Tergerus Pendemi Covid-19, Pengrajin Tenun Tradisional Kesulitan Pasarkan Produk

Lombok Tengah, Talikanews.com – Tak hanya berdampak pada sektor Kesehatan dan pariwisata, wabah covid-19 juga berdampak serius pada keberlangsungan usaha mikro kecil menengah seperti para pengrajin tenun tradisional di Kabupaten Lombok Tengah.

Malah, belum ada jelasnya kapan akan berakhirnya covid-19 ini, semakin berat beban yang di rasakan para pengrajin terutama usaha kecil menengah.

Satriadi Ketua Asosiasi Tenun Lombok Tengah mengaku sejauh ini, puluhan pengrajin tenun tradisional yang berada dibawah naungannya khusunya di Kabupaten Lombok Tengah mengalami kesulitan memasarkan produk kerajinan mereka, karena belum pulihnya dunia pariwisata akibat pandemi covid-19 yang melanda.

“Kita akui memang untuk pemasaran tenun saat ini sangat sulit karena kondisi pandemi covid-19 yang tidak ada kejelasanya kapan akan berakhir,” ujar Satriadi selaku Ketua Asosiasi tenun Lombok Tengah. Senin 23 November 2020.

Di sisi lain, sepinya kunjungan wisatawan sejak awal merebaknya covid-19 juga menjadi salah satu penyebab merosotnya omset mereka, hingga 70 persen dari kondisi normal sebelumnya.

“Sebelum pandemi banyak wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung yang membeli tenun sebagai oleh-oleh, namun saat ini wisatawan lokalpun tidak ada yang datang,” jelasnya

Meski memilih tetap bertahan, namun para perajin khawatir mereka akhirnya akan gulung tikar, dan menghentikan operasional untuk sementara, karena tidak ada pemasukan yang pasti. Oleh sebab itu pihaknya merasa kesulitan untuk mengangkat kembali usaha mikro kecil menengah seperti para perajin tenun yang ada di naungannya apa bila tidak ada bantuan dari pemerintah.

“Yah mau gimana lagi kalau tetap produksi sementara pembeli nggak ada percuma juga,” keluhnya.

Selain berharap pandemi cepat berlalu, saat ini tak kurang dari 10.024 perajin tenun tradisional di Lombok Tengah, menunggu regulasi pemerintah untuk menggairahkan kembali dunai pariwisata, yang selama ini menjadi pasar utama, para perajin menjual produk mereka.

“Harapannya Covid-19 ini segera berakhir dan pariwisata dibuka kembali, agar para pengrajin tenun bisa memasarkaan produk mereka ke wisatawan,” tandasnya.

Rahma pelaku usaha pengrajin tenun mengatakan hal yang sama bahwa saat ini usaha yang di gelutinya seolah mati suri namun ia berusaha tetap bertahan di tengah pendmi covid 19.

“Mata pencarian saya hanya sebagai tukang tenun jadi saya susah untuk mencari usaha yang baru lagi tetapi kondisi saat ini kami sudah kelabakan dan merasa kesulitan,” tutupnya (TN-03)

Related Articles

Back to top button