itu Vasco Da Gama itu masuk ke anak benua India dan Asia Tenggara. Dua tahun sebelumnya, Colombus menemukan benua Amerika 1496. Empat tahun sebelum Columbus menemukan Amerika, Andalusia jatuh dari tangan kaum muslimin pada 1492.

Jika ditarik mundur 40 tahun sebelumnya, Sultan Muhammad Al Fatih membebaskan konstantinopel. Jadi di timur ada peristiwa pembebasan Konstantinopel, di barat ada peristiwa jatuhnya Andalusia.

“Namun, beberapa tahun berikutnya Indonesia menjadi jajahan Portugis, disusul Spanyol, disusul Belanda, disusul Inggris. Apa hubungannya itu semua? Hubungannya adalah Indonesia itu seperti orang yang duduk pacaran di pinggir pantai, padahal tsunami akan datang,” tutur Anis Matta, katanya berkunjung di NTB pada Sabtu 18 Maret 2023.

Dalam bincang hangat bersama media bertajuk ‘Menakar Peluang Indonesia Menjadi Superpower Baru Dunia’ itu,  Amis Matta menyebut Indonesia, karena konflik global tersebut tiba-tiba menjadi korban penjajahan, tanpa tahu dosa apa yang telah diperbuat kepada Eropa, tetapi kemudian menjadi korban penjajahan.

Eropa kemudian menjadi korban revolusi ilmu pengetahuan kemudian revolusi industri, dan membutuhkan sumber daya yang lebih banyak. Dan mereka menemukan ada satu wilayah bernama Nusantara yang memiliki sumber daya yang melimpah tetapi dihuni oleh orang-orang yang lemah dan bodoh.

“Makanya mereka dijajah. Itu sebabnya Al Quran mengatakan “Orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya, menzalimi diri sendiri. Malaikat bertanya kepada mereka mengapa nasib kalian bisa begini?” paparnya.

Hal serupa terjadi tatkala Indonesia dijajah oleh Jepang. Karena Jepang butuh wilayah baru untuk masuk dalam perang pasifik, dan Indonesia menjadi korban. Begitu seterusnya.

“Sekarang Indonesia ada dalam situasi ini, krisis global yang dampaknya akan kemana-mana. Anda mungkin tidak pernah mendengarkan peringatan dari elite partai politik, pimpinan partai politik, sementara kita sedang menghadapi ancaman bencana yang besar tetapi kita tidak mengalami penyadaran,” beber Anis Matta.

Poin kedua, ada kaidah yang dijelaskan Rasulullah SAW bahwa khilafah yang berlangsung dalam tubuh ummatnya akan berlangsung hanya 30 tahun.

Rasulullah di sini, kata Anis Matta menyebutkan angka dan angka ini punya makna. Karena angka ini wahyu. Dengan hadits ini Rasulullah mengatakan bahwa rezim pemerintahan itu, atau satu paket ideologi kepemimpinan itu putarannya sekitar 30 tahun.

“Kalau kita lihat Indonesia ini, era reformasi sekarang ini sudah mulai memasuki siklusnya, sudah 25 tahun. Kita akan memasuki satu putaran yang artinya pergantian ideologi atau arah, dan pergantian kepemimpinan dan prilaku dalam segala hal. Oleh karena itu pemilu 2024 mendatang akan menjadi momen terkahir dari satu era yang dipimpin oleh generasi yang setengah masa hidupnya habis di masa orde baru,” terang Anis Matta.

Dikarenakan hal di atas, situasi krisis global sekarang ini bertepatan dengan momen siklus Indonesia. Itu sebabnya, Partai Gelora ini lahir di tengah situasi ini bahwa pihaknya akan menghadapi situasi tersebut dan akan ada goncangan besar dalam kehidupan baik secara nasional juga secara global.

“Jadi dua hal ini satu premis yang sangat fundamental mengapa Partai Gelora ini lahir. Saya jelaskan, kalau ada krisis kemudian mengapa kita bicara tentang super-power?” tanyanya.

Anis Matta menyebut setidaknya ada empat negara super-power yang ada saat ini di dunia yakni Amerika, China, Rusia, dan Eropa. Super-power itu ciri-cirinya adalah teknologi sangat maju, militernya sangat kuat, dan ekonominya tumbuh makmur. Kemajuan teknologi, kemakmuran ekonomi, dan kekuatan militer.

