Pengembangan 99 Desa Wisata di NTB Meniru Konsep Pengelolaan Monkey Forest Ubud Gianyar

Gianyar, Talikanews.com – Pengembangan 99 Desa Wisata di Nusa Tenggara Barat akan meniru konsep pengelolaan Monkey Forest yang ada di Desa Padangtegal Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Hal itu disampaikan oleh Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi, Kamis 1 April 2021.

Dihadapan Kepala Dinas Pariwisata Gianyar. Sambirang menyampaikan, kedatangannya untuk belajar cara pengelolaan monkey forest karena, di Nusa Tenggara Barat sedang dikembangkan Desa Wisata Karena DPRD NTB sedang merampungkan pembahasan Raperda Desa Wisata.

“Kami datang karena pengelolaan monkey forest yang merupakan destinasi wisata yang ada di Desa Padangtegal cukup bagus dan telah menyumbang pendapatan asli daerah. Setidaknya kami Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM) di NTB nanti, kalau tidak bisa kami tiru semuanya, mungkin kita ambil sedikit-sedikit,” ungkapnya.

Komisi yang membidangi Keuangan dan Perbankan menjelaskan, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, telah menandatangani SK penetapan 99 desa wisata yang fokus dikembangkan lima tahun ke depan. Tahun 2019, Pemprov fokus melakukan intervensi terhadap 25 desa wisata yang tersebar di NTB.

“Ada kaitan erat dengan penganggaran untuk Dinas Pariwisata Provinsi NTB, sehingga kami datang belajar terkait pengelolaan desa wisata seperti di Ubud,” kata dia.

Kepala Dinas Pariwisata Gianyar, Anak Agung Gede Putrawan, destinasi wisata monkey forest ini dikonsep pariwisata yang berbudaya. Wisatawan yang mendominasi berkunjung dari mancanegara. Hampir 90 persen mancanegara sebelum pandemi Covid-19. Sedangkan kaitan akomodasi sebagian besar bersentuhan dengan alam.

“Pariwisata Gianyar telah menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 1,2 Triliun sebelum Pandemi. Saat ini memang jauh berkurang,” tuturnya.

Bicara retribusi yang disumbang dari keberadaan pariwisata di Gianyar mencapai Rp 75 Miliar.

Saat ini lanjutnya, sedang mempersiapkan langkah menyambut pembukaan pariwisata pada bulan Juli mendatang dengan melakukan vaksinasi pelaku pariwisata kemudian dan menjamin CHSE.

“Di Gianyar, kami mengutamakan pelaku pariwisata, karena pariwisata ini adalah bisnis pergerakan orang. Termasuk memastikan hotel ada CHSE, ini juga harus ada dukungan dari masyarakat, pelaku pariwisata yang disiplin dengan membuat protap sendiri dan pemerintah mendukung,” paparnya.

Sebanyak 1.680 lebih hotel di Gianyar yang harus diajak kolaborasi memajukan pariwisata. “Pelaku pariwisata harus mendapatkan perhatian prioritas,” cetusnya.

Anak Agung Gede Putrawan menambahkan, model pengelolaan pariwisata di Gianyar, ada pola kerjasama, kemudian dikelola desa adat dan pihak swasta. “Sebelum Covid-19 kunjungan ke monkey forest sebanyak 6000 orang setiap hari. Tapi, saat pandemi 100 – 200 orang per hari,” kata dia.

Sementara itu, GM Monkey Forest, I Nyoman Sutarjana menuturkan, Mandala Suci Wenara Wana atau disebut juga Monkey Forest Ubud merupakan sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi yang terletak di desa Padangtegal Ubud, Bali.

Dipaparkan Sutarjana Objek wisata monkey forest di Ubud adalah sebuah kawasan hutan lindung yang sangat asri, dengan luas hutan sekitar 12,5 hektar. Di dalam area hutan lindung terdapat tiga pura Hindu yang bagi masyarakat lokal sekitar, sangat disakralkan. Pura yang paling besar di dalam area Mandala Wisata Wenara Wana Ubud yakni puranya Pura Dalem Agung Padangtegal.

Daya tarik utama dari objek wisata Ubud monkey forest untuk tempat liburan, terletak pada area hutan lindung yang dihuni ratusan kera-kera abu-abu berekor panjang. Selain dapat melihat kera, anda juga dapat melihat 186 jenis tumbuhan dan pepohonan.

“Dimasa pandemi Covid-19 ini tidak banyak yang berkunjung. Kalaupun ada, tetap kita kedepankan protokol kesehatan,” tutupnya.

Untuk diketahui, adapun desa wisata sesuai SK Gubernur NTB sebanyak 99 desa wisata tersebut tersebar di 10 kabupaten/kota. Untuk di Kabupaten Bima ada 10 desa wisata, yakni Kawinda Toi, Piong, Labuhan Kenanga, Oi Panihi, Sambori, Maria, Soro, Risa, Panda dan Tolotangga.

Di Kabupaten Dompu ada sembilan desa wisata, yakni Saneo, Malaju, Pancasila, Huu, Doropeti, Riwo, Madaprama, Nangamiru dan Lanci Jaya. Di Kota Bima ditetapkan empat desa wisata. Yakni Kolo, Dara, Kumbe dan Ule.

Kemudian di Kota Mataram ditetapkan empat desa wisata, yakni Tanjung Karang, Jempong Baru, Karang Pule dan Sayang-Sayang. Selanjutnya di Lombok Barat ditetapkan 13 desa wisata. Yaitu Buwun Mas, Mekar Sari, Pusuk Lestari, Pelangan, Senggigi, Banyumulek, Lingsar, Senteluk, Karang Bayan, Gili Gede Indah, Sekotong Barat, Batu Putih dan Labuan Tereng.

Di Lombok Tengah ditetapkan 16 desa wisata. Yakni Sukarara, Marong, Mertak, Lantan, Kuta, Labulia, Bonjeruk, Sepakek, Selong Belanak, Mekar Sari, Karang Sidemen, Rembitan, Aik Berik, Tanak Beak, Penujak dan Sengkol.

Di Lombok Timur ditetapkan 18 desa wisata. Antara lain Tetebatu, Sembalun Bumbung, Kembang Kuning, Pringgasela, Tanjung Luar, Jeruk Manis, Sekaroh, Sembalun Lawang, Lenek Ramban Biak. Jerowaru, Labuhan Pandan, Sugian, Lenek Pesiraman, Bebidas, Senanggalih, Seriwe, Sapit dan Sembalun.
Kemudian di Lombok Utara ditetapkan delapan desa wisata. Senaru, Pemenang Barat, Genggelang, Sokong, Karang Bajo, Santong, Medana dan Gili Indah.

Di Sumbawa ada 9 desa wisata, yakni Pulau Bungin, Marente, Batudulang, Lantung, Labuan Aji, Labuan Jambu, Lenangguar, Teluk Santong dan Lepade. Terakhir di Sumbawa Barat ditetapkan 8 desa wisata. Yakni Mantar, Tatar, Pototano, Labuhan Kertasari, Labuhan Lalar, Beru, Pasir Putih dan Sekongkang Alas. (TN-red)

Related Articles

Back to top button