Tekan Tingginya Harga Cabai, Dewan NTB sarankan Masyarakat Galakkan Pemanfaatan Pekarangan

Mataram, Talikanews.com – Beberapa pekan terakhir, harga cabai cukup tinggi mencapai Rp 40 – 50 ribu per kilogram. Hal ini membuat Komisi II DPRD NTB sarankan masyarakat supaya menggalakkan pekarangan untuk antisipasi dan menekan harga cabai yang fluktuatif tersebut.
Wakil Ketua Komisi II DPRD NTB H. Haerul Warisin mengatakan, harga cabai di pasaran memang fluktuatif. Terkadang harga bisa tinggi, namun tak jarang harganya anjlok. Kondisi tersebut sangat bergantung dari ketersediaan pasokan di lapangan. Karena itulah, untuk menekan fluktuasi harga cabai. Sehingga masyarakat perlu terus didorong agar memanfaatkan pekarangan untuk menanam aneka sayur, termasuk cabai.
Dikatakan Politisi Gerindra asal Lotim ini, jika program pemanfaatan pekarangan diterapkan secara efektif, maka harga cabai di pasaran tidak akan terlalu tinggi, karena kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi di pekarangan sendiri.
“Cabai dengan pola penanaman di pekarangan, itulah yang paling pokok sebenarnya. Ketahanan pangan itu ada di situ. Namun itu tak dilakukan oleh pemerintah kita. Mestinya ada bagi-bagi bibit cabai ke rumah tangga itu,” kata Haerul Warisin.
Pria yang menjabat sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi NTB ini mengatakan, tingginya harga cabai di pasaran sekarang akibat dari cuaca ekstrem dan munculnya penyakit pada tanaman cabai. Hal itu yang membuat produksi cabai sangat minim, sehingga pasokan yang beredar di pasar menjadi terbatas.
“Cuaca kita ekstrem, hujan tak berhenti-henti itu yang menyebabkan cabai ini rusak. Kemarin saya lihat cabai petani kena penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Bagaimana cabai nggak mahal, karena cabai-cabai kita kena hujan semua,” ujarnya.
Harga cabai di dalam daerah semakin naik lantaran pasokan dari Jawa sangat minim yang datang. Hal itu terjadi lantaran produksi cabai di Jawa juga kondisinya nyaris sama dengan NTB yang terdampak oleh cuaca ekstrem. Padahal jika pasokan dari luar daerah lancar, maka harga cabai di NTB bisa ditekan.
“Produksi hancur, tanaman rusak, suplai dari Jawa juga tak ada atau kurang, maka harga naik,” ujarnya.
Haerul Warisin mengatakan, sebenarnya para petani cabai sudah terbiasa menanam di musim sekarang ini. Mulai dari bulan Desember sampai Maret biasanya harga cabai akan naik, namun suplai dari Jawa bisa menstabilkan harga. “Namun kondisi sekarang beda, suplai dari Jawa minim karena di Jawa juga rusak,” tutupnya.(TN-red)