“Jadi kalau kita bicara Indonesia super-power baru, kita ingin Indonesia duduk bersanding bersama dengan Amerika, China, Rusia, dan Eropa. Tapi ke empat negara super-power ini sekarang mengalami pertarungan. Amerika dengan Eropa kembali menyatu sebagai satu kutub, Rusia dengan China,” tukasnya.

Ia kembali mencontohkan, bahwa beberapa tahun yang lalu, tidak ada yang berbicara tentang perang nuklir, tetapi sekarang ini, ancaman perang nuklir menjadi pembicaraan sehari-hari.

Jadi saat ini, dunia tengah masuk ke dalam konflik global yang sangat kuat. Hal ini yang mengharuskan Indonesia mesti berhati-hati. Jangan sampai di tengah situasi ini, Indonesia kembali menjadi korban.

Ia ingin semua orang membayangkan, di tengah situasi konflik global yang terjadi, terdapat pula siklus yang juga membayangi bangsa Indonesia.

“Saya ingin mengatakan satu hal yang sangat saya yakini bahwa kemenangan Partai Gelora di pemilu 2024 yang akan datang adalah kemenangan bangsa Indonesia. Sekali lagi, sebagian besar elite politik kita saat ini sedang pacaran di pinggir pantai padahal badai tsunami sudah hendak datang. Itu yang sedang terjadi,” terangnya.

“Jadi kalau boleh saya mengatakan bahwa Partai Gelora ini adalah pemberi peringatan, sekaligus merupakan gerakan penyelamatan bagi bangsa Indonesia di tengah situasi krisis yang tidak satupun orang bisa memprediksi ujungnya seperti apa,” imbuhnya.

Hal itulah yang diakuinya menjadi musabab Itu mengapa Indonesia perlu menjadi negara super-power baru. Terutama lantaran konflik global yang dihiasi oleh empat negara super-power yang ada.

Menjadi super power baru bagi Jndonesia adalah darurtat sejarah. Anis Matta meyakini, beberapa tahun yang akan datang, dunia akan menyaksikan bahwa konflik yang ada akan berujung dalam perang dunia. Kemungkinan terjadinya sekarang ini masih 60 persen. Dan Indonesia ada di pusaran konflik itu.

Secara eksplisit, Anis Matta menyebut Indoneisa punya semua modal untuk menjadi negara super power.

“Sekarang orang tidak percaya bahwa Indonesia bisa menjadi negara super-power baru. Tetapi kalau kita serius, insyaAllah kita bisa. Jadi kalau Anda melihat situasi seperti ini dan agenda yang kita bangkitkan, inilah yang saya sebut sebagai arah baru Indonesia. Kita mesti mengubah cara kita bekerja, karena dalam situasi krisis seprrti inu kita tidak bisa bekerja dengan cara biasa,” bebernya.

Ia melanjurkan, apabila menjadi negara super power baru adalah darurat sejarah, maka kemenangan Partai Gelora di pemilu 2024 adalah darurat politik.

Sekarang, Anis Matta mulai berkeliling melihat kesiapan seluruh struktur dan kader Partai Gelora di seluruh Indonesia. Yang ingin dirinya lihat adalah sejauhmana kader Partai Gelora memiliki kemampuan untuk menyampaikan narasi bukan membagikan nasi.

Yang ingin Partai Gelora berikan kepada rakyat dan bangsa Indonesia adalah kunci pemberdayaan bukan sekadar hadiah sementara yang hanya mengambil suara rakyat tetapi kemudian menipunya.

“Dan ini yang sedang saya cek, mampukan orang-orang di Gelora ini bercerita kepada rakyat tentang mimpi kita di masa mendatang,” kata Anis Matta.

Itu sebab mengapa partainya ia beri nama gelombang rakyat. Hal itu agar rakyat menjadi pelaku bagi sejarahnya sendiri.

“Yang ingin kita ubah adalah manusia Indonesia, supaya mereka semua behenti memiliki mental sebagai budak, sebagai masyarakat dunia yang pinghiran dan mulai belajar untuk memiliki kesadaran baru bahwa kitalah yang ditunggu umat manusia untuk menjadi pemimpin baru di masa mendatang,” tutupnya.(TN-07)

Related Articles

Back to top button