Daerah

Gubernur NTB: Industrialisasi Bukan Identik Pabrik Besar, Tapi Pendalaman Struktur Aktivitas Produksi

Mataram, Talikanews.com – Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah memiliki harapan tinggi bahwa sinergi para tokoh Samawa akan semakin memperkuat dan mempercepat industrialisasi yang digencarkan pemerintah daerah saat ini.

Hal itu disampaikan Dr Zul dalam diskusi virtual dengan tokoh-tokoh tanah Samawa, yakni Din Syamsudin, Mantan Fahri Hamzah, Sultan Sumbawa XVII Daeng Muhammad Abdurrahman Kaharuddin, dan budayawan Sumbawa Taufik Rahzen, bertema “Modal Sosial Budaya Samawa untuk Industrialisasi Tana Samawa”, di Pendopo Gubernur, Sabtu 27 Juni 2020.

Saat itu, Dr Zul menjelaskan, ekonomi di Indonesia khususnya di NTB memiliki sistem yang sangat terbuka. Sehingga dengan ekonomi terbuka, NTB harus punya daya saing. “Daya saing itu mensyaratkan industrialisasi,” ungkapnya.

Gubernur menegaskan, industrialisasi itu bukan hanya identik dengan pabrik besar dan asap yang menghasilkan polusi. Namun industrialisasi adalah pendalaman struktur aktivitas produksi, meningkatkan nilai produksi sehingga otomatis kesejahteraan masyarakat meningkat.

“Kenapa industrialisasi itu penting, bukan berarti pertanian tidak penting akan tetapi menurut teori ekonomi, jika sektor pertanian tak mampu menghasilkan produktivitas. Maka jalan satu-satunya adalah meningkatkan nilai tambah produktivitas ada pada sektor industrialisasi,” kata dia.

Dr. Zul menyampaikan, geliat ekonomi setelah adanya industrialisasi di NTB sudah semakin tinggi. Para pelaku UKM/IKM di NTB sudah mulai semangat menciptakan produk-produk lokal kemudian yang dimasukkan kedalaman program JPS Gemilang. Belum lagi smelter di KSB yang sudah mulai terealisasi pembangunannya.

“Kita tidak ingin lagi menggali tanah kemudian menjual mentah ke luar. Tetapi Kita akan menjual keluar produk yang sudah diolah di daerah kita sendiri. Sehingga nilai jualnya semakin besar,” tuturnya.

Mantan Anggota DPR RI dua periode ini melanjutkan bahwa industrialisasi butuh waktu, butuh biaya dan tidak otomatis jadi. Di dalam proses Industrialisasi ada” cost of learning” yang mahal.

“Salah satu investasi yang besar untuk menunjang industrialisasi adalah meningkatkan kapasitas SDM kita. Industrialisasi hanya mungkin dilakukan jika ketersediaan SDM yang cukup,” ujarnya.

Karena itu, program beasiswa NTB yang merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi dilakukan agar para alumni memiliki rasa percaya diri yang tinggi.” Mereka bisa asalkan dikasih kesempatan. Harapan kami ketika MotoGP dihelat di Lombok. Maka 200 ribu penonton sudah bisa menggunakan motor listrik buatan anak-anak NTB,” tutup Bang Zul optimis

Senada dengan itu, pimpinan Ponpes Internasional Dea Malela Sumbawa, Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin. Din mengungkapkan, industrialisasi merupakan sesuatu yang tak terelakan.

Maka modalnya saat ini adalah modal sosial budaya yang harus diperkuat, terutama membangun sinergi antar masyarakat untuk memperkuat jejaring sosial yang lebih kuat. Sehingga kerja sama dalam mendukung industrialisasi untuk meningkatkan nilai produktivitas harus benar-benar terjaga.

“Maka ini yang harus kita siapkan untuk mengahdapi era industri. Modal sosial dan budaya merupakan elemen penting untuk mewujudkan industrialisasi di NTB,” tegas pria yang akrab disapa Din Syamsudin.

Begitu juga dengan Mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah meminta kepada gubernur NTB untuk membuat peraturan gubernur yang melarang segala bentuk kegiatan ekspor hasil laut, alam dan pertambangan yang memungkinkan bisa di olah di NTB. Kalau mampu diolah dengan jargon industrialisasi maka nilai produktivitas serta nilai jualnya juga bertambah.

“Misalkan hasil produksi udang yang melimpah di pesisir Sumbawa masih banyak yang dikirim di tanah Jawa dengan harga yang minim. Kenapa tidak diolah kemudian kita kirim ke Jepang atau negara lain dengan harga yang mahal,” tegas politikus nasional tersebut.

Fahri menjelaskan bahwa program industrialisasi yang diciptakan oleh gubernur NTB harus benar-benar dikroyok dan didukung oleh tokoh-tokoh Samawa. Dengan begitu, lanjutnya, untuk mewujudkan industrialisasi di NTB perlu kerja sama yang intensif dari semua pihak.

“Seperti sapi dan kerbau yang banyak dihasilkan di Sumbawa bukan hanya diekspor dengan jumlah banyak tapi tidak memberikan keuntungan yang besar bagi daerah. Oleh karena itu, dengan adanya industrialisasi maka diharapkan nilai produktivitas dan nilai jualnya akan semakin tinggi,” harapnya (TN-red)

Related Articles

Back to top button
Close