BMKG Mataram Luruskan Informasi Gempa Capai 8,8 Magnitudo Ancam Pulau Bali dan Nusa Tenggara

Mataram, Talikanews.com – Adanya informasi terkait Gempa 8,8 Magnitudo yang mengancam Pulau Bali dan Nusa Tenggara, bahkan bisa mencapai 9,1 Magnitudo seperti Aceh, langsung diluruskan Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Ardhianto Septiadhi.

Ardhianto menyampaikan bahwa perlu masyarakat memahami potensi gempa bumi untuk mitigasi gempa bumi dan dampak bawaan nya.

Dia menjelaskan, gempa bumi tektonik adalah gempa yang terjadi akibat pergeseran kerak Bumi. Dampak bawaannya sangat beragam baik kerusakan bangunan, tanah longsor, liquifaksi dan tsunami. Sehingga mitigasi gempa bumi dan dampaknya menjadi hal yang mendesak untuk daerah rawan gempa bumi seperti Indonesia.

“Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana),” ungkapnya, Sabtu 10 Oktober 2020.

Dia menjelaskan, salah satu hal penting dalam mitigasi gempa bumi dan tsunami dengan melakukan penguatan infrastruktur seperti bangunan tahan gempa dan lainnya, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, “Awareness and Preparedness”, dan mempertahankan sikap tersebut. Sehingga masyarakat selalu waspada dan siap menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami.

“Untuk meningkatkan kesiapsiagaan tentunya diperlukan sinergitas antara semua pihak*. Salah satu hal penting adalah pemahaman potensi gempa bumi. Mengapa kita perlu memahami potensi gempa bumi? Hal yg mendasar karena gempa bumi tidak bisa diprediksi dan dampaknya besar,” tuturnya.

Oleh sebab itu, pakar gempa melakukan penelitian untuk mengukur potensi gempa bumi di suatu segmen kegempaan. Seperti contoh segmen selatan jawa. Dengan mengetahui potensinya maka akan dapat digunakan untuk perencanaan penanggulangannya.

Namun hal ini kadang sering di salah artikan. Pakar menciptakan model potensi bencana, tujuan utamanya adalah menjadi acuan mitigasi. Bukan untuk dipahami hal itu pasti terjadi dan seolah olah itu akan terjadi besok pagi. Permasalahan ini tentunya perlu adanya perubahan paradigma di masyarakat. Kenali potensinya, siapkan mitigasinya, dan masyarakat menjadi tangguh terhadap bencana,” kata dia.

Ardhianto Septiadhi pun membagikan tulisan salah seorang pengamat Gempa bernama I Gusti Ketut Satria Bunaga, S.tr, judulnya “POTENSI GEMPA MEGATHRUST DAN TSUNAMI, BAGAIMANA KITA BERSIKAP?”

Dalam tulisan I Gusti Ketut Satria Bunaga, bahwa belakangan ini sering mendengar “selatan Pulau Jawa berpotensi gempa mega thrust dan tsunami”. Sontak dalam benak bahwa wilayah tersebut benar-benar akan terjadi bencana dahsyat dalam waktu
dekat ini. Kekhawatiran dan kepanikan adalah kesan pertama yang berkembang di tengah-tengah masyarakat kini.

Mengapa instansi pemerintah maupun akademisi memberikan “statement” seperti itu? Bagaimana harus menyikapinya? Gempa Mega thrust Baru mendengar kata “mega thrust”, yang terbayang adalah gempa bumi yang menghasilkan kekuatan dahsyat dan semua akan hancur. Sebenarnya kemunculan kata “Mega” berawal dari jalur subduksi lempeng yang sangat panjang dan kedalamannya yang dangkal sepanjang busur kepulauan Indonesia (Sumatera hingga Utara Papua). Pada jalur subduksi lempeng tersebut, terdapat bidang kontak antar
lempeng yang bertanggung jawab sebagai sumber gempa-gempa dangkal di zona ini.

Umumnya, aktifitas gempa pada zona ini memiliki pergerakan naik (thrusting) akibat terdorongnya lempeng benua keatas atau naik. Sebagaimana aktifitas subduksi yang dimaksud adalah pergerakan lempeng samudera yang bertabrakan dan menghunjam ke bawah dari bagian lempeng benua.

Sehingga sudah terjawab mengapa ada kata “thrust”. Berdasarkan catatan sejarahnya hingga kini, aktifitas pada zona Mega thrust memicu gempa besar hingga kecil. Namun, berdasarkan hasil monitoring Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), justru gempa bumi berkekuatan kecil yang sering terjadi jika dibandingkan dengan gempa besar.

Adapun gempa bumi tersebut sempat diikuti oleh kejadian tsunami, sebagai contoh Gempa bumi Pangandaran 2006 dan Gempa bumi Aceh 2004. Jauh sebelum tahun 2004, tercatat pula gempa bumi lainnya seperti pada tahun 1857 (M7), 1897 (M5.5) dan lain-lainnya.

Tsunami Masih belum terpikirkan, bagaimana bisa gempa bumi tersebut menyebabkan tsunami di masa lampau. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, hal tersebut dapat terdeteksi berdasarkan penelitian paleo tsunami.

Penelitian ini memanfaatkan bukti-bukti geologi berupa endapan pasir tsunami yang terstruktur secara khas. Sedangkan penentuan umur dari endapan itu menggunakan metode pertanggalan radiokarbon. Potensi Kumpulan kajian-kajian ilmiah, catatan sejarah, data sains yang kuat inilah, para ilmuwan mampu menggambarkan suatu potensi yang akan ditimbulkan.

Berdasarkan pengertiannya, “potensi” berarti kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang atau kemampuan yang masih terpendam , lalu kekuatannya pun dapat terpetakan. Lebih-lebih lagi sudah banyak kajian atau penelitian yang mengulik potensi di zona mega thrust ini. Dengan kata lain, zona mega thrust Indonesia sudah dapat dikenali potensinya dengan memilih skenario terburuk (worst case), tetapi ini bukan suatu
prediksi yang memberikan keterangan waktu terjadinya.
Mengapa masyarakat harus mengetahuinya? Sampai saat ini tidak ada negara satupun yang berhasil mengetahui kapan terjadinya gempa, sehingga melalui pernyataan “potensi” inilah, upaya satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah “mitigasi”.

Fokus pada upaya mitigasi dirasa sangat perlu dan segera dilakukan saat ini, daripada kita terombang-ambing di tengah ketidakpastian kapan gempa akan terjadi. Tentu temuan ini sangatlah bermanfaat untuk kemanusiaan karena mampu memberikan “peringatan dini” untuk mencegah atau meminimalisir kerugian yang diderita masyarakat dan bahkan korban jiwa.

Lagipula kondisi ini bukanlah sesuatu yang
baru, sehingga tidak perlu panik soal gempa mega thrust dan potensi tsunami. Justru beruntung sejak dini sudah diberitahu, sehingga kita memiliki “spare time” atau waktu luang untuk mempersiapkan mitigasi yang lebih baik dan terorganisir.

Masyarakat kini ramai memperbincangkan soal ini, hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat sudah makin peduli dan ingin tahu yang mendalam mengenai potensi bencana, khususnya gempa bumi dan
tsunami. Semoga kasus semacam ini, masyarakat mampu mengambil sikap dengan bijak sehingga kita hidup dengan nyaman di daerah rawan bencana. (TN-red)

Related Articles

Back to top button