Dewan NTB Geram saat mendengar Isu Vaksin Covid-19 Kosong, DinKes: Tidak Benar

Mataram, Talikanews.com – Salah seorang Anggota DPRD NTB H Najanuddin Moestofa geram saat mendengar hembusan kabar bahwa stok Vaksin Covid-19 di dua daerah lingkup NTB yaitu Kota Bima dan Kabupaten Lombok Tengah kosong.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) NTB ini cukup menyayangkan hal tersebut bisa terjadi. Seharusnya, Pemerintah jelas dalam melakukan pendistribusian vaksin hingga ke daerah-daerah.
Oleh karenanya, pemerintah provinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat bersama pemda di Kabupaten/Kota harus melakukan verifikasi terkait vaksinasi.
“Misalnya di Bima, dan Lombok Tengah kenapa (vaksin) bisa langka? Seharusnya (pemerintah) mengecek dulu semuanya dengan sangat intensif dan dilakukan verifikasi,” tegasnya, Kamis 8 Juli di Mataram.
Menurutnya, pendistribusian vaksin harus jelas sasaran dan tepat terkait siapa yang wajib vaksin dan tidak. Sehingga tidak perlu terjadi kelangkaan.
Oleh sebab itu, pemerintah diminta melakukan verifikasi agar menuai kejelasan soal vaksinasi. “Ndak boleh ada yang mengatakan bahwa ada dua kabupaten di NTB ini ada yang langka (vaksin). Kalau langka harus kita sama-sama langka dong. Nah, disinilah peran pemerintah provinsi sebagai lembaga konektif,” kata dia.
Terkait isu tersebut, Kepala Dinas Kesehatan NTB, H Lalu Hamzi Fikri yang dikonfirmasi menepis adanya kabar tersebut. Pasalnya, vaksin yang diperuntukan bagi kedua daerah di NTB itu sudah terdistribusi.
“Biasanya di drop ke Puskesmas. Kemungkinan yang dimaksud kosong adalah vaksin stok di gudang Kota Bima. Karena distribusi ke Saryankes,” kata mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini.
Dijelaskan Hamzi Fikri, vaksin untuk Kota Bima sudah terdistribusi. Sebelumnya vaksin dari pusat tiba di NTB pada 6 Juli lalu langsung diberangkatkan pada malam hari.
Keesokan harinya, malah vaksin sudah untuk Kota Bima sudah bisa digunakan sebanyak 3.100 dosis. “Untuk Kota Bima vaksin baru datang sore langsung berangkat 6 Juli malam. Sampai Bima 7 Juli, sudah bisa dipakai pelayanan sebanyak 3.100 dosis,” ungkapnya.
Begitu juga untuk Lombok Tengah, tanggal 8 sudah diambil (terdistribusi) 5.000 dosis. Meski demikian, persoalan vaksinasi terus dilakukan evaluasi. Bahkan saat ini proses tersebut sedang berjalan.
Begitupun dari sisi koordinasi dengan pihak pusat terus intens dilakukan. “Evaluasi sedang berjalan. Percepatan (vaksinasi) terus dilakukan, termasuk koordinasi dengan pusat untuk proses droping vaksin,” tutupnya (TN-red)





