Dewan Loteng sarankan dr Mamang mundur dari Direktur RSUD Praya, Fokus Mengurus IDI

Lombok Tengah, Talikanews.com – Pengangkatan dokter Mamang Bagiansyah sebagai Direktur RSUD Praya oleh Bupati Loteng beberapa waktu menuai kontroversi. Karena, posisinya juga sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Loteng, sehingga disarankan lebih baik fokus mengurus IDI saja.

“Saya menyarankan dr Mamang memilih salah satu jabatan yang harus di fokuskan, iya antara Ketua IDI atau Direktur RSUD Praya,” kata salah seorang Anggota Komisi IV DPRD Lombok Tengah, Suhaimi, SH, Kamis 10 November 2022.

Suhaimi memaparkan alasan meminta dr Mamang mundur sebagai Direktur RSUD Praya, ketika para kalangan profesi kesehatan seperti IDI menyuarakan mogok kerja akibat penghapusan Undang-Undang profesi dalam Omnibus Law menyangkut Rancangan UU (RUU) tentang Kesehatan yang masuk program legislasi nasional (Prolegnas) prioritas perubahan ketiga 2020-2024.

Adapun UU Profesi tersebut terdiri dari UU Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, UU Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan, dan UU Nomor 4 tahun 2019 tentang Kebidanan.

Sehingga lanjut Suhaimi, nantinya akan terjadi konflik interest di interal IDI Loteng. Misal, dr Mamang sebagai Direktur RSUD Praya, disatu sisi harus pertahankan legesi menyangkut profesi kesehatan IDI yang akan melakukan penolakan.

“Apa iya para dokter akan melakukan mogok kerja, di satu sisi dr Mamang ini Direktur RSUD Praya yang membutuhkan dokter menangani pasien. Disisi lain, dr Mamang ini Ketua IDI Loteng,” cetus Politisi PDIP Loteng ini.

Dikatakan Suhaimi, RSUD Praya merupakan instansi/lembaga yang berurusan pelayanan kesehatan kaitan nyawa, sehingga dr Mamang harus fokus membenahi hal urgent terkait problem yang ada di Rumah Sakit.

Sumber Daya Manusia di RSUD Praya cukup baik, mulai dari dokter Spesialis yang mencukupi. Kemudian infrastruktur bangunan Rumah Sakit memadai.

“Yang menjadi problem utama mengembalikan kepercayaan masyarakat akan pelayanan yang baik di RSUD Praya. Ditambah dengan adanya kasus isu penelentaran pasien hingga meninggal dunia, kan ini jadi catatan penting tentang masalah pelayanan,” terangnya.

Oleh karena itu kata Suhaimi, lebih baik dr Mamang sebaiknya memikirkan untuk mundur dan memilih salah satu jabatan tersebut. Sebab, dr Mamang merupakan dokter yang hebat dan bijaksana, maka lebih baik mengundurkan diri jadi Dirut RSUD Praya dan konsen mengurus IDI untuk membela profesi dokter.

“Mindset berpikir masyarakat selama ini RSUD Praya bukan pilihan utama tempat berobat dikarenakan masalah pelayanan, mereka lebih memilih tempat lain. Padahal secara fasilitas RSUD Praya  cukup lengkap. Jadi sekali lagi, dr Mamang harus berpikir kembali dan menyelesaikan konflik interest dalam dirinya,” saran Suhaimi. (TN-04)

 

 

Related Articles

Back to top button