Lagi, Kades dan Tokoh Lingkar Bandara bicara nama BIL

Lombok Tengah, Talikanews.com – Para Kepala Desa dan Tokoh lingkar Bandara meminta kepada pemerintah maupun kelompok lain supaya jangan usik nama Bandara Internasional Lombok (BIL). Karena BIL itu sudah mewakili nama Lombok, NTB secara umum di mata dunia.
Kepala Desa Tanak Awu, Lalu Wisnu Wardana menyampaikan, jika nama BIL dipaksakan untuk dirubah menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) maka masyarakat lingkar Bandara tetap menolaknya dan siap menggelar aksi lebih besar dari sebelumnya.
“Nama BIL harga mati karena sudah mewakili masyarakat Lombok bukan mewakili orang perorang maupun kelompok. Jadi saya mohon kepada Gubernur NTB lebih bijak dalam mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat banyak,” ungkapnya Sabtu (23/11).
Dia mengaku, saat ini dirinya bersama jajaran Pemdes Tanak Awu, Kecamatan Pujut terus menghimbau kepada masyarakat untuk menahan diri dan jangan terpancing apalagi terprovokasi isu yang berkembang.
“Jangan mudah percaya info hoax tentang perubahan nama BIL,” kata dia.
Senada disampaikan Kepala Desa Ketara Lalu Buntaran. Dirinya menegaskan, jika nama BIL diganti maka, tidak berani menjamin keamanan berkaitan dengan aksi penolakan massa lebih banyak dari sebelumnya.
“Jangan mementingkan pribadi, kelompok dan golongan hanya karena sebuah nama yang berimbas perpecahan di tengah masyarakat,” ujar Buntaran.
Berbeda disampaikan Kepala Desa Penujak, Suharto. Dirinya menyarankan, jika benar nama BIL mau diganti menjadi BIZAM, menyarankan agar semua tokoh di ajak duduk bareng mencari solusi terbaik.
“Mari peka sedikit akan sensifitas, jangan sampai keinginan segelintir orang itu berdampak akan perpecahan di masyarakat. Tolong peka akan polemik nama Bandara ini,” ujarnya.
Salah satu tokoh Lingkar Bandara, H. Lalu Muhammad Putria menceritakan sejarah sebelum nama BIL ditetapkan untuk Bandara di Lombok. Dimana, ada sekitar sembilan bahkan 11 nama yang di ajukan sebelum ditetapkan menjadi BIL.
Adapun nama-nama itu yakni Bandara Internasional Pejanggik, Bandara Internasional Selaparang, Bandara Datu Siledendeng, Bandara Raden Melelas, Bandara Raden Resnam, Bandara Datu Tuan, Bandara Datok Lopan, Bandara Bumi Gora, Bandara Dongak Langit, Badara Rinjani dan Bandara Mandalika. Dari nama-nama yang diusulkan itu malah muncul Bandara Internasional Lombok (BIL).
“Saat penetapan nama BIL itu, para tokoh duduk bersama. Waktu itu nama BIL di anggap layak untuk mewakili keseluruhan masyarakat, faktanya sekarang tidak di lakukan oleh Pemprov NTB,” sebut Putria.
Kendati demikian, Putria meminta supaya Pemprov NTB bisa mengajak masyarakat duduk bersama dalam mencari solusi mana yang di anggap baik untuk kepentingan masyarakat banyak.
“Seandainya mau di rubah dengan nama apapun, mari duduk bersama untuk menyatukan pendapat,” tutupnya. (TN-03).





