Belasan Warga Dusun Eyat Nyiur mengalami Sesak Nafas, Ada yang Lumpuh bahkan Meninggal Dunia

Lombok Tengah, Talikanews.com – Kasus penahanan Empat Ibu Rumah Tangga (IRT), asal Dusun Eyat Nyiur, Wajageseng, Kecamatan Kopang, lantaran dituduh merusak gudang tembakau milik H M Suwardi. Membuka tabir yang tersimpan selama beberapa tahun lalu.

Dimana, keberadaan pabrik tembakau itu diduga telah mencemari volusi. Pasalnya, banyak warga Dusun Eyat Nyiur, Wajageseng mulai dari anak-anak bahkan dewasa mengalami penyakit sesak nafas.

Kepala Dusun Eyat Nyiur, M Suhaidi mengaku pernah sakit selama satu bulan penuh, bahkan di infus. “Saat penahanan Empat orang warga saya karena dituduh merusak, saya tidak tahu apa-apa disebabkan sakit, dan tidak ada pemberitahuan dari pihak kepolisian terkait rencana penahanan,” ungkapnya, Sabtu 21 Februari 2021, di Rumahnya.

Suhaidi mengaku, sakit yang dirasakan hanya di kepala, dibilang sesak nafas tidak, namun rasanya sulit nafas. “Tensi drop, sehingga di infus,” kata dia.

Menurutnya, sakit ini merupakan ujian dari Allah, dan dirinya belum berani menjustice apakah karena keberadaan gudang produksi tembakau atau tidak.

Yang jelas, ada bau menyengat yang ditimbulkan ketika gudang itu beroperasi. “Informasi saya terima, tim Dinas Kesehatan mau turun melakukan pemeriksaan kesehatan warga,” ungkap dia.

Korban lain, Suhaini yang jarak rumah sekitar 20 meter dari gudang tembakau itu menuturkan hampir 8 tahun mengalami sakit sesak nafas setelah pindah Dusun ke Dusun Eyat Nyiur.

“Sebelum saya pindah rumah, tidak pernah merasakan sakit nafas sampai umur 60 tahun ini, hanya filek biasa dan demam,” tuturnya.

Dia mengaku, ada bau menyengat dirasakan saat menghirup udara diwaktu tertentu, terlebih ketika hujan dan saat proses pengemasan tembakau oleh UD Mawar Putra.

Senada yang dialami Ibu Alan. Dirinya mulai merasakan lelah nafas sejak pindah rumah di Dusun Eyat Nyiur. “Saya pernah periksa ke dokter, di informasikan bahwa ada penyempitan ruang paru-paru. Ini saya alami sekitar 5 bulan terakhir,” tuturnya.

Ditegaskan bahwa, tidak ada dari keluarga yang mengalami penyakit bawaan sesak nafas. “Jarak rumah saya dengan gudang tembakau itu sekitar 15 meter,” kata dja.

Lain halnya dengan Hasina (10) mengaku lelah bernafas. “Saya merasakan sakit dan lelah bernafas. Ini sudah lama saya alami,” cetusnya.

Selengkapnya : Belasan Warga Sesak Nafas

Keluhan itu juga muncul dari Hirman. Dirinya menuturkan bahwa anaknya yang berumur 7 tahun di diagnosa sesak nafas oleh dokter.

“Sejak umur 1 tahun anak saya mengalami sesak, dokter bilang sesak karena terlalu banyak menghirup rokok. Padahal, saya tidak merokok, tidak ada riwayat sesak nafas di keluarga,” ungkapnya.

Dia menduga sakit yang dialami warga setempat lantaran bau tidak sedap ditimbulkan saat gudang tembakau beroperasi.

“Kalau tiba waktu produksi, langsung saya ajak anak dan istri masuk rumah, takut bau menyengat. Bagaimana tidak, jarak rumahnya sekitar 20 meter dari gudang,” kata dia.

Dia juga pernah merasakan sakit sesak di dada ketika menghirup bau wangi menyengat layaknya bau rokok elektrik. “Melekat rasanya di tenggorokan, waktu sakit disuruh hindari orang merokok, padahal saya tidak merokok, kan aneh,” tegasnya.

Hirman berharap, gudang tembakau tersebut supaya pindah lokasi jauh dari pemukiman warga. Kalau memang tidak mau, silahkan di tutup saja, daripada mengorbankan banyak orang.

Salah seorang warga setempat Arian pun angkat bicara, dirinya sering menerima keluhan dan informasi warga mengalami sesak nafas.

Yang lebih parah, ada yang lumpuh dan meninggal dunia. “Saya juga tidak tau apakah karena bau menyengat ditimbulkan gudang tembakau atau tidak,” kata dia.

Namun, dirinya tidak menampik bahwa, ada salah seorang mantan pegawai gudang tembakau yang mengalami keguguran.

Adapun nama anak-anak disekitar perusahaan yang saat ini terpapar lelah bernafas yang dihimpun media ini yakni, Maulida Nurbaiti (8) , Hasina (10), Alifa (7), M. Balibulhak (10), Halifatul Hilmi (9), Sri Dewi Anjani (4), Abizar (2), Nabila (2), Ananda (1) dan Julia (10).

Anggota BPD Wajageseng, Irwandi mengaku, sering tampung aspirasi masyarakat, yang terdata mengalami sesak nafas mencapai puluhan orang. Terlebih saat pencampuran cairan pemanis di tembakau.

“Contoh Mauliada, yang Lumpuh saat ini, saat dibawa ke dokter, di imbauan supaya hindari rokok,” ujarnya.

Irwandi mengatakan, keberadaan gudang tembakau itu sudah lama menjadi keluhan warga. Bahkan pernah mediasi antara pemilik dengan warga sekitar bulan Agustus 2020, namun saat itu tidak ada solusi, malah pihak perusahaan bilang “kalau tidak tahan silahkan pindah rumah”.

Yang jadi persoalan lain, pekerja lebih banyak orang luar. Masyarakat setempat hanya sedikit.

“Tuntutan warga bukan minta ditutup tapi pindah gudang ke sebelah timur. Karena disana juga ada gudang milik H M Suwardi,” kata dia.

Terkait keluhan masyarakat itu, pemilik UD Mawar Putra atau gudang tembakau, H M Suwardi membantah warga tersebut sakit lantaran keberadaan operasi gudang.

“Kalau itu benar terjadi, puluhan karyawan saya sudah mengalami sakit. Tapi, sampai saat ini mereka sehat saja,” tegasnya.

Bagi dia, kalau memang benar warga sakit lantaran keberadaan gudang, dirinya siap mendatangkan dokter, menyediakan fasilitas berobat.

Disinggung cairan apa yang digunakan untuk meracik tembakau? H M Suwardi justru tidak mau membuka rahasia perusahaan. “Tidak mungkin kami buka rahasia perusahaan,” katanya.

Dia mengatakan, kalau memang keberadaan gudang ini menjadi keluhan masyarakat, dirinya akan ubah pola, tidak lagi digunakan untuk pengemasan tembakau melainkan sebagai gudang penampungan saja dan langsung.

“Nanti saya alih fungsikan, kalau ada modal, saya mau bangun tempat meracik. Terus gudang yang sekarang jadi gudang penampungan setelah siap diantar,” tutupnya (TN-red)

Exit mobile version