Dr. Zul Sambut Tim Validasi IGA 2022 di Brida NTB

Mataram, Talikanews.com – Gubernur NTB Dr. H Zulkieflimansyah menyambut kedatangan Tim Validasi Lapangan Innovative Goverment Award (IGA) Tahun 2022 yang datang ke Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), Senin 28 November 2022.

Gubernur yang ditemani Kepala Brida NTB Dr. Amry Rakhman dan sejumlah Kepala Perangkat Daerah yang memiliki inovasi sesuai dengan bidang masing-masing seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Dikbud, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Kominfotik, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah dan Perangkat Daerah lainnya.

Tim Validasi Lapangan IGA 2022 dipimpin langsung oleh Asisten Deputi Koordinasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah Kemenkopolhukam Drs H. Syamsudin. Hadir pula dua orang Tim Penilai dari Pusat Litbang Inovasi Daerah.

Dalam kesempatan itu, Gubernur NTB Dr. H Zulkieflmansyah mengatakan, lahirnya Brida di Provinsi NTB sebagai bukti keseriusan Pemprov NTB dalam melakukan inovasi. NTB adalah provinsi pertama yang membentuk Brida sebab salah satu kunci pembangunan adalah inovasi yang tiada henti.

“Di NTB kita buktikan bahwa inovasi itu bisa digesa dengan adanya kemauan. There is will, there is way. Tahun lalu kita mendapatkan apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri sebagai provinsi yang menang dalam kompetisi ini,” ujarnya.

Salah satu yang menarik dari inovasi itu adalah bagaimana memaknai pandemi Covid-19 sebagai berkah. Di masa pandemi itu, Pemprov NTB mengadakan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang diberi nama JPS Gemilang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terkena dampak langsung.

Semua komoditas yang ada dalam JPS itu berasal dari IKM/UMKM lokal. Dengan adanya program ini hampir 5 ribu IKM/UMKM yang terlibat dalam penyediaan komoditas. Misalnya beras, garam, masker, minyak kelapa, ikan kering, teh kelor, kopi, susu kedelai, serbat jahe dan lainnya.

“Ketika provinsi lain memilih memberikan bantuan dengan uang tunai, maka NTB dengan berani tidak memberikan uang tunai, namun memberikan komoditas lokal kepada masyarakat. Jadi masker kami buat sendiri, serbat jahe kami buat sendiri, teh kelor, kopi, susu kedelai, gula aren, minyak kelapa dan lainnya, itu semua produk lokal,” jelas Dr Zul.

Menurutnya, saat masyarakat diberikan ruang untuk berinovasi, mereka bisa memproduksinya dengan baik asalkan pasar sudah tersedia. Meskipun di tahap pertama, kualitas masih belum begitu baik namun di satu sisi harganya relatif tinggi. Akan tetapi karena komunikasi yang cukup baik dengan aparat penegak hukum (APH) seperti kepolisian, BPK, PBKP dan kejaksaan, semuanya akan berjalan dengan baik.

“Karena inovasi itu akan mengundang inovasi berikutnya, karena produk lokal tak mungkin bisa bersaing di pasaran, dia butuh outlet yang namanya NTB Mall. NTB Mall ini adalah rangkaian inovasi dari tahun kemarin dengan hadirnya komoditas lokal ini,” ujarnya.(TN-red)

Related Articles

Back to top button