Pariwisata

Kelurahan Disulap jadi Desa Wisata Berpenghasilan Besar, Ini Rahasianya

Foto: Ini Destinasi panen Ubi Kayu di Desa Wisata Kandri, Semarang.

Semarang, Talikanews.com – Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah disulap menjadi Desa Wisata demi mensejahterakan masyarakat.

Keberadaan desa wisata Kandri yang mulai digagas tahun 2012 ini tanpa memberatkan pemerintah alias murni dari masyarakat dalam hal ini Pokdarwis Pandanaran.

“Desa wisata ini mulai dibentuk 2012. Tidak ada suport dari pemerintah, Kelurahan hanya mendukung fasilitas umum saja. Modal awal dari dana CSR Pertamina,” ungkap salah seorang Pokdarwis, Mujiono, Kamis (14/11).

Mujiono menceritakan sejarah berdirinya Desa Wisata Kandri. Tahun 2012 awal Penggagasan, tahun 2013 dibuatkan konsep. Pada tahun 2014 mulai berjalan dan mendapatkan manfaat dari keberadaan desa wisata tersebut sebesar Rp 300 juta.

Pada tahun 2015 terjadi peningkatan pendapatan sebesar Rp 500 juta, di tahun 2016 meningkat lagi sebesar Rp 857 juta, tahun 2017 sebesar Rp 1 miliar dan tahun 2018 di angka Rp 1,5 miliar .

Mujiono memaparkan potensi yang diangkat menjadi Destinasi berpenghasilan tinggi itu yakni manfaatkan sawah masyarakat.

“Sawah ini tadah hujan, tapi pemilik rela menyerahkan ke Pokdarwis untuk di kelola ditanami Jambu, Ubi Kayu ,” kata dia.

Sapaan Muji itu memaparkan arah penggunaan uang yang didapat dari pengunjung pola paket tour sebesar Rp 80 ribu per orang. Dimana, Pokdarwis sendiri menyisihkan Rp 10 ribu untuk peningkatan SDM dan pengembangan spot destinasi.

Kemudian dianggarkan untuk kegiatan promosi, sebesar Rp 5000 untuk para mitra travel.

“Yang paling penting, pemilik lahan diberikan kontribusi supaya sama-sama menikmati hasil pengelolaan lahannya, ditambah lagi, lahannya ini ditanami oleh Pokdarwis,” terangnya.

Disinggung jumlah pengunjung? Tahun 2018 saja mencapai 10 ribu orang khusus yang beli paket. Pada tahun 2019 sampai bulan Oktober mengalami peningkatan menjadi 11000 wisatawan.

“Kunjungan itu diluar anak-anak TK dan SD untuk langsung melakukan praktek cara bercocok tanam, tanpa cas,” cetusnya.

Yang jelas, Desa Wisata ini dibantuk hanya untuk mengedukasi atau memberikan kesadaran kepada kelompok tani akan manfaat sebuah destinasi.

“Kita rubah dari petani ke wisata dibungkus jadi wisata edukasi pertanian,” tutupnya sembari menyampaikan melibatkan Dinas Pertanian , Dinas Koperasi, Disnakertrans dan OPD lainnya. (TN-04).

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!