
Mataram, Talikanews.com – Sampai saat ini, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB belum mengetahui sumber terpaparnya Tiga pasien positif virus corona.
Adapun tiga pasien positif virus corona yang masih menyisakan pertanyaan dan tugas tim untuk melakukan Contact Tracing yakni pasien nomor 27 inisial HW (2) asal Jeringo Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. HW tidak ada riwayat perjalanan dan tidak pernah kontak erat dengan pasien positif virus, namun dinyatakan positif. Saat ini, HW sudah sembuh bahkan sudah di pulangkan.
Kemudian pasien nomor 99 inisial N (62) perempuan, Desa Bengkel Selatan, Lombok Barat, tidak ada riwayat perjalanan dan kontak erat pasien positif, pasien ini datang ke rumah sakit karena batuk, sesak, demam, dan akan riwayat bronkhitis atau sembuh total.
Terakhir, pasien positif nomor 100 inisal A (50) laki-laki, asal Kelurahan Dayan Peken, Kota Mataram, tidak ada riwayat perjalanan dan kontak pasien positif.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhadini Eka Dewi, berjanji akan lakukan tracing contact dan pendalaman sampai menemukan sumber penularannya. Namun menurutnya, kasus ini seperti beberapa kasus yang awalnya berdiri sendiri, tetapi setelah didalami ternyata punya keterkaitan dengan klaster yang ada.
“Itu salah satu konsekuensi terjadinya transmisi lokal, bahwa ada carier yang tidak dikenal dan menularkan covid-19,” ungkapnya, Selasa (22/04).
Disinggung terkait transmisi lokal itu, area fasilitas kesehatan (faskes) dan atau rumah sakit? Dengan tegas Eka membantahnya, penularan ditempat perawatan itu disebut infeksi Nosokomial. Hal itu terjadi bila awalnya pasien tidak ada datang dengan penyakit lain, tapi dirawat lama, dan mendapatkan penyakit berbeda di tempat perawatan.
Untuk diketahui, Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi di lingkungan rumah sakit. Seseorang dikatakan mengalami infeksi nosokomial jika infeksinya didapat ketika berada atau menjalani perawatan di rumah sakit.
Infeksi nosokomial bisa terjadi pada pasien, perawat, dokter, serta pekerja atau pengunjung rumah sakit. Beberapa contoh penyakit yang dapat terjadi akibat infeksi nosokomial adalah infeksi aliran darah, pneumonia, infeksi saluran kemih (ISK), dan infeksi luka operasi (ILO).
“Kalau datang dengan pneumonia ke RS berarti penyakit sudah di dapatkan di luar Rumah Sakit, bukan infeksi nosokomial, ” cetusnya.
Yang jelas, carier itu ada disekitar, bukan berarti orang yang menjenguk karena semua RS sekarang tidak ada jam besuk.
“Dimana saja di daerah transmisi lokal. Intinya sudah, transmisi lokal, tetap pakai masker dan social distancing. Kita tidak tahu apakah ada carier disekitar kita,” ungkapnya.
Eka juga membantah jika ada dugaan pasein tersebut terpapar dari tenaga kesehatan. Karena, tenaga kesehatan (Nakes) yang kontak pasien positif, dilakukan swab, kemudian yang dilakukan rapid test dan hasilnya semua Nakes negatif.
“Biasanya RS atau Dikes meminta sejumlah rapid test sesuai Nakes yang kontak pasien,” tegasnya.
Disatu sisi, tim Covid-19 Provinsi NTB, juga Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi menyampaikan, belum diketahui dari mana sumber virus dua pasein positif virus itu.
“Bisa saja misalnya ketika ke pasar atau bertamu seseorang yang tidak punya gejala (OTG), bisa anda (media) katakan apa?,” bantahnya dengan nada sedikit keras.
Gede Aryadi juga menjelaskan, bisa saja terjadi penularan dari carier kedua atau ketiga, yakni dari orang yang tidak pernah punya riwayat ke daerah terjangkit, tapi tertular dari pasien positif, yang belum dapat di identifikasi oleh petugas. Inilah yang perlu diteliti, dari mana dua pasien itu tertular.
” Dikatakan tidak pernah kontak ke pasien covid-19 karena belum diketahui saja,” ungkapnya.
Apakah transmisi lokal itu ditempat pasien dirawat? Gede Aryadi tegas membantah tidak, karena mereka belum pernah dirawat sebelumnya, dan sebagian besar kondisi klinis, mereka baik dan secara fisik terlihat sehat, namun tetap harus diobati agar terbebas dari virus. “Pasien itu masuk saat memeriksakan diri ke RS, karena punya gejala yang mirip, langsung diambil swab nya,” tutup Ariyadi (TN-red)