Tak Bermaksud Melecehkan Lembaga DPRD NTB, Ridwan Syah tetap Meminta Maaf

Mataram, Talikanews.com – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ir H Ridwan Syah menegaskan tidak pernah bermaksud melecehkan Lembaga DPRD dengan melontarkan bahasa Baper (bawa perasaan).

Kata Baper itu dilontarkan bukan untuk Lembaga Dewan, hanya keetika ditelpon salah seorang wartawan, waktu itu dirinya sedang lelah kemudian ditanya urusan MXGP. Ia pun menjawab sudah, event ini sudah sukses, kritik itu biasa saja cuman “kita semua jangan baper lah”, event ini telah mendatangkan efek positif bagi masyarakat.

“Sedikit pun tidak ada niat saya menghina Lembaga Dewan yang terhormat ini. Kata itu yang saya lontarkan kepada salah satu media saat menelpon. Tapi apapun itu, kalau ada yang tersinggung dengan judul berita itu, saya meminta maaf,” ungkapnya, Rabu 29 Juni 2022 seusai menghadiri rapat bersama Komisi IV DPRD NTB.

Ridwan Syah mengaku, Alhamdulillah permasalahan soal isu adanya penghinaan atau melecehkan Lembaga terhormat itu sudah clear dan sudah tidak ada masalah lagi.

Dikatakan Ridwan Syah, selain menghadiri undangan rapat Komisi IV terkait LKPJ tahun anggaran 2021, pihaknya juga mengaku sudah menghadiri rapat Komisi I DPRD NTB dan ditanyakan soal keterlibatan ASN dalam kegiatan MXGP Samota.

“Sudah saya jelaskan bahwa kegiatan MXGP itu murni Bussiness to.Bussiness (B to B). Adapun adanya keterlibatan pemerintah dalam kegiatan itu, jelas dong bahwa sesuai dengan amanat Undang-undang, bahwa pemerintah harus memberikan fasilitasi dalam fungsi pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Apalagi Samota itu masuk kedalam kawasan strategis provinsi dan itu tertuang dalam RPJMD dan RTRW,” tegas Ridwan Syah.

Dengan adanya keterlibatan pemerintah dalam kegiatan MXGP itu, menurutnya, kawasan tersebut akan menjadi berkembang. “Jadi kita ASN itu tidak terlibat dalam teknis penyelenggaraannya. Dan juga tidak ada APBD yang kami pergunakan. Meskipun ada SK Kepanitiaan yang diterbitkan oleh Gubernur NTB, tapikan tugasnya melaksanakan fungsi sesuai tupoksi misalnya, PU tugasnya memelihara jalan, mau ada SK atau tidak, tetap tugasnya PU adalah memelihara jalan,” tuturnya.

Selain itu ada tugas koordinasi misalnya melakukan koordinasi dengan Balai Jalan untuk memperbaiki jalan karena adanya event tersebut.

Pihaknya juga menjelaskan keberadaannya dalam event tersebut sama seperti ketika penyelenggaraan MotoGP Mandalika, dimana dirinya juga ditunjuk selaku Komandan Lapangan yang bertugas untuk memfasilitasi kelancaran kegiatan tersebut. Jadi urusan menyangkut anggaran teknis, dirinya tidak mengetahui sejauh itu.

“Berapa besar anggarannya dalam pelaksaan event itu, kita juga tidak tau. Karena kami tidak terlibat dalam urusan teknisnya,” timpalnya lagi.

Ditegaskannya, tugas pemerintah adalah melakukan fasilitasi dengan sejumlah pihak demi kelancaran kegiatan tersebut. Seperti memfasilitasi kebutuhan air di.lokasi sirkuit dengan PDAM, begitu pun dengan kebutuhan listriknya dengan PLN, dan jaringan internetnya dengan pihak PT Telkom.

Kemudian yang membayar semua kebutuhan itu adalah PT SEG sendiri dengan sejumlah pihak tersebut. Karena ini prinsipnya B to B. Maka PT SEG lah yang membayar semua kebutuhan dalam pelaksanaan kegiatan itu. Termasuk membiayai pembangunan sirkuitnya itu adalah kewajibannya PT SEG.

“Berapa besar angaran yang dikeluarkan dalam membangun sirkuit itu, saya sendiri tidak mengetahuinya. Tugas kami hanya mengawasi dan memantau aja,” ungkapnya.

Keterlibatan pemerintah menurutnya hanya bersifat koordinatif aja. Kenapa? menurut pejabat senior Pemprov NTB ini dikarenakan kepentingan Pemprov sangat besar untuk mempromosikan NTB ke kancah dunia.

“Kepentingan kita jelas dalam kegiatan MXGP ini. Karena kalau event ini sukses digelar maka dunia tentu akan mengenal daerah kita. Apalagi kalau ini sukses mereka akan menetapkan event ini selama lima (5) tahun kedepannya.

Kalau lima tahun digelar lanjutnya, maka bisa saja gelar di Bima atau di KSB, sehingga ada pemerataan ekonomi. Dan dimasa pandemi ini, pemerintah harus memiliki cara untuk membuat ekonomi masyarakat bangkit.

Nah kita punya pengalaman menggelar MotoGP dimana uang yang beredar di masyarakat itu sebesar Rp6 trilyun. Hal yang sama juga terjadi dalam pelaksanaan MXGP tersebut,” terangnya.

Pelaksanaan MXGP Samota diakuianya berjalan sukses. Diperkirakan 50 ribu orang memadati Rocket Sirkuit Samota tempat acara itu digelar.

Ia pun tidak menyangka animo masyarakat cukup besar dalam menonton MXGP. Bahkan jauh lebih besar dari orang yang menonton MotoGP. Ada sekitar 50 ribu orang yang datang menonton langsung.

“Informasi yang saya dapat sekitar 40 ribuan tiket terjual habis karena selain orang menonton MXGP, orang yang datang juga tertarik menonton konser musik. Setahun menghadapi masa pensiun, saya cukup bangga bisa mempersembahkan ini bersama duet Zul-Rohmi untuk NTB Gemilang,” pungkasnya dengan nada bangga. (TN-red)

Exit mobile version