Dewan NTB Menduga, Ada Pembiaran WNA China oleh Imigrasi dan Kepolisian

Mataram, Talikanews.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Barat semakin geram dengan sikap Imigrasi kelas II TPI Sumbawa dan Kepolisian Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) seakan ada pembiaran terhadap WNA China yang akan melakukan penambangan emas ilegal di Desa Belo Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat.

“Daerah dan Negara ini cukup aneh, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu daerah pengiriman Migran terbesar ke Luar Negeri. Anehnya, kok ada orang luar WNA bekerja kesini, notabene penduduk NTB banyak pengangguran, parahnya lagi yang di rambah sebagai lokasi penambangan adalah Hutan Lindung, ini kan tambah repot, jangan terkesan ada pembiaran lah,” ungkap salah seorang Anggota Komisi V DPRD NTB, H Bohari Muslim, Kamis (20/02).

Politisi Partai Nasdem ini menyampaikan, sepengatahuannya dari beberapa kasus dilapangan, masyarakat saja yang ingin membangun akses jalan dan merambah Hutan, sangat tidak diperbolehkan, aturan ketat. Justru WNA China yang akan merusak Hutan seakan dibiarkan.

“Apa pertimbangan Pemda, sebesar apa kontribusi yang diberikan WNA itu. Malah Pemda tidak pernah transparan terhadap hal itu,” kata dia.

Disisi lain lanjutnya, ada keresahan masyarakat akan virus corona dari China, wajar jika masyarakat takut. Mestinya, Pemda segera ambil langkah yang tepat, jangan sampai ada konflik, baru ambil sikap.

“Bagi Komisi V DPRD NTB, jangan berikan mereka bekerja untuk sementara waktu sampai kondisi aman,” ujarnya.

Bohari juga menyinggung soal izin keterpaksaan yang disampaikan pihak Imigrasi. Dimana, izin keterpaksaan itu berlaku bagi wisatawan, bukan terhadap Tenaga Kerja Asing yang akan mengeruk sumber daya alam.

“Hal ini yang membuat muncul penilaian ada pembiaran oleh penegak hukum. Ayoo selamatkan masyarakat dan alam kita. Imigrasi dan Polisi turun lah, supaya masyarakat merasa di lindungi, Pemda juga harus hadir,” tegasnya, sembari mengatakan, ini daerah dan negara yang aneh, bisa-bisa tikus mati dalam lumbung.

Menurutnya, jika daerah ingin membuat perekonomian masyarakat meningkat, ada dua hal yang harus diperbaiki. Pertama, tingkatkan industri pariwisata, caranya protek masyarakat agar tidak terpengaruh budaya asing, akan tetapi tanpa merusak alam kata lain alam akan terpelihara ketika cenderung ingin tingkatkan penghasilan dari sektor pariwisata.

Kedua, jika ingin kembangkan sektor industri, jelas akan merusak alam. Disini pemerintah harus punya hitung atau kalkulasi tepat, apakah bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau tidak dari sektor Industri tersebut.

Jika industrialisasi pariwisata yang dimaksud oleh Pemerintah Daerah, itu cukup bagus, tapi harus dikemas serta jaga adat dan budaya. Kemudian, industri pabrik pakan ternak pun di dukungnya.

“Jangan cenderung Industrialisasi yang merusak alam kita,” tegasnya.

Terkait hal itu, Wakapolres Sumbawa Barat Kompol Teuku Ardiansyah menegaskan, Tujuh WNA China itu belum mulai penambangan.

“Mereka belum mulai, baru siapkan lahan saja. Kemarin Anggota sudah kroscek ke lokasi,” ucap Teuku membantah.

Para WNA China itu juga ditangani oleh Imigrasi Sumbawa dan ada surat yang sifatnya tinggal sementara dikeluarkan oleh pihak Imigrasi mengingat sampai saat ini belum ada penerbangan ke China.

“Nanti kalau penerbangan sudah dibuka, mereka akan langsung pulang,” pungkasnya. (TN-red)

Related Articles

Back to top button