
Mataram, Talikanews.com – Berdasarkan hasil analisis jangka menengah dan jangka panjang tahun 2020, oleh tim di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), Nusa Tenggara Barat akan menyerap sebanyak 570 ribu tenaga kerja, di semua sektor kawasan Destinasi Super Prioritas Mandalika.
Kepala Dinas Nakertrans Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, memaparkan berdasarkan data BPS pada bulan Februari 2021 angka pengangguran terbuka sebesar 3,95 persen yaitu sebanyak 109.074 orang dengan tamatan Universitas paling tinggi sebesar 7,07 persen. “Hal ini dikarenakan lulusan Perguruan Tinggi memilih-milih pekerjaan. Padahal skill dan pengalaman kerja masih sangat terbatas,” kata Gde.
Menurutnya, KEK Mandalika sebagai salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) dari 5 DSP di seluruh Indonesia, kini NTB juga sedang proses pengembangan kawasan industri di pulau Sumbawa, terutama dengan segera akan dimulainya pembangunan infrastruktur Smelter di KSB. Dengan adanya pembangunan beberapa sektor itu, maka akan membutuhkan tenaga kerja sekitar 570 ribu orang.
Bagi Gde Ariyadi, Pariwisata ini menggerakkan seluruh sektor, termasuk pertanian, peternakan, perikanan yang mensuplay bahan baku kebutuhan industri. Belum lagi transportasi, UMKM, telekomunikasi dan pembangunan infrastruktur lainnya.
“Proyek besar tersebut akan membawa berkah tersendiri bagi terbukanya kesempatan kerja yang cukup besar dalam jangka menengah maupun jangka panjang,” kata dia.
Gde Aryadi menambahkan, berdasarkan analisa awal yang dilakukan Dinas, di KEK Mandalika akan dibangun delapan hotel bintang lima dengan total investasi mencapai lebih dari Rp. 14 triliun, serta semua itu jelas akan membuka lapangan kerja baru.
“Tugas bersama yang segera kita lakukan adalah menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi/skill yang inline dengan kebutuhan dunia industri. Karena itu, dalam analisis ini, dunia industri harus terlibat aktif memberikan i formasi terkait skill yang dibutuhkan, sehibgga lembaga pendidikan vokasi dan lembaga pelatihan kerja bisa menyesuaikan kurikulumnya” ujar Gde.
Ia menyebut saat ini pihaknya bersama Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan Kerja dan industri (FKLPKI ) sedang menyusun buku informasi pasar kerja secara detail, termasuk skill yang dibutuhkan dalam 5-10 tahun ke depan.
“Mudahan bisa kita implementasikan secara konkrit dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sub Koordinator Analisis Pasar Kerja Indonesia Citra Anggaraini melaporkan analisis perkembangan pembangunan di 5 (Lima) destinasi wisata super prioritas bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap perkembagan penyerapan dan kebutuhan tenaga kerja, termasuk kebutuhan jenis pelatihan tenaga kerja, serta dampak ketenagakerjaan terhadap pengembangan ekonomi di wilayah masing-masing.
Terpilihnya KEK Mandalika sebagai destinasi wisata dunia, akan memberikan banyak manfaat. Salah satunya muncul banyak peluang dan kesempatan kerja baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dalam mengembangkan destinasi wisata super prioritas tersebut, hal yang tidak boleh dilupakan adalah penyiapan SDM tenaga kerja kompeten, berbarengan dengan pengembangan wisata medis.
“Kalau bisa pengembangan DSP KEK Mandalika, didukung wisata medis, sehingga harus ada RS bertaraf internasional yang menyajikan keindahan alam agar keluarga yang menemani pasien merasa terhibur dan tidak stres. Ini sekaligus dapat menambah lapangan kerja dan menyerap calon-calon tenaga kerja baru,” ujar Direktur Bina Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Kemnaker RI, Dr. Nora Kartika Setyaningrum.
Nora menjelaskan seringkali peraturan daerah mengatur tiap perusahaan wajib melibatkan tenaga kerja dari putra daerah sampai 80%. Hal ini dapat terlaksama asal pemerintah daerah bisa mempersiapkan para putra-putri daerah memiliki skill sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Ia menyebut pandemi mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat antara lain pada keberlangsungan usaha di hampir semua sektor. Demikian pula pengembangan pembangunan di lima destinasi wisata super prioritas, dimana terjadi pengurangan penyerapan tenaga kerja yang terlibat secara langsung dalam pengembangan di lima destinasi wisata tersebut.
“Analisis ini akan menyoroti bagaimana perkembangan penyerapan dan kebutuhan tenaga kerja serta kebutuhan pelatihan kerja sebelum dan saat terjadi pandemi,” ujar
Nora berharap dari hasil analisis ini secara umum akan menghasilkan rekomendasi mengenai berapa jumlah tenaga kerja yang dibutuhan dan jenis pelatihan kerja yang sesuai untuk mengisi kesempatan kerja yang ada di lima destinasi wisata tersebut dalam jangka pendek, jangka menegah dan jangka panjang serta strategi yang diterapkan oleh Kementerian/Lembaga dan Stakeholder terkait untuk mempercepat penyerapan tenaga kerja.
“Analisis Pasar Kerja ini juga akan memetakan sistem pasar kerja sektor pariwisata, mengidentifikasi jenis dan kualifikasi pekerjaan, mengestimasikan jumlah tenaga kerja yang akan dibutuhkan dan memetakan kebutuhan pelatihan,” pungkas Nora. (TN-red)