Dampak Covid-19, Pemda Lotim Beri Kelonggaran, PAD dari Retribusi dan Pajak Turun Drastis

Lombok Timur, Talikanews.com – Dampak dari wabah Covid-19, membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lombok Timur dari retribusi, pajak hotel dan restoran turun drastis.

Hal dikarenakan, pemerintah daerah telah meringankan beban pelaku usaha dengan meniadakan retribusi bagi pedagang di pasar dan kelonggaran pajak bagi pengusaha perhotelan dan restoran.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim, Drs. Slamet Alimin menyampaikan, retribusi pasar ditiadakan selama tiga bulan, mulai bulan April hingga bulan Juni. Sementara untuk pajak hotel dan restoran akan disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.

“Sejak 1 April lalu retribusi pasar mulai ditiadakan. Hotel dan restoran hanya diberikan kelonggaran berdasarkan kondisi pendapatan mereka di lapangan” ungkapnya, Rabu (22/04).

Penurunan PAD itu dijelaskan Kepala Bidang (Kabid) Retribusi pada Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim, Jayadi. Dimana, akibat dari peniadaan retribusi pasar selama masa darurat covid-19 itu maka target pencapaian PAD tahun 2020 diturunkan sebanyak Rp. 3,5 Miliar.

“Untuk tahun ini target kita sebesar Rp. 11 M. Tetapi karena adanya darurat covid-19 menjadi Rp. 7,5 Miliar,” kata dia.

Jayadi juga menjelaskan bahwa penurunan target itu dilakukan berdasarkan prediksi yang tertuang dalam SK Bupati Lotim tentang pembebasan retribusi pasar bagi pedagang dimana masa darurat covid-19 ini akan selesai sampai bulan Juni mendatang.

Akan tetapi lanjut Jayadi, kalau misalnya kondisi ini tetap berlangsung hingga bulan Agustus dan seterusnya maka target yang 7,5 M itu bisa saja dirasionalisasi kembali menjadi lebih kecil lagi.

Kepala Bidang (Kabid) Pajak Lainnya, H. Masyhurriadi juga menjelaskan mengenai kelonggaran pajak yang diberlakukan bagi pelaku usaha perhotelan dan restoran dilakukan berdasarkan SE Gubernur tanggal 8 April nomor :973/344/Dispar – I/2020 tentang pemberian kelonggaran pajak bagi mereka.

“Bahasanya itu bukan pembebasan pajak, melainkan pemberian kelonggaran pajak sampai bulan Juni” tutur H. Masyhurriadi.

Adapun dampak kelonggaran itu, Masyhurriadi mengaku bahwa pendapatan daerah dari sektor pajak perhotelan dan restoran merosot tajam dari target yang sudah ditentukan.

“Target kita tahun ini untuk pajak hotel sebesar Rp.1. 053. 000. 000 dan pajak Restoran sebesar Rp. 4. 595. 000. 000 tetapi karena adanya kelonggaran tersebut, target pencapaian tahun 2020 dikurangi sebanyak 50 persen” kata dia.

Adapun mengenai realisasi dari target pencapaian yang sudah masuk ke Bapenda hanyalah pembayaran pajak hotel dan restoran pada bulan Januari dan Februari, sementara bulan Maret kosong.

“Realisasi pajak hotel yang masuk tahun ini hanya dua bulan, yakni bulanJanuari dan Februari sebesar Rp. 198. 952. 247 untuk pajak hotel dan sebesar Rp. 18. 969. 577 untuk pajak restoran,” tutupnya. (TN-08).

Related Articles

Back to top button