Belasan Ekor Kerbau Milik Warga, Mati Mendadak Setelah Masuk Kawasan Sirkuit Mandalika Lombok

Lombok Tengah, Talikanews.com – Belasan ekor Kerbau milik warga setempat, Mati setelah masuk di Kawasan Sirkuit Mandalika Lombok. Kuat dugaan, Matinya belas Kerbau diduga karena meminum air limbah proyek pembangunan Sirkuit tersebut.

Seorang tokoh masyarakat Desa Kuta Kecamatan Pujut, Alus Darmansah membenarkan adanya belasan ekor Kerbau milik Lalu Nune, mati secara bertahap. Sampai saat ini belum diketahui penyebabnya.

“Menurut informasi belasan kerbau itu digembalakan di sekitar Sirkuit Mandalika,” ujar Alus, Kamis 9 September 2021.

Konon lanjut Alus, belasan kerbau itu diduga memakan atau meminum air limbah yang ada di sekitaran kawasan itu. Namun, dirinya belum berani mastikan penyebab kematian Kerbau itu.

“Dari dulu Kerbau itu di gembala sekitar Kawasan Sirkuit. Baru kali ini terjadi hewan ternak mati secara tiba-tiba. Jadi, kita indikasikan mungkin belasan ekor kerbau itu mati lantaran memakan atau meminum air limbah yang beracun. Tapi, saya juga tidak berani memastikan dimana kerbau kerbau itu meminum air limbah itu,” ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, pemilik merugi hampir Rp 300 juta lebih.

“Kalau dihitung satu akor kerbau dengan harga rata-rata Rp 20 juta, maka estimasi kerugiannya hampir Rp 300 juta,” tutup Alus.

Disatu sisi, pemilik Kerbau, Lalu Nune, menuturkan, hingga saat ini sudah 18 ekor yang mati mendadak.

“Hari Rabu itu ada yang mati, Kamis ada juga dan tadi malam. Kalau totalnya 18 ekor sama anaknya masih kecil,” ucap Lalu Nune.

Lalu Nune menambahkan, ada juga yang sempat di sembelih. Yang aneh, sebelum Kerbaunya mati, Kerbau itu mengeluarkan busa warna putih.”Saya tidak tau, bisa mati begini, setiap hari ada saja yang mati,” katanya.

Mendengar informasi tersebut, tim dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB langsung turun Jumat pagi tadi ke Dusun Ketapang Desa Kuta.

Mereka turun dalam rangka mengambil sampel darah dari masing hewan milik Lalu Nune.

“Ada tiga ekor tempat kami ambil sampel, awalnya kami mau ambil semua Cuma sulit komunikasi dengan pemilik,” kata dokter Hewan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Muslih.

Muslih mengaku, pihaknya turun ke lokasi karena memang dari kemarin ada masuk laporan. Terlebih ada perintah dari Kepala Dinas untuk turun langsung.

“Jadi sampel yang ada ini kami akan bawa ke lab dan menunggu hasilnya keluar. Pemeriksaan lab juga adanya di Bali,” bebernya.

Laporan di lapangan, ada 15 ekor kerbau yang mati, namun tidak mati secara bersamaan. Ada juga yang berhasil diberikan anti biotik. “Kalau dibiarkan bahaya karena bias menjangkit kerbau yang lain. Apalagi ini satu kandang,” tuturnya.

Dari kejadian ini, dokter menduga sementara bahwa kerbau yang mati mendadak terkena penyakit ngorok atau septicaemia Epizootika (SE).

Penyakit menular ini hanya bisa menular kepada dua hewan yakni, sapi dan kerbau.

”Kalau keracunan disebabkan limbah mungkin belum mengarah ke sana ya, karena kami bicara berdasarkan gejala kami lihat. Kata pemilik juga kerbau ini minum air sumur bor selama ini,” jelasnya.

Untuk sementara, pihaknya akan menyampaikan apa penyebab kerbau ini mati mendadak nanti setelah ada keluar hasil laboratorium.

” Senin pagi atau siang kami informasikan hasil uji laboratorium,” pungkasnya (TN-red/03)

Related Articles

Back to top button