Pariwisata

Gubernur NTB Minta Seni Budaya dan Tradisi di Lestarikan, Ini Alasannya

Lombok Timur, Talikanews.com – Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah menegaskan bahwa pariwisata, tidak harus identik dengan Laut dan Gunung saja. Tetapi, berbagai aktivitas seni budaya dan tradisi perlu diperkaya serta dilestarikan, sebagai aset wisata daerah.

Dia menjelaskan, NTB ini kaya dengan warna – warni seni budaya dan tradisi rakyat. Hampir disetiap desa wisata tersimpan potensi seni budaya dan tradisi, termasuk kerajinan tenun dan busana yang perlu dieksplore lebih lanjut.

“Prosesi Boteng Tunggul ini yang sudah berusia 8 abad adalah warisan budaya yang luar biasa, harus tetap dijaga,”ungkapnya saat menutup Event Kesenian dan Budaya Pringgasela, di Kecamatan Pringgasela Lombok Timur, Senin (16/9).

Usai menutup kegiatan, sapaan Dr Zul itu mencari tahu cerita Boteng Tunggul yang sempat didengarnya dari masyarakat setempat. Dimana Boteng Tunggul badalah sebuah tradisi sakral yang biasa digelar oleh masyarakat desa Pringgasela Kabupaten Lombok Timur NTB yang mengiringi upacara adat Gawe Desa.

Boteng sendiri berarti berdiri dan Tunggul adalah kain tenun yang dibuat pertama kali oleh tokoh tenun setempat yaitu Lebai Nursini. Kini tunggul tersebut telah berumur ± 850 tahun, yang berarti sudah berada di tangan generasi pewaris ke – 17. Tradisi ini sebagai cermin sejarah perjalanan tenun Pringgasela.

Dalam Prosesi adat Boteng Tunggul adalah kain tenun (Tunggul) yang dibikatkan pada sebuah pohon bambu petung, sehingga tampak seperti umbul umbul. Kain tunggul itu dipercaya memiliki nilai kesakralan tinggi, sehingga ada syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi ketika akan mengibarkan dalam suatu kegiatan adat gawe desa.

Begitu juga Bambu petung sebagai tiang Tunggul, selain harus diambil utuh mulai dari bagian akar sampai ujungnya, juga orang yang mengikatkan kain itu hanyalah oleh pewaris tradisi, diiringi dengan seni tradisional sasak yaitu Gendang Belek dan kesenian Rantok.

Terkait hal itu, Ketua Panitia Alunan Budaya Desa Pringgasela, Ahmad Feriawan mengatakan, masyarakat Pringgasela menganggap Tunggul ini adalah tenun Pringgasela dimana mereka sadar bahwa mereka dilahirkan dengan tenun. Sehingga harus dijaga sampai kapanpun.

Tunggul ini juga sering digunakan sebagai media pengobatan dengan memanjatkan do’a dan salawat.

Ia menceritakan bahwa Tunggul terakhir kali dikibarkan pada tahun 1979 silam, ketika pewaris dari kain ini menikah. Sejak saat itu, masyarakat sudah tidak pernah melihat tunggul dikibarkan.
Seluruh tradisi budaya yang dimiliki masyarakat, kata dia, harus dilestarikan dan pelestarian itu ada di Kebudayaan. Karena itu tahun 2020, ia berharap pemerintah daerah punya museum untuk melestarikan keragaman adat dan tradisi yang ada di masyarakat. Terlebih Tunggul yang berusia delapan abad tersebut.

Senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Rusman. Dia mengatakan pelestarian budaya adalah bagian yang harus menjadi perhatian. Budaya sebagai cermin dari masyarakat.

“Ini menjadi perhatian kami di dinas dikbud, bagaimana kedepannya kita bisa mencari format yang baik sehingga budaya yang dimiliki betul betul lestari dan menjadi asset yang berharga,” ujarnya.

Di sekolah, jelas Rusman, kekayaan budaya NTB sudah mulai masuk sebagai pelajaran muatan lokal. Bahkan khusus untuk tenun, SMK 2 Selong membuka jurusan khusus terkait kerajinan Tenun. Ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masyarakat.

Selain upacara adat Boteng Tunggul, Alunan Budaya Desa Pringgasela, juga menampilkan beragam atraksi seni seperti fashion show kain tenun, Pameran UKM dan Tari Tenun.

“Kerajinan tenun sendiri menjadi khas Pringgasela. Produk tenun yang dihasilkan tak hanya beredar di Nusantara, tapi mulai menembus pasar dunia,” pungkasnya. (TN-04)

Related Articles

Back to top button