Hukum & Kriminal

Ini Pengakuan Saksi Kunci Kematian ZA Depan Penyidik Polda NTB

Mataram, Talikanews.com – Saksi kunci kematian Zainal Abidin yakni Ihsan membeberkan kronologis pengeroyokan oleh oknum polisi hingga menyebabkan meninggal dunianya Zainal Abidin yang merupakan pelanggar Lalulintas di wilayah hukum Polres Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tanggal 5 September 2019 lalu.

Dihadapan penyidik Direktorat Reskrimum Polda NTB saat dimintai keterangan, Ihsan menceritakan detail kronologis dari awal diajak oleh pamannya ZA untuk mengambil kendaraan di Satlantas hingga terjadi pengeroyokan oleh oknum polisi sehingga menyebabkan ZA meninggal dunia.

Pasca ditilang oleh anggota Satlantas Polres Lombok Timur pada tanggal 5 September 2019, pamannya Zainal Abidin pulang tanpa membawa kendaraannya memberitahukan kepada orang tuanya.

Ibu dari ZA pun menyuruh Zainal Abidin untuk mengambil kendaraan di Satlantas. Sekitar pukul 16.30 wita, ZA mendatanginya untuk ditemani mengambil kendaraan di Satlantas. Saat itu, Ihsan sempat menolak ajakan Zainal Abidin karena sedang main game gunakan Handphone. Zainal Abidin lantas pulang lagi menyampaikan ke orang tuanya, sekitar 20.15 WITA, ZA kembali datang minta untuk ditemani, namun langsung meminta ke orang tuanya Ihsan.

Mendengar perintah orang tua, Ihsan langsung bergegas dan berangkat mengantar ZA ke Satlantas sambil bawakan STNK kendaraan yang di tilang tersebut.

“Saya sudah biasa dibonceng paman saya (ZA,red), langsung menuju Satlantas. Setiba di pintu gerbang Satlantas, Ihsan melihat dua orang polisi. Polisi yang melihat ZA dengan Ihsan tanpa menggunakan Helm, langsung bertanya “Ngapain kamu kesini tidak gunakan Helm” dengan nada sedikit keras, ZA menjawab mau ambil kendaraan saya”.

Mendengar jawaban ZA, satu orang Polisi, langsung menghampiri ZA dengan nada keras, tapi saat itu Ihsan masih duduk diatas kendaraan yang digunakan datang ke Satlantas. Satu orang dari Polisi hampiri ZA sambil mengatakan “Datang kesini tidak pakai helm, saya tangkap kamu”, ZA pun langsung turun dari kendaraan dan peluk polisi adu jotos.

Adu jotos pun tidak bisa dihindari, ZA dengan polisi berjatuhan. Melihat kejadian itu, polisi yang satunya minta tolong ke Ihsan untuk panggilkan rekannya (polisi) yang ada dipojok sebelah sebelum ikut keroyok ZA. Setelah itu, ZA langsung di keroyok oleh teman polisi lainnya, ada lagi datang satu orang polisi begitu tiba langsung mukul ZA.

“Ada yang mukul menggunakan kerucut bagian kepala, anggota lain gunakan kaki dan tangan di bagian atas badan ZA,” ungkap Ihsan memberikan keterangan.

Saat dipukul tiga orang polisi, ZA sudah tidak berdaya, bahkan sempat melontarkan kata minta maaf, namun hal itu tidak dihiraukan. Setelah polisi Satlantas puas memukul, ZA langsung dibawa ke Reskrim dengan cara digeret di naikkan ke kendaraan polisi dan meminta dirinya (Ihsan) naik. Kendati demikian, pemukulan sempat berlangsung diatas kendaraan.

Setiba di halaman Reskrim, saat itu sedang banyak Polisi juga dan ada yang bertanya, “Ini sudah ngapain, dijawab oleh sesama polisi bahwa sudah pukul polisi, mendengar hal itu, polisi di Reskrim langsung ikut memukul.

Melihat kejadian itu, Ihsan berencana mau telpon keluarganya kebetulan bawa Handphone. Namun, apa daya, Ihsan tidak diberikan kesempatan akibat HP di ambil salah seorang polisi lainnya kemudian diperiksa, menganggap Ihsan merekam tragedi pemukulan.

Setelah itu, Ihsan langsung dipisahkan, di ajak ke taman bunga proses pemeriksaan HP. Pasca diperiksa HP nya, Ihsan di ajak masuk ke salah satu ruangan, tak lama kemudian diajak keluar, setelah itu, ZA nyusul dibawa masuk didalam ruangan itu ada oknum Provos juga.

“Yang jelas ada yang mukul di Reskrim, di Satlantas itu tiga orang yang mukul, tidak ada satupun polisi yang mengingatkan temannya untuk tidak memukul, malah dibentak berani sekali pukul polisi. Setelah itu, saya dimintai keterangan oleh salah seorang polisi,” tutur Ihsan depan penyidik Ditreskrimum Polda NTB.

Ihsan pun tidak mengetahui tiba-tiba pamannya (ZA) sudah dibawa ke Rumah Sakit, karena saat dirinya diperiksa sempat disuruh catat plat kendaraan milik ZA menggunakan HP nya karena sudah dikembalikan. Begitu mau mencatat plat kendaraan tersebut, tiba-tiba orang tuanya Ihsan sudah berada di kantor polisi.

“Kondisi ZA saat di Reskrim lebih lemas. Disana, ZA mengaku khilaf dan minta maaf, karena sudah babak belur akibat pukulan,” kata Ihsan.

Setelah kejadian itu, Ihsan dijemput pamannya yang lain kemudian dibawa pulang. Besok harinya, pagi mendengar kabar duka bahwa ZA sudah meninggal dunia,” tutur Kuasa Hukum Ihsan yakni Yan Magandar Putra, menceritakan. (TN-04)

Related Articles

Back to top button