Ketua DPRD NTB: Aneh, Tak Ada Hubungan Deplomasi Tapi Ekspor ke Israel

Mataram, Talikanews.com – Adanya hubungan dagang yang dilakukan Dinas Perdagangan Provinsi NTB, berupa kerajinan Alang-alang dan kerajinan Batu Alam dengan Negara Israel. Memantik pertanyaan banyak pihak.

Ketua DPRD NTB, Hj Baiq Isvie Rupaeda menyayangkan sikap yang diambil Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perdagangan. “Ini tidak boleh terjadi, kita tidak ada hubungan deplomasi, tapi kok bisa ada ekspor kerajinan ke negara Israel itu,” kesalnya usai rapat paripurna, Senin 23 Agustus 2020.

Menurut Politisi Partai Golkar itu menyebut, hubungan dagang ini sangat aneh. “Apakah tidak adanya hubungan deplomasi, tapi bisa berpengaruh ke hubungan dagang, sangat di sayangkan,” kata dia.

Disinggung apakah ada rencana panggil Gubernur? Bagi Isvie, tidak sejauh itu, karena ini soal evaluasi, kalau ini terjadi, tidak boleh dilanjutkan, kecuali ke Amerika yang memang memiliki hubungan atau deplomasi.

“Meskipun menguntungkan, tetap langkah itu salah karena, tidak ada hubungan dagang dan itu melanggar,” ujarnya.

Yang jelas, DPRD akan mendukung, Pemda melakukan perdagangan dengan negara yang memiliki hubungan deplomasi.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, melalui Dinas Perdagangan membantah ada perjanjian dagang dengan Israel. Meski sejumlah produk NTB tercatat masuk ekspor ke Israel dan Negara Timur Tengah lainnya, namun NTB tidak punya ikatan kerjasama dalam bentuk perjanjian dagang.

Kepala Dinas Perdagangan NTB, H Fathurrahman mengatakan, produk NTB memang tercatat berdasarkan Surat Keterangan Asal (SKA) yang biasa di sebut Certificate of Origin (COO). Surat ini merupakan sertifikat asal barang, dimana dalam sertifikat dinyatakan bahwa barang/komoditas yang di ekspor berasal dari daerah/negara pengekspor.

“SKA digunakan untuk mengontrol laju ekspor di Indonesia, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan no 19 tahun 2019 tentang ketentuan dan tata cara penerbitan SKA untuk barang asal Indonesia. Memang produk kita di ekspor ke sejumlah negara, tetapi tidak ada perjanjian dagang (dengan Israel) itu,” ungkapnya, Jumat 21 Agustus 2020.

Fathurrahman menyampaikan, hingga bulan Juni 2020, ekspor NTB terbesar masih berasal dari tambang sebesar 94, 12 persen dengan negara tujuan Filipina, Korsel, Jepang dan China. Sedangkan Non Tambang dengan nilai 5,88 persen atau 5.490.840 dolar terbesar disumbang oleh komoditi Perikanan dan kelautan (2,31 persen) dengan negara tujuan Malaysia, China, Australia dan Hongkong. Berikutnya berasal dari komoditi Pertanian dan Perkebunan (3,42 persen) dengan negara tujuan Perancis, Korsel dan Hongkong. Sisanya berasal dari Kerajinan (0,15 persen) dgn negara tujuan USA, Jerman, Norway dan Israel.

“Propinsi NTB tidak pernah melakukan perjanjian dagang dengan pihak luar negeri karena sesuai Peraturan Presiden nomor 71 Tahun 2020 tentang tata cara persetujuan perjanjian perdagangan internasional, bahwa kewenangan tersebut ada di Pemerintah Pusat,” kata dia.

Fathurrahman mengakui pandemi Covid-19 memang berpengaruh pada kegiatan ekspor.
“Tahun ini nilai ekspor kita hampir 4,2 juta Dolar. Termasuk ekspor kerajinan olahan, pada Maret lalu,” ujarnya.

Menurutnya, ekspor selanjutnya saat ini masih terkendala pandemi Covid-19. Nilai ekspor keseluruhan NTB yang mencapai 4,2 juta Dolar tahun ini, menurut Fathurrahman, tidak termasuk sektor tambang. Mengingat, untuk tambang saja nilainya lebih dari 62 juta Dolar AS. Dibandingkan tahun 2019 lalu, nilai ekspor memang menurun. Untuk di luar tambang, mencapai 12 juta Dolar.

“Kita akan terus tingkatkan produk ekspor. Tapi saat ini memang terkendala Covid-19,” tutupnya (TN-red)

Related Articles

Back to top button