Riwayat Diabetes Mellitus, Pasien dari Karang Medain Mataram Meninggal Dunia

Mataram, Talikanews.com – Gugus Tugas percepatan penanganan virus corona Provinsi NTB, meluruskan isu yang berkembang bahwa ada salah seorang warga Mataram, inisial IMS (55) dikabarkan meninggal dunia dalam posisi PDP.

Tim Gugus Tugas percepatan penanganan Covid-19 NTB, H Ahsanul Khalik, membantah bahwa IMS meninggal dunia karena positif virus corona. Melainkan punya riwayat penyakit diabetes.

“Untuk diketahui, pasien IMS ini tidak memiliki riwayat melakukan perjalanan ke daerah pandemi covied- 19, namun walaupun seperti itu tetap kemudian dilakukan pengambilan swab dan saat ini kita menunggu hasil pemeriksaan yg dilakukan oleh Litbangkes Kemenkes RI,” ungkapnya, Minggu (29/03) di Mataram.

Dia menjelaskan, IMS merupakan warga Karang Medain Mataram dan masuk IGD RSUD Provinsi hari Rabu, tanggal 25 Maret yang diantar keluarganya setelah pulang dari salah satu Rumah Sakit Swasta di Kota Mataram, dengan riwayat Diabetes Mellitus, Jantung dan Hipertensi.

“Saat pasien masuk ke RSUD provinsi sudah dalam kondisi lemah dan ditangani secara intensif oleh tim medis RSUD Provinsi NTB,” kata dia.

Menurut Ahsanul Khalik, karena saat ini sedang ramai dengan kasus Covied- 19, dan tanda awal dari pasien yang dalam kondisi lemah dan keluhan sesak maka pihak RSUD Provinsi sesuai SOP mengambil langkah melakukan isolasi pada hari Jum’at tanggal 27 Maret pukul 13.00 Wita dan terus dilakukan pemantauan serta perawatan.

Pada hari Sabtu, tanggal 28 Maret, kondisi pasien semakin lemah, namun pada pukul 13.00 Wita hari Jum’at, dokter penanggung jawab standby dan memantau kondisi pasien secara seksama, lalu pada pukul 14.00 Wita – 16.00 Wita kondisi pasien semakin melemah dan pada pukul 16.30 Wita pasien dinyatakan meninggal di hadapan keluarga dan tenaga medis .

Untuk dimaklumi oleh semua pihak terutama masyarakat luas, pasien tidak memiliki riwayat melakukan perjalanan ke daerah pandemi covied- 19. Kalaupun seperti itu tetap kemudian dilakukan pengambilan swab dan saat ini kita menunggu hasil pemeriksaan yg dilakukan oleh Litbangkes Kemenkes RI.

“Saya berharap masyarakat tidak bersfekulasi, dan tidak mengambil kesimpulan sendiri serta tidak berbagi informasi yang belum kita dapatkan kebenarannya bahwa pasien ini meninggal karena Covied- 19, terlebih pasien tidak pernah atau tidak punya riwayat bepergian dan tidak punya riwayat kontak juga dgn penderita covied- 19,” pintanya.

Selaku Gugus Tugas sekaligus Kepala Pelaksana BPBD NTB meminta kepada semua tenang dan bersabar menunggu hasil resmi dari Litbangkes. Karena, tes swab merupakan tes yang dilakukan dengan pengambilan cairan pada hidung atau tenggorokan.

Dari hasil tes swab inilah keberadaan virus corona dalam tubuh dapat diketahui.

“Diagnosis corona didapat melalui swab terhadap sampel yang dikirim ke laboratorium dan dilakukan di Litbangkes Kemenkes RI).

“Mengenai cara pemakaman, sesuai SOP dan untuk menjaga keselamatan masyarakat secara luas, maka dilakukan penanganan terhadap jenazah dilakukan seperti penderita Covied- 19 adalah semata-mata sebagai sebuah kewaspadaan, sehingga pada saat pemakaman masyarakat tidak perlu khawatir,” pesan Khalik.

Sekali lagi masyarakat percayakan bahawa yang dilakukan dalam penananganan jenazah almarhum adalah yang terbaik untuk kepentingan masyarakat, jangan berfekulasi apakah almarhum positif atau negatif covied- 19.

Yang paling penting saat ini adalah, semua pihak mengikuti petunjuk yang telah di keluarkan oleh pemerintah , tetap saling mengingatkan dan saling menjaga, dengan cara cuci tangan, jaga jarak (physical distancing), jalankan pola hidup bersih dan sehat , konsumsi vitamin , jauhi keramaian dan jangan termakan berbagai isu dan informasi hoax.

“Dapatkan informasi dari sumber resmi dan dapat di percaya,” tutupnya (TN-red)

Related Articles

Back to top button