
Mataram, Talikanews.com – Salah seorang Anggota DPR RI, Dapil NTB 1, yakni Pulau Sumbawa, Johan Rosihan mendorong pemerintah pusat membentuk badan penghubung legal pangan, karena sangat penting yang nantinya bertugas mengurus hasil pertanian petani.
Anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi Pertanian, Lingkungan Hidup dan Kehutanan, juga Kelautan ini menyampaikan pentingnya badan penghubung legal pangan tersebut bahwa, kalau melihat hasil pertanian dari sisi produksi cukup bagus, masih bisa memenuhi kebutuhan pemerintah, bahkan bisa dibilang auto pilot. Akan tetapi, jika terus anggaran pertanian dikurangi akibat refocusing, jelas hasil pertanian juga akan terganggu.
“Saya berharap anggaran untuk pertanian itu tidak di refocusing, dan berharap anggaran yang telah di refocusing, secepatnya dikembalikan untuk membantu petani,” ungkapnya, Jumat 6 Juli 2021.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memaparkan persoalan yang dihadapi oleh petani saat ini yakni, ketika panen, harga pembelian sangat rendah, kata lain persoalan di rangkaian distribusi. Sehingga sangat penting pemerintah pusat membentuk badan penghubung atau badan pengawas legal pangan.
“Sudah jelas tiga pilar pertanian itu yakni, produksi, distribusi dan keterjangkauan. Nah, jika ada badan tersebut, harga bisa jadi tinggi karena ada yang mengawasi,” kata dia.
Menurut Johan, rendahnya harga pembelian ditingkat petani itu karena adanya permainan makelar antara petani dengan supplier. Padahal, kenyataan harga jual dari makelar ke pembeli lainnya cukup tinggi.
Badan Penghubung ini bertugas menghubungkan hasil produksi pertanian ke Kementerian terkait didalamnya Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Bulog dan lainnya.
“Disini celah permainan, sehingga agak susah badan pengawas atau penghubung pangan itu dibentuk, terlebih ada kepentingan. Namun, kita tetap mendorong itu demi kesejahteraan petani,” tegasnya.
Disinggung mengenai hasil produksi pangan di masa pandemi Covid-19. Johan menuturkan, hanya komoditi kedelai saja sedikit produksi. “Kalau komoditi lain, produksinya cukup banyak, hanya kedelai yang sedikit,” tutupnya (TN-red)