Daerah

Sampah KEK Mandalika akan Diolah Gunakan BSF Giz-Renergii-Bambook di Desa Sengkol

Mataram, Talikanews.com – Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan cara mengolah sampah di Kawasan Ekonomi khusus (KEK) Mandalika menggunakan BSF GIZ-Renergii-Bambook mewujudkan program Zero Waste dan NTB Hijau, terpusat di Desa Sengkol Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Dimana, Desa Sengkol menjadi pilot project program pengelolaan sampah dengan metode Black Soldier Flies (BSF) dan Pembangunan fasilitas BSF secara Eco Friendly menggunakan bambu dari Lombok.

Terkait hal itu, Wakil Gubernur Provinsi NTB Dr. Ir. Hj Sitti Rohmi Djalilah, apresiasi program dari Tim BSF GIZ-Renergii-Bambook dikarenakan NTB merupakan salah satu Provinsi yang sangat fokus menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelumnya, metode BSF telah berlangsung di Desa Lingsar, Lombok Barat yang merupakan hasil kerjasama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB dengan Kementerian Kehutanan Korea Selatan pada tahun 2018.

“Metode BSF merupakan salah satu proses yang sudah dipelajari dari dulu, tetapi kami sangat butuh orang – orang seperti anda untuk bisa merealisasikan hal tersebut, kami berharap Giz akan berkelanjutan dengan melakukan pendampingan,” ungkapnya dihadapan Tim BSF GIZ Renergii Bambook, bertempat di ruang rapat ‘outdoor’ halaman Setda Provinsi NTB, Rabu 12 Agustus 2020.

Baca juga :  Diskomfotik NTB : Manfaatkan Teknologi Internet dalam hal Positif di Massa Pandemi Covid-19

Rohmi menjelaskan, proses pengolahan sampah organik dengan menggunakan tehnologi biokonversi sendiri merupakan tekhnologi yang memanfaatkan pelahap larva dari lalat Hermetia illucens (dikenal dengan sebutan Black Soldier Flies atau BSF). Larva BSF mampu menguraikan nutrisi kompleks dalam sampah makanan dengan cepat. Pada prosesnya, tumpukan sampah organik dapat berkurang sebanyak 80 persen selama 24 jam.

“Sampah makanan tidak harus menjadi sampah yang busuk dan menyebabkan penyakit tetapi bisa juga menjadi uang, pakan ternak, menjadi pupuk ini solusi dalam siklus yang dikatakann sebagai zero waste, kami sangay inginkan dan bahagia dengan metode ini,” kata dia.

Pengelolaan sampah dengan metode BSF diharapkan tidak hanya di Desa Sengkol saja, tetapi bisa juga diterapkan dibeberapa daerah wisata.

“Sampah Organik yang muncul dari pasar, hotel dan rumah makan harus ditangani, terimakasih kepada Tim BSF GIZ-Renergii-Bambook karena telah membantu kita mempercepat proses dikawasan premuin internasional semoga kedepan bisa di tempat wisata lain seperti senggi ataupun gili,” tutur Sekrertaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutan NTB, Samsudin, S.Hut.

Baca juga :  Antara KPK, Pemprov dan PT. GTI, Kapolda NTB: Tugas Hanya Pengamanan

Perwakilan GIZ, Kathrin Pape, memaparkan, program yang berlangsung di Desa Sengkol telah menumbuhkan kesadaran diri dari masyarakat untuk ikut serta sehingga secara tidak langsung terciptanya lapangan kerja yang berkelanjutan.

“Kami mengikutsertakan masyarakat dari Sengkol, para pemuda dan wanita yang dimana mereka bisa bekerja sehingga dapat membantu perekonomian masyarakat” jelasnya.

Senada disampaikan Paula yang merupakan tim Renergii-Bambook. Dia memberikan alasan pemilihan bambu sebagai bahan baku pembangunan fasilitas BSF di Desa Sengkol. “Semua project kita dari bambu karena lebih murah dan aman dari bencana alam gempa” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sengkol Satria menjelaskan, sudah mempersiapkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan seperti lahan untuk pembangunan yang telah dihibahkan oleh warga.

“Kami berterimakasih karena hal ini sangat penting, semoga program ini dapat berjalan dengan baik kedepannya” tutupnya. (TN-red)

Related Articles

Back to top button
Close