Fraksi Gerindra Munculkan Wacana Interpelasi Gubernur, Dewan NTB Lain sebut Alasan Absurd

Mataram, Talikanews.com – Beberapa hari terakhir, muncul wacana interpelasi berasal dari Fraksi Partai Gerindra. Namun, bagi anggota DPRD NTB juga Sekretaris Fraksi PKS, Sambirang Ahmadi menyebut alasan interpelasi itu masih absurd kata lain tidak masuk akal atau konyol.

Sambirang Ahmadi meminta kepada pimpinan DPRD NTB supaya tidak merespon rencana hak interpelasi yang diajukan oleh Fraksi Partai Gerindra tersebut dikarenakan masih absurd nya alasan yang diajukan oleh fraksi.

Menurut Sambirang, pimpinan Dewan harus menolak usulan tersebut karena dalam ketentuan yang ada, hak interpelasi itu adalah hak meminta keterangan kepada pemerintah terkait kebijakan yang penting dan strategis yang berdampak luas terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Penafsiran terhadap makna berdampak luas terhadap masyarakat, berbangsa dan bernegara ini harus dilakukan secara cermat dan jelas berdasarkan indikator-indikator yang juga harus cermat dan jelas agar tidak menjadi absurd dan bertentangan dengan ketentuan yang ada,” kata Sambirang Ahmadi, Kamis 9 Juni 2022.

Sambirang pertegas batasan makna kalimat “Kebijakan yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat secara luas, berbangsa dan bernegara”, ini menurutnya harus mendapatkan tafsiran yang cermat dan jelas agar tidak kemudian menjadi absurd.

“Seperti apakah kebijakan tersebut? apa saja batasan-batasannya? apakah benar merugikan masyarakat atau malah menguntungkannya?. Semua kebijakan tersebut tentu memiliki manfaat besar terhadap masyarakat,” ujarnya.

Bagi politisi PKS ini, kalaupun ditemukan adanya sejumlah masalah dalam tingkat pelaksanaan pemerintah kepala daerah, tentu itu menjadi ranah Komisi-komisi untuk melakukan pengawasan. Ada juga inspektorat dan lembaga audit yang melakukan pengawasan. Batasan ini harus jelas dan cermat. Jangan sampai muncul opini publik bahwa kebijakan yang dimaksud hanya berdampak pada segilintir orang di Dewan ataukah seperti apa?.

Jadi lanjut Sambirang, kesannya menjadi tidak baik ataukah apakah karena pokir tidak cair sehingga dibilang merugikan masyarakat?. “Loh kalau pokir sudah dikerjakan, masyarakat tentu sangat senang dong. Adapun kalau pekerjaannya belum dibayarkan, kan ada proses yang harus ditempuh apalagi dengan kondisi keterbatasan anggaran akibat pandemi Covid19,” terang Sambirang.

Ia juga mengingatkan bahwa akibat wabah pandemi Covid-19, kondisi keuangan daerah mengalami keterbatasan, sementara disisi lain, hasrat belanja cukup tinggi, ini kemudian menurutnya berdampak pada sektor keuangan daerah yang kemudian mengalami ketidakseimbangan.

“Ini adalah kondisi yang semestinya harus dipahami bersama. Bahwa ditengah terbatasnya anggaran, keinginan belanja tinggi. Tentu siapapun pasti akan mengalami kelimpungan,” timpalnya.

Sambirang mengungkapkan tidak elok sebenarnya berbicara hak interpelasi terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah yang telah digulirkan, sementara Lembaga Dewan juga merupakan bagian terpenting yang ikut melakukan pembahasan terhadap proses perencanaan dan penganggaran dari setiap program pemerintah tersebut.

“Ini sebenarnya tidak elok. Kenapa? karena kebijakan yang tertuang dalam APBD itu merupakan hasil pembahasan bersama antara Pemerintah dan Lembaga Dewan. Baik dalam proses perencanaan maupun dalam proses penganggarannya. Semestinya ketika ada ketidaksetujuan dalam kebijakan tersebut, pada saat proses perencanaan dan penganggarannya sebelum APBD itu ditetapkan, ketidaksetujuan itu harus dinyatakan secara jelas pada saat pembahasannya tersebut. Bukan justru mempermasalahkannya sekarang,” tegas Sambirang.

Dalam kondisi daerah yang tengah menghadapi kesulitan, Sambirang berharap, duduk bersama dengan mengedepankan kepala dingin adalah lebih baik ketimbang membicarakan sesuatu hal yang sudah disepakati bersama.

“Sebab saat sekarang ini, daerah ini membutuhkan pikiran-pikiran yang positif agar bisa menghasilkan skema bersama untuk keluar dari masalah keterbatasan anggaran. Skema yang dibuat itu haruslah cermat dan tepat agar tidak terulang kembali masalah-masalah yang sama kedepannya,” imbuhnya.

Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Provinsi NTB, Sudirsah Sujanto, memastikan langkah interpelasi yang digawangi fraksi partainya terhadap sejumlah kebijakan Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah dan Dr Hj Siti Rohmi Djalillah, tetap berjalan terus dan tidak akan terhenti.

“Tetap berjalan dan tidak akan terhenti. Interpelasi ini adalah langkah kami untuk memperjuangkan kepentingan rakyat atau kepentingan masyarakat secara umum. Jadi bukan persoalan pribadi antara Gubernur dengan Partai Gerindra,” ungkap Sudirsah belum lama ini. (TN-red)

Related Articles

Back to top button