Angka 1,8 Kemiskinan Ekstrem di NTB merupakan Data P3KE, Sekda: Akan di Verivali 2023

Mataram, Talikanews.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, meluruskan pemberitaan yang menyebut angka kemiskinan ekstrem di NTB mencapai 1,8 juta jiwa lebih.

Sekretaris Daerah NTB, Drs. H. Lalu Gita Ariadi, menegaskan, angka 1,8 juta itu merupakan program kebijakan Pemerintah Pusat untuk menghapus kemiskinan ekstrem di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2024 melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2022.

Sebagai bentuk implementasi kebijakan itu, BAPPEDA NTB telah melaksanakan rapat koordinasi penanggulangan kemiskinan di NTB yang berorientasi untuk mengurangi pengeluaran dan meningkatkan pendapatan masyarakat serta menghilangkan kantong kemiskinan.

“Kami luruskan mispersepsi informasi data mengenai jumlah angka kemiskinan ekstrem yang dipaparkan pada Rakor kemarin,” kata Sekda, Senin 2 Januari 2023.

Ditegaskan Sekda, untuk mempertajam sasaran dalam rangka penghapusan kemiskinan ekstrem, Pemprov NTB melalui BAPPEDA bekerjasama dengan BPS dan BKKBN, akan melakukan verifikasi dan validasi (verivali) terhadap basis data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) sebanyak 1,8 juta jiwa itu.

Adanya kegiatan verifikasi dan validasi tersebut lanjut Gita, akan diketahui tingkat kesejahteraan masyarakat disertai dengan informasi by name by address. Sehingga intervensi program untuk menghapus kemiskinan betul-betul tepat sasaran.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Drs. Wahyudin, yang hadir saat itu memaparkan data kemiskinan ekstrem yang dikeluarkan oleh BPS maupun Bappeda konsepnya sama.

Perlu diketahui bahwa rentan kemiskinan dibagi dalam Desil 1-10. Desil 1 atau 10 persen adalah masuk kelompok kemiskinan ekstrem, Desil 2 atau 20 persen masuk dalam kelompok miskin dan sebagian lainnya masuk dalam kelompok hampir miskin.

“Jadi, data dari Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) dengan 1,8 Juta jiwa lebih penduduk NTB tersebut, merupakan bagian secara keseluruhan dari kemiskinan ekstrem sampai dengan kelompok miskin dan hampir miskin”, ucapnya.

Sedangkan, berdasarkan data pada Maret Tahun 2021 jumlah individu miskin ekstrem di Provinsi NTB sebesar 4,78 persen atau 252.048 jiwa. Sementara pada Maret Tahun 2022 sebesar 3,29 persen atau 176.003 jiwa. Artinya, dari periode Maret Tahun 2021 s.d. Maret Tahun 2022 terjadi penurunan angka kemiskinan ekstrem di NTB sebesar 1,49 persen.

“Terkait hal tersebut, memang tidak bisa langsung menyasar 176.003 individunya, karena begitu ada gejolak seperti kenaikan harga BBM, inflasi dan lainnya, kemungkinan yang ada diluar kategori miskin ekstrem akan jatuh juga ke potensi kemiskinan ekstrem tersebut,” ujar Wahyudin.

Kepala Bappeda NTB, H. Iswandi, membantah telah mengeluarkan data. Karena menurutnya, kemiskinan tidak hanya bertambah atau berkurang oleh orang yang memang teridentifikasi miskin, tetapi juga orang yang berpotensi miskin.

Terkait anggaran yang mengintervensi kemiskinan, sumbernya ada dari Pusat, Daerah dan Lembaga Masyarakat. Secara konkrit, ada penerimaan bantuan PBI JK, PKH, sebagai bentuk-bentuk penanggulangan kemiskinan yang bersumber dari APBN, sedangkan dari Pemprov ada bantuan sosial, hibah, serta bantuan lembaga masyarakat dengan APBD sekitar Rp 1,2 Triliun.

“Tugas kita melakukan pemutakhiran agar yang menerima bantuan tersebut sesuai data sebagai basis dalam mengintervensi dan kita pastikan yang paling prioritas itu di desil 1 yang merupakan kelompok kemiskinan ekstrem”, jelas Iswandi. (TN-red)

Exit mobile version