Pariwisata

International Halal Tourism Conference di NTB Hasilkan 14 Rekomendasi

Mataram, Talikanews.com – Konferensi Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang wisata halal (International Halal Tourism Conference) yang berlangsung di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang di ikuti 300 peserta dengan narasumber dari dalam dan luar negeri.

Dalam Konferensi tersebut menghasilkan rekomendasi dan langkah lanjutan untuk memajukan pengembangan wisata halal di Indonesia.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri Kerjasama Internasional, KH Muhyidin Djunaidi menyebutkan setidaknya sebanyak 14 risalah yang dihasilkan. Berdasarkan arahan wakil presiden terpilih, perlu dibentuk Dirjen wisata halal di kementerian Pariwisata. Ini dimaksudkan agar konsep halal tourism lebih fokus dilakukan.

“Itu arahan langusng dari KH Maaruf Amin,” ungkap Muhyidin dalam konferensi pers di Mataram kemarin.

Selanjutnya untuk mengembangkan wisata halal ditekankan fokus pada potensi keunggulan di masing masing daerah. Yang tidak kalah penting adanya intervensi dan komitmen langsung dari pemimpin pemerintah daerah.

“Perlunya standarisasi pedoman wisata syariah sebagai upaya kesamaan persepsi bagi seluruh lapisan baik masyarakat, pemerintah, akademisi, profesional dan pengusaha yang dijadikan regresi dan sumber rujukan,” jelasnya.

Muhyidin juga menekankan wisata halal bukan berarti menghalalkan destinasi wisata akan tetapi bagaimana penambahan fasilitas dan penyediaan layanan halal yang fokus pada pelayanan yang ramah bagi muslim dan muslimah.

Wisata halal tidak bicara pada kontek cara berpakaian wisman namun yang lebih penting bagaimana menjaga kenyamanan dan keamanan. Kenyamanan itu berkaitan dengan pelayanan, lingkungan wisata bersih termasuk Sarpras penunjang seperti toilet.

“Untuk keamanan sikap ramah di lokasi wisata dan di tempat tempat umum lainnya,” jelasnya.

Bagi daerah yang telah mengembangkan pariwisata halal Pemda perlu melakukan identifikasi human behavior (prilaku) terhadap wisman dan kalau mereka datang apa yang mereka cari lalu apa yang mereka butuhkan.

“Jangan ada tekanan dan kriminalisasi lainnya,” katanya.

Selanjutnya perlu adanya akselerasi dalam hal marketing wisata baik dalam atau luar negeri. Melakukan sinergi dengan bank bank syariah yang ada di Indonesia sebagai aktualisasi master plan ekonomi syariah.

Berikutnya mengembangkan strategi bersama terutama di sektor digitalisasi sehingga kelompok milenial dengan mudah memahami halal tourism. digitalisasi salat satu instrumen yang harus dilakukan.

“Selanjutnya bagaimana kita perbaiki dan memeprteguh karakteristik Indonesia. Lalu memperbaiki pelayanan terutama disepakati sektor sektor dasar misalnya makanan minuman dan transportasi khusunya di bidang wisata halal sehingga tujuan kebersamaa wisata halal tercapai,” jelasnya.

Halal industri bukan berkaitan dengan makanan minum, bukan juga membatasi gerak orang, tetapi menjamin higenisnya.
Muhyidin juga menjelaskan bagi non muslim harus menghargai lokal wisdom (kearifan lokal). Perkembangan paripurna tidak boleh menghilangkan budaya daerah.

Sementara itu Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram, Jauhari menjelaskan sebagai lembaga institusi akademik, kampus mempunya kewajiban melakukan kajian terhadap halal tourism.

Kehadirannya dalam konferensi internasional itu bagian dari bagaimana melihat perkembangan dan peluang wisata halal kedepannya didaerah terlebih NTB dilihatnya sudah berhasil dalam mewujudkan wisata halal.

Wisata syariah lanjutnya bagaimana menciptakan kemaslahatan baik materil dan spiritual. Maka fasilitas ibadah harus tersedia, lokasi wisata tertata dengan baik, menyenangkan sehingga bisa menciptakan kemaslaan bagi wisatawan.

Dalam mewujudkan kemaslahatan dan kemanfaatan tentunya didukung dengan infrastruktur yang ideal.

“Kami (dari kampus) berkewajiban untuk menyiapkan SDM bukan hanya siap secara materi tetapi praktis yang berhubungan dengan halal tourism,” ujarnya.

Dunia akademik juga dituntut itu berpartisipasi membangun kerjasama dengan seluruh stakeholder bagaimana memajukan pariwisata halal di Indonesia. Terlebih Umat Islam di Indonesia terbesar di dunia. (TN-04)

Related Articles

Back to top button