Hasil Uji Laboratorium, Ternak yang Mati Mendadak di Kawasan Sirkuit Mandalika akibat Kelalaian Pemilik

Lombok Tengah, Talikanews.com – Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lombok Tengah mengumumkan hasil uji laboratorium penyebab matinya 76 ternak warga di Kawasan Sirkuit Mandalika Lombok.
Kepala Bidang Keswan pada Dinas Pertanian dan Peternakan Loteng, Firman Hidayatulah menyampaikan, setelah dilakukan uji sampel terhadap Puluhan kerbau itu, akibat terinfeksi bakteri atau virus penyakit ngorok dan lalainya pemilik.
“Kita bekerjasama dengan Laboratorium yang ada di Banyumulek dan Laboratorium di Bali untuk uji sampel. Ternyata, kerbau kerbau itu terjangkit virus,” ungkapnya, Rabu 29 September 2021.
Bukan karena virus saja lanjut Firman. Bertambahnya ternak itu mati mendadak yang di Desa Kuta Lombok saat itu, waktu jelas karena lalainya pemilik kerbau yang tidak mengindahkan saran dari petugas supaya kerbau mereka yang terindikasi ada gejala Virus supaya tidak di campur baurkan dengan kerbau yang lain.
“Sebelumnya sudah kita sampaikan di kurung dulu hewan ternak yang sakit agar tidak menular, tetapi dalam hal ini pemilik ternak kurang mengindahkan arahan,” terangnya
Oleh karenanya, untuk mencegah supaya tidak terjadi penularan, pihaknya akan melakukan vaksinasi bagi hewan ternak yang ada di tiga desa itu yakni Desa Kuta, Desa Prabu dan Desa Tumpak, secara gratis.
“Langkah awal yang telah kita lakukan yakni mencegah penularan dengan cara suntik vaksin di tiga desa yang saat ini menjadi sumber virus,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Loteng, Lalu Iskandar menegaskan, perlu disampaikan kepada masyarakat bahwa penyebab matinya belasan hewan ternak itu lantaran terinfeksi virus yang sangat mematikan terlebih penularannya cepat sekali.
“Ia dari hasil pemeriksaan Lab kerbau itu mati karena adanya penyakit ngorok dan tidak ada kaitannya dengan limbah pembangunan sejumlah proyek ITDC,” ujar Iskandar.
Di jelaskan dari 76 ekor kerbau yang mati itu 6 ekor diantaranya mati mendadak dan 70 ekor sisanya pemilik hewan ternak bisa dijualnya ke tempat pemotongan hewan ternak.
“Ia ada 6 ekor yang mati, sementara 70 ekor lainya dapat di jual ke tempat pemotongan hewan meski dengan harga yang jauh dari harga normalnya,” ujar Iskandar.
Disinggung apakah para pemilih kerbau itu akan mendapatkan bantuan? Iskandar menjawab tidak ada bantuan atau kompensasi yang harus diterima peternak karena pemiliknya tidak pernah mendaftarkan hewan ternaknya sebagai peserta asuransi.
“Sepengetahuan saya kerbau kerbau yang meninggal itu tidak terdapat sebagai peserta asuransi jadi dia tidak dapat kompensasi,” tutup Iskandar. (TN-03)





