Tradisi Bau Nyale hanya Seremoni, Masyarakat Selatan Protes Dinas Pariwisata Loteng

Lombok Tengah, Talikanews.com – Kegiatan budaya Bau Nyale yang diselenggarakan secara seremoni, di Hotel Novotel Kuta Lombok Tengah, oleh Dinas Pariwisata setempat, mendapat protes keras dari masyarakat Selatan.
Ketua Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM), Lalu Al Amin mengatakan acara Baunyale ini merupakan budaya masyarakat sasak yang notabene tidak bisa dipindah. Tetapi hari ini, budaya sasak telah dirusak oleh oknum yang hanya mementingkan royalti.

“Kita jangan kalah dengan para pendatang yang ingin merusak tradisi dan budaya. Kita usir petinggi petinggi ITDC ini yang tidak paham tentang budaya sasak,” tegas Al Amin.
Lain halnya dengan Alus, Masyarakat Selatan mengaku kecewa dengan pemerintah yang menggelar acara seremonial event Bau Nyala di kawasan Hotel Novotel yang akses masuknya sangat privat untuk masyarakat.
Ia mempertanyakan alasan Pemda Loteng dan Pemprov NTB memindahkan acara event Bau Nyale ini ke Novotel. Kalau memang alasanya khawatir penyebaran covid-19, kenapa acara ini digelar di Novotel, padahal dari zaman nenek moyang acara Bau Nyale itu selalu dilangsungkan di Pantai Seger.
“Jika pemerintah khawatir ada lonjakan covid-19 berdalih masyarakat yang hadir, lantas kenapa pejabat dan orang orang elit ini boleh membuat acara sendiri. Apakah seremonial Bau Nyale ini hanya milik pejabat elit saja atau mereka kebal terhadap covid-19 sehingga hanya mereka saja yang boleh melakukan kerumunan,” kata Alus.
Sementara itu, Kepala Desa Kuta, Mirate mengaku tidak pernah dilibatkan oleh Pemerintah, bahkan setiap kali ia mengusulkan untuk mengadakan kegiatan sendiri, pemerintah tidak pernah merespon.
“Kami selaku pemerintah desa tidak pernah di dengar oleh pemerintah provinsi dan kabupaten ketika menyamapaikan aspirasi masyarakat,” kata Mirate
Terkait hal itu, Kepala Dinas Pariwisata Loteng, H Lendek Jayadi mengatakan, atas nama budaya dan masyarakat, sebenarnya ingin menggelar event Bau Nyale semeriah tahun sebelumnya seperti di Pantai Tanjung An atau di Pantai Seger. Akan tetapi, event itu tidak bisa digelar disalah satu pantai itu dengan alasan akses jalan yang menuju kedua lokasi itu sedang di kebut untuk pengerjaanya, mengingat waktu perherlatan MotoGP semakin dekat.
“Bukan kita tidak mau menggelar event Baunyale di pantai seger atau tanjung an dengan semeriah tahun lalu tetapi kita ada pertimbangan pertimbangan yang murni untuk kepentingan masyarakat kedepan,” tutupnya (TN-03)





