Musda Golkar NTB Ancaman Airlangga Hartarto Tak Lolos Maju di Pilpres 2024

Mataram, Talikanews.com – Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Nusa Tenggara Barat (NTB) yang digelar Selasa 2 Maret 2020, di Santika Hotel, Mataram. Merupakan ancaman kegagalan Ketum Golkar, Airlangga Hartarto maju di Pilpres 2024 mendatang. Hal itu disampaikan mantan Sekretaris Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) H L Winengan.

Winengan menyayangkan sikap pengurus Golkar di NTB, yang menganggap bahwa Dewan Pimpinan Daerah (DPD) partai Golkar menerapkan aturan yang tidak sesuai Anggaran Dasar (AD) Anggaran Rumahtangga (ART) yang seharunya menjadi landasan penentuan segala kebijakan yang ada dalam Musda.

“Yang paling disayangkan Winengan adalah pemberhentian Ketua DPD Golkar NTB H Moh Suhaili dan diganti oleh Plt yang ditunjuk pusat,” ungkap mantan sekretaris salah satu sayap Partai Golkar ini.

Dikatakan Winengan, pemeberhentian Suhali menurut DPP karena dia sudah habis masa jabatannya, sedangkan Winengan menilai bahwa ini permainan DPP sebab beberapa kali H Moh Suhaili meminta Musda Golkar namun terus di undur.

“Saya curiga kalau ini adalah permainan DPP atau segelintir orang yang ada di tubuh Golkar yang tidak menginginkan H Moh Suhaili menjadi Ketua Golkar lagi,” kata dia.

Selain itu pemberhentian dirinya sebagai sekretaris MKGR sehari sebelum Musda, membuat ada dugaan pelaksanaan Musda ini setingan semata, untuk melengserkan H Moh Suhaili.

“Saya heran, kok saya tidak dikasih tau kalau sudah dipecat menjadi Sekretaris MKGR, ada apa ini. Padahal dalam AD/RT semua harus melalui musyawarah dan mufakat, dan ini juga baru saya tau sehari sebelum Musda digelar,” ujarnya.

Pengurus PW NU NTB ini menyebut bahwa kalau Airlangga bersikap seperti ini di NTB jangan berharap bisa menjadi calon presiden. Karena, dirinya akan menyuarakan kata hatinya melalui semua organisasi yang dia pegang, termasuk juga NU.

“Saya akan menyuarakan semuanya melalui semua organisasi yang saya pegang termasuk NU,” tegasnya.

Disatu sisi, H Moh Suhaili yang dihubungi Winengan via telepon juga merasa terdzolimi dengan semua perlakuan Plt ketua Golkar dan pengurusnya.

Didalam pembicaraan itu, Suhaili akan mendeklarasikan dirinya untuk keluar dari Golkar.

“Saya pastikan keluar dari Golkar, apa gunanya saya masuk Golkar kalau di zolimi seperti ini,” jelasnya

Dia menilai dirinya sebagai orang kecil yang tidak mempunyai masa yang besar, tapi mengingatkan bahwa tidak ada orang jatuh karena batu yang besar.

“Saya bukan orang besar tapi ingat, tidak ada orang jatuh karena batu besar, justru orang jatuh karena kerikil,” pungkasnya.

Pantauan media ini, hingga pukul 17.40 Wita, Musda tersebut belum di buka. Padahal, di undangan tertulis pukul 14.00 Wita. (TN-red)

Related Articles

Back to top button