Ditetapkan Zona Merah, Bupati Lombok Barat perketat Contact Tracing Positif Virus Corona

Lombok Barat, Talikanews.com – Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengaku, daerah binaannya sudah dinyatakan zona merah setelah adanya 2 (dua) orang dinyatakan positif Covid-19. Oleh sebab itu, pihak akan lakukan contact tracing terhadap pasien positif virus corona itu.

“Lombok Barat pecah telur, kini masuk zona merah. Setelah sekian lama berusaha agar wilayah ini tetap bisa masuk zona hijau (bebas), akhirnya harus menerima kenyataan dengan memecahkan telur nol positif Covid 19,” ungkapnya, Jumat (10/04).

Fauzan mengaku, informasi 2 orang positif Covid-19 diterimanya saat melaksanakan himbauan keliling ke setiap Masjid.

“Tiang (saya, red) baru mendapat WA rilis resmi dari Pak Gubernur, di Lombok Barat sudah ada yang positif 2 orang, satu di Kecamatan Narmada dan satu di Kecamatan Lingsar berdasarkan test Swab,” kata Fauzan melalui corong pengeras suara Masjid Jami’ Asasasuttaqwa Desa Rumak Kecamatan Kediri.

Untuk itu, Fauzan meminta kepada seluruh masyarakat Lombok Barat untuk senantiasa waspada dengan menjalankan protokuler pencegahan Covid 19 secara ketat dan mandiri.

“Tetap berdiam diri di rumah, keluar dari rumah kalau terpaksa. Itu pun harus menggunakan masker dan menghindari kerumunan banyak orang. Pastikan diri mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, serta tetap menjaga jarak, hindari kontak langsung dengan siapapun yang kita tahu baru pulang dari daerah yang terpapar,” tegasnya.

Fauzan juga menyebut, salah satu yang positif virus corona itu adalah orang yang baru pulang dari Gowa Sulawesi Selatan.

Berdasarkan rilis resmi yang ditanda tangani Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkifliemansyah lanjut Fauzan, pasien dengan kondisi positif Covid 19 adalah pasien nomor 13 atas nama LAB (54) jenis kelamin laki-laki dari Kecamatan Narmada. Pasien ini disebutkan memiliki kontak langsung dengan orang yang di daerah terjangkit virus Corona.

Berikutnya pasien Nomor 19 atas nama AS (47) jenis kelamin laki-laki asal Kecamatan Lingsar yang diketahui memiliki riwayat pernah berkunjung ke Sulawesi.

“Kini keduanya harus mengalami isolasi perawatan di RS Awet Muda Narmada.
Kondisi ini membuat para tenaga kesehatan di dua wilayah kecamatan tersebut menjadi sangat sibuk,” kata dia.

Fauzan meminta kepada desa-desa yang memiliki karakter wilayah tertentu, supaya melakukan pembatasan social kewilayahan dengan lebih ketat.

“Mereka bisa berinisiatif memulai pembatasan jam atau waktu untuk aktivitas warganya. Bisa jadi pasar juga dibatasi jam praktik jual belinya, atau para pedagang kaki lima di jalan-jalan,” tegasnya sembari mengatakan, desa dan kecamatan bisa mendiskusikan hal tersebut karena mereka yang paling tahu karakter wilayah dan masyarakatnya.

Kepala Bidang P3KL Dokter H. Ahmad Taufiq Fatoni menyampaikan, petugas sedang melakukan tracking (penelusuran, red) terhadap siapa saja yang pernah kontak langsung dengan dua pasien tersebut.

“Sekarang Dinas Kesehatan dan Puskesmas sedang melakukan kontak tracking di wilayah kerja Puskesmas Narmada dan Puskesmas Sigerongan. Terutama keluarga dekat yang serumah. Kita akan rapid test terlebih dahulu,” paparnya.

Sapaan dr Toni mengatakan, kedua pasien ini merupakan Jama’ah Tabligh yang baru pulang dari Gowa Sulawesi. Dua orang tersebut adalah bagian dari 7 orang Pasien Dalam Pengawasan di mana dua orang telah selesai dalam pengawasan, namun satu orang telah meninggal dunia dua hari yang lalu.

“Terhadap yang meninggal dunia ini telah dibuktikan dengan test Swab ternayata negatif mengidap Covid 19,” tuturnya.

Terkait dua pasien postif tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Hj. Ambaryati menegaskan kedua pasien itu kondisinya sehat, tapi harus tetap diisoloasi.

Dalam 2 atau 3 hari kedepan, akan ditest Swab lagi yang kedua kalinya. Kalau hasilnya negative, maka akan diboleh pulang. Akan tetapi, kalau hasilnya positif, harus di isolasi lagi dan menjalani pengobatan.

“Intinya, setelah hasil tes Swab negatif, baru boleh pulang,” terang Ambaryati sambil memastikan seluruh keluarga yang kontak dengan dua pasien itu telah di rapid test hari ini juga (Jumat,red).

Ambaryati menyampaikan data Orang Dalam Pemantauan (ODP) sebanyak 543 orang, 370 orang di antaranya telah selesai dalam pemantauan.

Adapun sumber ODP tersebut, mulai dari Kecamatan Sekotong sebanyak 99 orang. Kemudian menyusul Kecamatan Labuapi sebanyak 88 orang, Kecamatan Gunung Sari 72 orang, Kecamatan Lingsar 69 orang, Kecamatan Narmada 59 orang.

Kemudian Kecamatan Kediri sebanyak 45 orang, Kecamatan Batulayar 33 orang, Kecamatan Lembar 33 orang, Kecamatan Gerung 30 orang, dan Kecamatan Kuripan sebanyak 14 oran.

Dia juga menyebutkan jumlah Orang Tanpa Gejala (OTG) sebanyak 1.724 orang. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah terpapar Covid 19, namun tidak memperlihatkan gejala-gejala umumnya orang yang mengidap Covid 19, seperti memiliki suhu tubuh di atas 38,5 derajat celsius.Dari angka OTG tersebut, sebanyak 412 orang telah bebas dari pemantauan. (TN-red)

Related Articles

Back to top button