Membiarkan PS Menari Striptis, Metzo Lombok di Tutup sementara oleh Polda NTB

Mataram, Talikanews.com – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, menutup salah satu room karaoke ukuran 3 x 6 meter di Metzo Executive Club, Senggigi Lombok Barat.

Penutupan itu lantaran telah membiarkan praktik pornografi yakni menari tanpa busana atau striptis yang dilakukan oleh Kemudian, YM alias NT (35) perempuan asal Jombang, Cilegon Jabar dan SM alias KR (23) perempuan asal Serang Banten.

“Kita juga amankan papinya DA alias PD (43) laki-laki asal Gerogol, Cilegon Provinsi Banten,” ungkap Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto, Jumat (07/02).

Artanto menjelaskan, Ditreskrimum Polda NTB mengamankan Dua orang penari “telanjang” di club malam di wilayah Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, serta Bosnya.

Adapun kejadian, Rabu tanggal 5 Februari 2020 pukul 23.30 wita di Metzo Executive Club dan Karaoke. Penangkapan tersebut dilakukan jajaran Polda, atas dasar LP/39/II/2020/NTB/SPKT, tanggal 6 Februari.

Tersangka utama yakni DA alias PD (43) laki-laki asal Gerogol, Cilegon Provinsi Banten yang merupakan Papi. Kemudian, YM alias NT (35) perempuan asal Jombang, Cilegon Jabar dan SM alias KR (23) perempuan asal Serang Banten.

Kronologis, DA alias PD telah melakukan tindak pidana pornografi dengan memberikan fasilitas atau layanan khusus kepada pengunjung Metzo, dilakukan oleh Dua pemandu lagu partner song (PS) yang bekerja di Metzo.

Untuk bisa menikmati pornografi itu, konsumen harus pesan paket khusus/malam dan mengirimkan uang muka tanda jadi melalui rekening salah satu perbankan atas nama DA sebesar Rp 2 juta, setelah membayar, konsumen bisa menikmati layanan tarian striptis atau tanpa busana alias telanjang.

“Tersangka atau penari inisial YM dan SM bertindak sebagai PS yang memberikan layanan khusus menari sambil telanjang, mendapatkan imbalan Rp 3 juta setiap paket,” kata dia.

Artanto mengaku, tersangka diamankan saat melayani konsumen di Metzo. Adapun barang bukti (BB) uang Rp 6,4 juta, dua set pakaian dalam wanita, empat unit HP, bukti transfer sebesar Rp 3 juta.

Akibat perbuatannya, mereka dikenakan pasal 33 Jo pasal 7 dan 4, kemudian pasal 34 Jo pasal 8 dan atau pasal 36 Jo pasal 10 UU nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi dengan hukuman paling singkat 2 tahun, denda paling banyak Rp 5 Miliar.

“Semua ini terbongkar atas laporan masyarakat yang kemudian kita dalami, setelah dinyatakan ada fakta, langsung melakukan penangkapan,” terang dia.

Yang jelas, informasi ini di dapat dari masyarakat, kemudian dilakukan penyelidikan.

Bagaimana dengan pelanggan? Ditegaskan Artanto, petugas masih mendalami.”Soal pelanggan masih di dalami, belum bisa disebutkan nama dan alamat,” ujarnya.

Dia kembali menegaskan, penutupan itu bersifat sementara karena Metzo merupakan TKP, begitu halnya juga bahwa, petugas melakukan pendalaman terhadap pemilik Club malam itu, apakah ada keterlibatan atuq tidak.

“Pengungkapan ini bentuk sinergitas mendukung keberadaan wisata halal NTB, dan kondusifitas daerah dari hal-hal berbau pornografi,” pungkasnya.

Disatu sisi, DA yang merupakan Papi dari SM dan YM mengaku tidak mengetahui bersangkutan atau SM dan YM melakukan tindakan striptis.

“Memang, dari perusahaan sudah melarang kegiatan pornografi. Benar saya tidak tahu,” tutupnya. (TN-red)

Related Articles

Back to top button