Nasional

PDIP: Sesalkan Edisi Majalah Tempo Kurang Indahkan Etika dan Budaya Bangsa

Mataram, Talikanews.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sesalkan karikatur sosok Presiden Jokowi Widodo pada majalah tempo edisi 7 – 13 Oktober 2019 yang seakan kurang mengindahkan etika dan budaya bangsa.

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menyampaikan, PDI Perjuangan meresponse negatif atas berbagai karikatur yang disampaikan oleh Majalah Tempo terhadap sosok Presiden Jokowi.

“PDI Perjuangan sangat menghormati kritik sebagai esensi penting dalam demokrasi. Namun etika jurnalistik tetap harus dikedepankan. Dimana, demokrasi itu memerlukan estetika, perlu pemahaman terhadap kebudayaan bangsa, sehingga tampilan karikatur Majalah Tempo terhadap Presiden Jokowi dalam beberapa edisi terakhir sangat disesalkan,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh media tersebut sudah tidak lagi menampilkan pesan jurnalistik yang mencerdaskan dan membangun peradapan, namun sudah menampakkan kepentingan tertentu yang disertai framing kepada pembaca.

“Ketika media tersebut memberikan kritik yang begitu tajam terhadap PDI Perjuangan kami menerimanya sebagai bagian dari kritik dan kami lakukan otokritik, namun ketika simbol negara Presiden Republik Indonesia dibuat karikatur tersebut, kami sangat menyesalkan. Karikatur Presiden Jokowi tersebut cermin kemunduran kualitas jurnalistik karena minus kebajikan,” ungkapnya melalui rilis Selasa (08/10).

Bagi dia, sebaiknya Tempo menyampaikan covering both sides, dan sebagai media yang berada di wilayah Indonesia, untuk mempelajari kembali sejarah pers nusantara, pers yang membawa pelita harapan, mencerdaskan, dan memajukan kesejahtetaan umum.

“Terkait dengan revisi UU KPK suara DPR dan Pemerintah Bulat. Jalankan undang-undang baru tersebut, kita monitor, cermati, dan kita semua punya tanggung jawab untuk memberantas korupsi. Presiden Jokowi tidak akan tingal diam memberantas korupsi, ada atau tidak ada undang-undang. Sebab korupsi adalah kejahatan kemanusiaan. Namun dengan revisi tersebut, Ke depan tidak ada lagi penyalahgunaan kewenangan yang selama ini banyak terjadi,” kata dia.

Ketika warga bangsa tidak lagi bisa menghormati simbol negara seperti Presiden Republik Indonesia Jokowi lanjutnya, maka demokrasi melunturkan watak kebudayaan bangsanya. “Stop karikatur yang tidak mencerdaskan kehidupan bangsa,” tutupnya (TN-04)

Related Articles

Back to top button