Direktur PT Tadji Mengaku di Tipu Ketua BPPD Loteng sebesar Rp 11,3 Miliar

Lombok Tengah, Talikanews.com – Direktur PT. Tadji Jaga Cabang NTB, H Riyan Jaki buka suara atas dugaan penipuan yang dilakukan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Loteng, Ida Sahabudin Wahyuni mencapai Rp 11 Miliar. Uang yang telah diserahkan ke Ida Wahyuni karena janji manis nilainya cukup besar.
Riyan Jaki mengaku merasa ditipu oleh Ida W, semua proyek dan kerja sama yang dijanjikan tidak sesuai dengan apa yang disampaikannya pertama kali bertemu.
“Ida menawarkan proyek Homestay 300 unit dengan sistem pengerjaan secara swakelola, saat ini sudah 70 unit yang sudah kami kerjakan dengan persentase pengerjaan sekitar 26 persen,” ujar Riyan saat konfrensi pers di Praya, Jumat 30 Juli 2021.
Dikatakan Riyan, proyek pembangunan 300 unit homestay yang di Lombok Tengah itu dihentikan lantaran sampai hari tidak ada kejelasan yang diberikan Ida Sahabudin. Padahal dulu berjanji proyek ini tidak ada masalahnya.
“Dari pada rugi lebih banyak, terpaksa saya hentikan dulu pembangunan proyek homestay yang tidak jelas ini,” ujarnya
Kerugian bukan hanya pada proyek Homestay saja, justru dalam event tentang pameran desa wisata yang rencananya dilaksanakan di kawasan ITDC tanggal 20-26 oktober tahun lalu.
“Kerugian di event bohongan yang di buat buat Ida itu sebesar Rp 3.5 Miliar. Dana itu di pakai untuk pembiayaan Paspampres, urus ijin keramaian dan Catering. Sisanya itu masuk rekening pribadi Ida sekitar Rp 400 juta belum lagi yang nominalnya 10 jutaan,” tegas Rian
Ia juga menceritakan setiap menanyakan kegiatan event kapan digelar, Ida selalu berdalih, masih terkendala di perizinannya, padahal sebelumnya sudah di transferkan dana untuk pengurusan izin dan sebagainya, Namun Ida menceritakan sudah di atur semuanya, tetapi kenyataan sampai hari ini event itu belum digelar.
“Jadi ini yang kita laporkan pertama dugaan penipuan dan penggelapan karena buktinya sampai sekarang event itu tidak pernah di gelar,” paparnya.
Selain itu pihaknya juga merasa di rugikan Ida Sahabudin saat pengadaan alat kesehatan untuk covid-19 sebesar 5,3 Miliar.
“Dijanjikan Ida tetapi itu tidak pernah ada sampai sekarang sehingga kami merugi sekitar 5,3 Miliar,” cetus Riyan.
Dari ketiga program yang ditawarkan Ida itu, semuanya bohong sehingga perusahaan mengalami kerugian hingga Rp 11,3 Miliar. Hal ini membuat perusahaan tidak mau berdamai.
Terpisah Ketua BPPD Loteng Ida Sahabudin Wahyuni saat di konfirmasi via telpon dirinya tidak bisa hadir pada acara mediasi itu lantaran ada keluarganya meninggal dunia.
“Ada keluarga saya yang meninggal, jadi saya gak bisa hadir. Kalaupun saya hadir pada mediasi itu percuma karena belum ada uang saya bawakan untuk menggantinya,” tutup Ida. (TN-03)





