Pariwisata

Dispar Lobar Tinjau Tiga Objek Wisata Terkait Kesiapan Menuju Transisi New Normal

Lombok Barat, Talikanews.com – Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Barat, tinjau tiga objek wisata yang siap dibuka menuju transisi new normal atau kenormalan baru.

Adapun objek itu yakni di Kawasan Pantai Cemara Lembar Selatan, kemudian Embung Telaga Pandan Wangi yang terletak di perbukitan Dusun Lendang Damai, Desa Mareje Timur dan spot mangrove Tanjung Batu Sekotong.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat H. Saiful Ahkam menyampaikan, kunjungan bersama jajarannya untuk melihat kesiapan tiga objek wisata membuka diri menuju transisi kenormalan baru.

“Di objek wisata pertama, kami langsung bertemu Kepala Dusun Cemara dan Pegiat Pariwisata Cemara, Mus’ab. Disana banyak bercerita tentang kesiapan membuka destinasi yang ada disana,” ungkapnya, Sabtu 13 Juni 2020.

Ahkam menuturkan perbincangan dengan kepala dusun setempat bahwa, saat ini pengunjung memang sepi, kalau pun ada beberapa orang yang datang namun mereka rombongan yang mau ziarah ke Makam Keramat.

Begitu halnya dengan cerita salah seorang pegiat wisata Pantai Cemara yakni Mus’ab yang menuturkan pihaknya mengisi waktu dengan Melaut.

“Karena pariwisata sedang tutup, warga kembali ke profesi mereka yang lama,” tutur Ahkam menceritakan perjalanan Mus’ab yang mengaku saat ini sedang bekerja sama dengan pihak lain untuk program pemberdayaan masyarakat.

Disatu sisi, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid yang ikut tinjau pembangunan Embung Telaga Pandan Wangi yang terletak di perbukitan Dusun Lendang Damai, Desa Mareje Timur (Maritim) Kecamatan Lembar menegaskan, embung tadah hujan mampu menampung kurang lebih sembilan juta kubik. Air ini akan memberi manfaat untuk irigasi pertanian, pengembangan pariwisata, dan pelestarian sumber daya lahan dan air.

“Bendungan ini selain sebagai pemasok irigasi pertanian, juga kita akan kembangkan sebagai kawasan agrowisata,” kata Fauzan.

Proyek yang seluruhnya bersumber dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Pertamina (Persero) dan bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani konon menghabiskan biaya sekitar 5 milyar lebih. Areal yang seluruhnya kurang lebih satu hektar itu dipastikan untuk memenuhi kebutuhan pengembangan tanaman holtikultura yang luasnya dua puluh lima hektar.

Sementara itu, Kepala Desa Mareje Timur H. M. Hadran Pahrizal bersyukur dengan adanya embung ini dan memiliki impian menjadikannya sebagai destinasi wisata.

“Di lokasi embung ini juga kita akan tanami tanaman holtikultura seperti buah kelengkeng, matoa, durian dan manggis. Kita dibina sampai berbuah. Kelebihan lokasi embung ini adalah view-nya yang menghadirkan panorama perbukitan dan laut dari kejauhan, sehingga bisa dijual sebagai salah satu destinasi wisata,” ujar Hadran optimis.

Usai dari Mereje rombongan Dinas Pariwisata meninjau spot mangrove Tanjung Batu Sekotong. Destinasi baru yang lagi naik daun itu ditinjau karena sudah ramai dikunjungi kendati pembukaan tempat wisata secara resmi belum dilakukan.

Spot wisata yang dibangun selama 2 tahun dari APBDes Sekotong Tengah itu anggaran capai Rp 100 juta. Disana banyak pengunjung karena spot wisata itu dilengkapi boardwalk kayu dan banyak ornamen kreatif memancing minat pengunjung untuk berfoto-foto.

Kata Kepala Desa Sekotong Tengah, Lalu Sarapuddin, Spot itu dikelola BUMDes dan mampu mendatangkan pendapatan Rp 1 juta setiap hari hanya dari karcis masuk saja.

“Kami hanya mematok biaya masuk Rp. 3000 yang dikelola Bumdes. Kalau lagi ramai, bisa lebih. Tempat ini juga ramai kalau malam hari oleh warga sekitar,” tuturnya.

Terkait persiapan menuju kenormalan baru? Ahkam menambah, dari perbincangan dengan Kades, Kadus mengaku siap dengan kenormalan baru.

“Malah, sudah disiapkan tempat cuci tangan dan sabun, bahkan jika pengunjung lupa bawa masker, sudah ada yang menjual di pintu masuk,” tutup Ahkam. (TN-red)

Related Articles

Back to top button
Close