DPR RI Fraksi PKS minta KemenPUPR Investigasi RS Galang Batam

Jakarta, Talikanews.com – Anggota DPR RI , Fraksi PKS, Suryadi Jaya Purnama meminta kepada Kementerian PUPR untuk segera menginvestigasi Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Covid-19 Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri) yang mengalami kerusakan pada fasilitas perawatan pasien akibat dihantam angin puting beliung, Rabu 16 September 2020, sekitar pukul 02.30 WIB.
Permintaan investigasi itu oleh Komisi V DPR RI itu agar segera diketahui tingkat kerusakannya dan apakah kerusakan itu berhubungan dengan perencanaan atau pengerjaannya yang kurang baik.
“Fraksi PKS juga berharap fasilitas yang rusak segera diperbaiki agar dapat digunakan kembali untuk merawat pasien Covid19 dan meminta dilakukan penyesuaian dengan kondisi lingkungan sebagai antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” ungkapnya, Kamis 17 September 2020.
Sapaan SJP itu menyampaikan, hal ini mengingat jumlah kasus Covid19 dan tingkat keterpakaian ICU yang terus meningkat setiap hari sehingga dikhawatirkan suatu saat fasilitas RSKI Pulau Galang tersebut akan benar-benar dibutuhkan pada kapasitas penuh.
Dipaparkan SJP, ada Empat ruang perawatan yang mengalami kerusakan cukup parah akibat kebocoran yang terjadi pada ruangan karantina 240. Sehingga ruangan tersebut untuk sementara waktu tidak dapat digunakan dan pasien-pasien yang dirawat dipindahkan ke ruangan lain.
Menurut informasi yang didapat lanjutnya, kerusakan pada fasilitas itu itu disebabkan posisi bangunan yang berhadapan dengan alam terbuka, sehingga angin dapat langsung menerjang bangunan tersebut tanpa ada penghalang.
Politisi PKS Dapil Pulau Lombok itu menyebut, RSKI Covid-19 Pulau Galang mulai dibangun pada 8 Maret 2020 dan resmi dioperasikan pada 6 April 2020. Fasilitas ini diharapkan bisa menjadi persiapan apabila kasus semakin meningkat seperti rumah sakit darurat di Wuhan, China.
Dalam proyek tersebut, KemenPUPR menunjuk PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk sebagai pelaksana konstruksi dengan anggaran mencapai Rp 400 miliar.
“Dengan anggaran sebesar ini sangat disayangkan jika fasilitas yang ada ternyata mudah rusak. Beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab kerusakan ini adalah akibat bahan dan pengerjaan yang tidak sesuai standard atau desain dan perencanaan yang tidak matang sehingga tidak sesuai dengan kondisi lingkungan,” tutupnya (TN-red)





