Karman: Experience pengunjung Mandalika, Gastro branding NTB perlu ditingkatkan

Mataram, Talikanews.com – Pasca perhelatan IATC dan WSBK, beberapa media mengangkat berbagai kuliner khas Lombok. Hal itu cukup menarik dan sangat dibutuhkan oleh pembaca, khususnya para pengunjung Lombok-Sumbawa.
Pola itu bisa disebut gatronomi, yaitu ilmu tata boga atau pengetahuan tentang makanan dan minuman yang baik. Ada juga mendefinisikan sebagai seputar makanan minuman enak dan tata cara menikmatinya.
Dalam ilmu public relation ada istilah tambahan Gastro branding dan atau gastro diplomacy. Sebuah kajian tentang strategi menciptakan citra yang baik melalui sajian-sajian makanan dan minuman yang khas dan enak, sehingga penikmat sajian itu memiliki pengalaman baru yang tidak dapat terlupakan. “Goalnya adalah citra yang baik,” ungkap Karman, dalam tulisannya.
Dirinya teringat ketika diajak temannya dari Pulau Jawa seusai nonton balapan di Mandalika, untuk santap makan, tempatnya berpindah-pindah. Kebetulan para tamu itu hobi kuliner, karena keterbatasan informasi, ia hanya mengajak makan ayam taliwang seputaran Cakra Mataram dan Seafood di Lembar dalam waktu berbeda.
Ia dapat memahami, mungkin temannya dan tamu lainnya kecewa, karena tak cukup memuaskan hobi kulinernya. Sampai-sampai mereka bertanya, di mana tempat makan babi enak? Seperti di bali katanya. Ia tentu menjawab tidak tau. Untuk menghindari jawaban yang asal tebak dan tunjuk saja. Karena memang ia tidak tau sama sekali.
Menurut Karman, literasi gastronomi bagi masyarakat NTB pada umumnya penting ditingkatkan. Mengingat akan banyaknya kunjungan wisatawan ke daerah ini nanti dan pasti akan mendapat pertanyaan serupa.
Oleh karenanya, Karman mengingatkan kepada Pemerintah perlu mempublikasi besar-besaran dan secara berkala Menu makanan dan minuman yang khas dari NTB, baik melalui media lokal hingga internasional.
“NTB itu punya ragam makanan khas yang sangat cocok di lidah orang Indonesia. Seperti Lombok punya pelecing, ares, serebuk, minuman tuak manis dan lainnya,” kata Karman.
Begitu halnya dengan Sumbawa yang mempunyai khas Singang, palumara, sepat, daging rusa dan seterusnya. Bima mempunyai khas Bingka dolu, uta londe puru, daging Ikan napoleon terbaik dunia, dan banyak lagi.
“Promosi gastronominya perlu ditingkatkan,” pesannya.
Kedua, pemerintah perlu untuk memfasilitasi warga membangun tempat kuliner khas Lombok dan Sumbawa. Sentra-sentra kuliner di Lombok ini sangat terbatas ragamnya. Sebut saja kawasan cakra dan karang taliwang untuk masakan ayamnya. Nasi Puyung sudah jelas di puyung dan sekitaran. Terus aresnya di mana? Seafoodnya di mana? Singangnya di mana? Sate pusutnya di mana? Dan sebagainya.
“Inilah saatnya semua komponen di NTB menghadirkan semua potensi kekayaan kuliner,” kata Karman.
Dengan demikian, orang yang datang ke NTB akan mendapatkan unforgettable dan infinity experience dengan menikmati makanan dan minuman khas seperti motto pariwisata NTB. Kita tunjukkan selain Wisata alam dan budaya, NTB juga punya potensi gastronomi yang sangat kaya. Sehingga Citra NTB semakin baik.
“Semoga Mandalika benar-benar akan jadi brand baru Indonesia di mata Dunia,” tutupnya (TN-red)





