Nama Bandara, Gubernur NTB buka Kanal Komunikasi dengan Bupati dan DPRD Loteng

Mataram, Talikanews.com – Gubernur NTB, Dr Zulkieflimansyah menyikapi isu yang berkembang bahwa akan ada aksi dari masyarakat untuk tolak pergantian nama Bandara dari BIL ke BIZAM.

Bagi sapaan Dr Zul itu justru tidak menyalahkan ada riak-riak kecil ketika ada sebuah perubahan. Karena, setiap perubahan biasanya ada riak-riaknya. Akan tetapi, yang perlu dijaga adalah kondusivitas daerah.

“Lagipula kanal komunikasi terbuka lebar buat siapapun untuk bicarakan tentang apapun berkaitan dengan NTB. Terlebih bagi Bupati dan DPRD Loteng, saya terbuka cari solusi terbaik,” ungkapnya Minggu (17/11).

Politisi PKS itu mengatakan, tidak perlu membuat statemen yang memancing persepsi berbeda sehingga menimbulkan riak-riak kecil itu. Mestinya, Bupati dan DPRD bisa temui dirinya.

“Bupati dan DPRD Loteng kan bisa ketemu kami dan kami sudah temui kok Bupati nya,” kata dia.

Dr Zul mengaku, sejak beberapa hari terakhir, banyak teman-teman yang WhatsApp memberitahukan bahwa akan ada demo besar menolak perubahan nama Bandara.

Menurutnya demo itu wajar di era demokrasi seperti sekarang ini sebagai bentuk freedom of expression, adanya kebebasan berekspresi. Karena, demo yang turun ke Jalan adalah sebuah pilihan untuk berekspresi jika ada kebuntuan komunikasi dan tak mungkin lagi membangun jembatan pengertian, gagal membangun bridge of reason and understanding.

Akan tetapi lanjutnya, dalam konteks perubahan nama Bandara, mestinya masyarakat bisa jernih dan tidak perlu mengekspresikan perasaan dan kemauaan dengan cara aksi dijalan.

Hal itu disampaikannya karena demi daerah yang tetap harus kondusif untuk parawisata dan investasi.”Kalau sedikit-sedikit Demo dan ekspresinya harus di jalanan kita akan menggapai kesejahteraan dengan jalan yang lebih berliku, mendaki dan terjal,” ujarnya.

Bagi Zul, perubahan nama Bandara ini adalah keputusan Pemerintah pusat, bukan keputusan Gubernur atau Bupati, dan Keputusan mengganti nama bandara dengan Nama Maulana Syeh bukan karena beliau pendiri NW atau apa, tapi karena penghargaan pemerintah pusat kepada TGH Zainuddin Abdul Madjid sebagai Pahlawan Nasional.

Beliau (ZAM) milik semua bangsa Indonesia, bukan milik kelompok atau daerah tertentu dan dijadikan kebanggaan.

“Dimana-mana lazim nama Bandara kebanggaan diambil dari nama Pahlawan Nasional yang berasal dari daerah tersebut. Lagi pula, sepanjang yang saya tahu nggak ada kebuntuan komunikasi kita di NTB ini,” cetusnya.

Ketika keputusan Pemerintah pusat memutuskan untuk mengganti nama bandara, sebagai yang muda dirinya sowan ke pak Bupati Lombok Tengah H Moh Suhaili FT dan meminta pendapat beliau.

Saat itu, Bupati setuju dan sudah tidak ada masalah. Permintaan Bupati, kalau berkenan katanya dieksekusi setelah Pilpres saja agar daerah aman dan kondusif.

“Saya setuju dan saya kira ada benarnya. Jadi kalau masih ada yg mengganjal, nggak perlu demo-demo. Kami pemerintah provinsi bisa di temui kapan saja atau kami yg datang menemui,” tegasnya.

Bila perlu tambah Zul, kalau dirasa belum cukup, dirinya iap menemani Pak Bupati Loteng atau perwakilan masyarakat bertemu pemerintah pusat.

“Mari dengan kerendahan hati kita bangun daerah kita ini agar aman, nyaman dan membahagiakan kita semua,” tungkasnya.

Terkait hal itu, Bupati Loteng, H Moh Suhaili membantah telah setuju pergantian nama Bandara tersebut.

“Jangan menyebar fitnah dan info bohong semeton (saudara),” cetusnya.

Yang jelas, jika ada yang bilang setuju maka bisa dikatakan bohong”BOHONG !!! Saya tetap istiqomah BIL adalah harga mati,” tutupnya (TN-04)

Related Articles

Back to top button